-->

Tokoh Toggle

Bagio Fandi Sutadi:Dulang Ilmu dari Fiksi

bagioBAGI sebagian orang, novel fiksi sekadar bacaan hiburan. Namun, cerita rekaan itu berarti mendalam buat Bagyo Fandi Sutadi. Asisten I Sekkota yang baru purnatugas pada 1 Oktober lalu memaknai sebuah novel fiksi lebih dari sekadar ajang relaksasi.

Menurut Sutadi, meski rekaan, kisah novel sesungguhnya adalah potret kehidupan manusia sehari-hari. Di dalamnya bisa dipetik pelajaran berharga. ”Mungkin tak banyak yang tahu, pengetahuan yang saya dapat ini hasil dari banyak membaca novel,” ungkap Sutadi yang mengatakan sangat menikmati minggu pertama pensiunnya di rumah.

Hobi membaca novel sudah lama ditekuni Sutadi. Itu bisa dilihat dari novel-novel koleksinya yang berjubel di dalam lemari. Jumlahnya puluhan. Sutadi tak pernah menghitungnya. Kumpulan tersebut seharusnya lebih banyak lagi. Sayang, sebagian koleksinya menghilang karena dipinjamkan dan tidak kembali. ”Kalau ada yang pinjam, ya masaktidak saya pinjami. Tapi ya itu, kok tidak dikembalikan,” katanya, lantas tersenyum.

Novel-novel koleksinya itu terdiri atas beragam genre. Sebagian koleksinya adalah Kite Runner, Tetralogi Laskar Pelangi, The Romanov Prophecy, The Davinci Codes, Pelican Brief, hingga Gajah Mada. Bahkan, novel-novel fiksi fantasi -seperti Tunnels- pun dibacanya. ”Novel-novel yang sudah saya lihat filmnya biasanya tidak saya koleksi,” jelas bapak dua anak tersebut.

Di antara semua novel itu, sebenarnya Sutadi paling menyukai novel-novel bergenre hukum dan detektif. Misalnya,Pelican Brief karya John Grisham dan The Da Vinci Code milik Dan Brown. John Grisham disukai karena banyak memberikan masukan soal hukum. ”Itu berguna karena berkaitan dengan bidang saya yang banyak menangani kasus hukum,’ katanya. Nah, kisah thriller penuh teka-teki dalam Da Vinci Code memberikannya banyak pelajaran, terutama dalam menghadapi orang. ”Pelajaran berharganya, jangan buru-buru menilai orang dari luarnya,” tutur Sutadi.

Kesibukan membuat Sutadi tak punya banyak waktu untuk melahap novel-novel itu. Namun, Sutadi selalu mengusahakan membaca saat ada waktu senggang. Misalnya, ketika di bandara atau saat perjalanan di dalam pesawat atau kereta. ”Maka, saya tak pernah lupa membawa satu novel dalam tas. Untuk njagani kalau ada waktu senggang itu. Daripada nganggur, mending membaca,” tegasnya.

Pada weekday, Sutadi menyempatkan membaca novel tersebut sesaat sebelum tidur. Kadang juga saat ke kamar mandi. Lho, kok bisa? ”Wah, ini justru tempat membaca paling seru,” ujar Sutadi, lantas tertawa lebar. Suami Endang Sri Mulatsih itu menyatakan bisa berlama-lama di kamar mandi kalau novel ada di tangan. Bahkan, sang istri sampai harus mengingatkan bila Sutadi keasyikan membaca di kamar mandi. ”Ayo Pak, sudah siang lho,” kata Sutadi menirukan ucapan istrinya.

Untuk menyelesaikan membaca satu novel, rata-rata Sutadi membutuhkan waktu dua hari hingga sepekan. Bergantung seberapa menarik novel tersebut. Bila Sutadi menyukai jalan ceritanya, hanya dalam dua hari dia membacanya hingga tuntas. Tapi, bisa juga hingga berminggu-minggu Sutadi belum menamatkannya. Bahkan, ada juga yang hingga dua bulan belum tuntas dibaca. ”Kalau kurang sreg, saya membacanya pelan-pelan,” ujarnya.

Karena sekarang Sutadi punya banyak waktu senggang, dia akan lebih banyak membaca. Sutadi juga ingin mengisi waktu dengan menulis. Namun, untuk menulis cerita fiksi, Sutadi belum pede. ”Ternyata, tidak gampang mengarang cerita. Saya tidak terlalu pede melanjutkannya,” ungkap Sutadi. (ign/nda)

Tiga Program di Masa Pensiun

OKTOBER ini masa Bagio Fandi Sutadi purnatugas sebagai asisten I Sekkota. Saat ditemui di kediamannya di kawasan Barata Jaya, pada Jumat lalu (2/10), pria yang akrab disapa Sutadi itu baru merasakan hari pertama masa pensiun. ”Kegiatan harian saya masih relatif seperti dulu. Belum terasa bedanya,” ucap Sutadi ketika ditanya tentang hari perdana masa rehatnya itu.

Sutadi bangun pukul 04.30 seperti biasanya. Setelah salat Subuh, dilanjutkan dengan kegiatan rutin membaca koran ditemani segelas kopi. Pukul setengah tujuh, pria 57 tahun itu sarapan pagi. Momen ini yang menurutnya sedikit berbeda. ”Dulu, saya biasa sarapan buru-buru karena jam tujuh harus berangkat ke kantor,” jelas pemilik kucing bernama Jelly tersebut.

Sekarang kegiatan sarapannya lebih santai. Dia bisa menikmati menu dadar telur buatan sang istri dengan sepenuh hati karena tidak terpancang waktu. Meski bisa sarapan santai, minggu ini Sutadi masih penuh kesibukan. Setidaknya, banyak undangan yang harus dipenuhi. Jumat itu saja, ada tiga undangan yang harus dipenuhi. Sutadi pun masih sibuk menjawab telepon dari beberapa kolega yang sebagian belum tahu kalau dirinya sudah purnatugas. Juga menyambut kolega yang datang ke rumah untuk perpisahan. ”Senang juga masih bisa sibuk,” katanya.

Menginjak pensiun, Sutadi merancang beberapa program yang baru dimulai minggu depan. Ada tiga program pilihan yang sudah dicanangkan. Program pertama bergabung dengan beberapa lawyer Surabaya. Kedua, menjadi konsultan untuk pembebasan tanah dan kajian kebebasan publik. Ketiga, mengurus bisnis. ”Untuk bisnis, saya ingin mempunyai usaha yang bisa dijalankan sendiri sembari menjalankan hobi membaca dan menulis,” ucapnya lantas tertawa.

Rencana lain, melanjutkan proyek penerbitan buku yang diambil dari tesisnya yang berjudul Kebijakan Perlawanan Rakyat terhadap Kebijakan Pembebasan Tanah. Sebenarnya, Sutadi sudah diminta sebuah penerbit untuk segera menerbitkan bukunya. Saat ini dalam proses editing(ign/nda)

Tentang Bagio

Nama: Bagio Fandi Sutadi

TTL: Kebumen, 4 September 1952

Istri: Endang Sri Mulatsih

Anak:

Galih Wirabumi

Ajeng Wiraswati

Sekilas tentang Hobi Baca Sutadi

> Tidak fanatik pada satu genre.

> Membaca tuntas novel dua hari hingga dua bulan, bergantung jalan cerita.

> Tempat favorit untuk membaca novel adalah kamar mandi.

Dinukil dari rubrik Life Begins at 50 Harian Jawa Pos edisi 4 Oktober 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan