-->

Kronik Toggle

Bedah Buku “Menyulut Lahan Kering Perlawanan” ala Arek Surabaya

Buku itu tak nyata-nyata hadir di tengah acara bedah buku digelar malam ini (20/10/09). Diantara orang yang hadir di  Gedung Merah Putih, Balai Pemuda, Surabaya itu mungkin tak genap sepuluh orang yang pernah melihat wujud buku “Menyulut Lahan Kering Perlawanan, A Tribute to Andi Munajat” yang ditulis keroyokan oleh FX Rudy Gunawan, Nezar Patria, Wilson, dan Yayan Sopyan ini.

Jangan membayangkan sebuah acara bedah buku seperti yang lazim diadakan. Ada moderator, pembicara,audience, buku, dan terkadang hadir pula penulisnya. Juga jangan bayangkan sebuah alur diskusi yang diawali pemaparan lalu tanya jawab. Ini bedah buku dengan seni ala arek Surabaya.

Lintas Merah Generasi, sebuah forum komunikasi aktivis eks pergerakan 90an, menggagas bedah buku terbitan Spasi &VHR Book ini dengan format performance art. Ini adalah sebuah upaya lain untuk membedah ruh dari buku sehingga isinya bukan hanya sekedar dibaca tekstual namun bisa menggerakkan pembacanya untuk melakukan sesuatu seperti tertulis dibuku.

Performance Art itu diawali dengan membungkus beberapa orang eks ektivis 90an kedalam sebuah plastik panjang dengan dua bintang terlukis diatas kepala masing-masing di depan pintu masuk. Itu adalah simbol semangat perlawanan yang meski dibungkam akan tetap melawan. Pengunjung yang hadir diberi masing-masing 1 hio(dupa) dan membakarnya perlahan. Ini adalah perlambang kesucian sebuah gerakan perlawanan terhadap ketidakadilan yang didukung seluruh rakyat.

Kemudian aktivis yang dibungkus itu diletakkan diatas sebuah piring raksasa sebagai simbol bahwa aktivis sekarang telah disibukkan dengan kewajiban masing-masing, salah satunya adalah menghidupi keluarga. Namun semangat perlawanan itu mesti tetap terpelihara agar ketika mencari penghidupan mereka tak lupa pada cita-cita dan idealismenya ketika melakukan perlawanan semasa menjadi aktivis gerakan. Dupa-dupa diletakkan diatas piring, petanda bahwa rakyatpun merestui perjuangan mereka untuk keluarga, dengan pesan agar tak melupakan kepentingan mereka.

Mereka digiring masuk ke arena pertunjukan. Lampu dinyalakan, panggung digelar. Kusnan, menampilkan mini teaternya, mengetik apa yang dipikirkannya diatas buku-buku yang dikerangkeng, dan memanggil  ke atas panggung beberapa eks esponen 90an untuk menyampaikan orasi dan kesannya terhadap Andi Munajat atau semangat perlawanan yang disebarkannya. Turut hadir pula dalam acara itu Tjuk Sukiadi(Pakar Ekonomi Universitas Airlangga, pendukung gerakan reformasi), Bambang Sulistomo (Anak Bung Tomo), budayawan Sidharta, calon walikota independen M Sholeh, para eks PRD, SMID, FKMS, elemen mahasiswa, OKP Cipayung, dll.

Toga Sidauruk, salah satu penggagas acara mengatakan, “Buku adalah anak-anak ruhani yang ketika dilahirkan, ia menjadi milik pembaca untuk digauli dan mendapat intepretasi. Cara arek Surabaya menyemai isi dari buku MLKP adalah dengan menyeru dan menghimpun lagi elemen yang terserak untuk kembali menjadikannya satu gerakan bersama”

“Kita dibuat lupa dan terlena dengan kondisi nyaman setelah Soeharto lengser. Kita asyik berdebat, kita hanyut dengan konsep, tapi kita berhenti dari gerakan. Kita harus tetap waspada. Karena jika sesuatu berpotensi salah dan kita tidak mencegahnya, maka kesalahan itu akan terjadi”, seru Tjuk Sukiadi diakhir orasinya (DS)

*) Foto-foto lihat disini

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan