-->

Lainnya Toggle

Akademisi Memang Sulit Menulis !

Oleh : Bambang Haryanto/

Ethiopia lebih berjaya dibanding Indonesia dalam hal kuantitas tulisan ilmuwannya. Dalam Essays of an Information Scientist Volume I 1962-1973 (ISI Press, 1977), ilmuwan Indonesia tahun 1972 hanya mempublikasikan 13 judul di pelbagai terbitan ilmiah dunia. Posisi kita di peringkat 87 dari 150 negara.

Amerika Serikat di peringkat pertama (92.011 judul artikel), disusul Rusia (17.209), Jepang di peringkat 7 (8.473) dan India di peringkat 8 (5.144). Posisi Indonesia jauh di bawah Malaysia (peringkat 45/105 artikel), Singapura (49/78 artikel), Filipina (56/59), bahkan keok dari negeri miskin Afrika, Ethiopia, yang berada di peringkat 84 dengan 16 judul artikel !

Realitas buram lawas di atas perlu diungkap kembali sebagai garis bawah artikel “Terbitkan atau Minggirlah” dari Agus M. Irkham di kolom ini (15/9/2009) yang berteriak : akademisi Indonesia, mana karya-karya ilmiahmu ? Tetapi, berkaca secara global, problem kurang menulisnya para akademisi itu bukan monopoli borok akademisi Indonesia semata. Robert Boice, profesor psikologi dari State University of New York dan Ferdinand Jones, profesor psikologi dari Brown University, dalam kajiannya berjudul “Why Academians Don’t Write” di Journal of Higher Education (Sept/Oktober 1984), menunjukkan bahwa aktivitas menulis yang rendah juga penyakit kronis kalangan akademisi AS. Sebab aktivitas menulis memanglah bukan hal yang sederhana bagi mereka !

Kendala umum yang berhasil disidik dalam riset mereka, antara lain, tiadanya daya dorong, momentum untuk menulis, tuntutan tugas mengajar dan administratif yang menghalangi aktivitas menulis, kekurangan waktu, macet menulis (writing block) sampai kuatnya anggapan bahwa menulis sebagai penyakit patologis. Yang paling mengentak adalah pernyataan bahwa menulis itu secara inheren memang sulit. Repotnya lagi, banyak orang meremehkan persyaratan tertentu yang diperlukan dalam kegiatan menulis.

Pertama, menulis bukan keterampilan mekanis seperti mengetik, yang merupakan aktivitas menuangkan ide ke atas kertas. Menulis menuntut persyaratan lebih dari itu, yakni keterampilan dalam menjelaskan sesuatu ide dan menjelajahi kaitan yang ada di antara pelbagai ide-ide tersebut. Kedua, kegiatan menulis menuntut perhatian amat khusus. Menulis itu melelahkan karena penulis dituntut memfokuskan perhatian secara terus-menerus ke arah sebuah pekerjaan kompleks yang digenggamnya. Kontrol diri harus dilakukan secara disiplin dan ia pun harus pula memperhatikan adanya perbedaan khusus sasarannya, yakni pembaca dan bukan pendengar. Sebab menulis secara cermat menuntut secara mencolok adanya standar yang jauh berbeda dibanding kegiatan berbicara.

Ketiga, karena keterampilan menulis umumnya sulit difahami maka para penulis seringkali menamakan menulis sebagai ritus yang sarat bumbu misteri. Kisah tingkah nyentrik sastrawan terkenal dan pelbagai rumor yang dihubungkan dengan kegiatan menulisnya, misalnya seperti tidak mampunya seorang sastrawan menulis sebelum membaui apel busuk, mendengarkan musik dangdut sampai kisah a la Victor Hugo yang harus telanjang bulat di kamar sebelum menulis, merupakan cerita yang memperkuat citra bahwa kegiatan menulis merupakan ritus yang sangar dan misterius.

Keempat, kuatnya hambatan eksternal yang juga membuat kegiatan menulis semakin terasa sulit. Misalnya, tingginya persentase penolakan untuk dimuat, lamanya menunggu pemuatan, keterbatasan pembaca media yang bersangkutan dan ancaman kritik yang membuat ciut nyali seseorang untuk menulis. Penyebab lain, menyangkut parahnya defisiensi dalam pengajaran menulis di bangku pendidikan. Keparahan itu misalnya dapat disimak dari kuatnya anggapan bahwa keterampilan menulis itu merupakan hasil belajar sendiri, atau bakat, sehingga menyuburkan asumsi bahwa penulis yang baik itu dilahirkan dan tidak diciptakan.

Hambatan sosio-kultural seperti diskriminasi terselubung untuk kalangan akademisi perempuan atau etnis/suku tertentu, kebijaksanaan redaksi yang kurang fair seperti mementingkan tulisan para kolega (KKN) dan hanya memuat tulisan yang mencocoki apa yang dianutnya, status afiliasi penulis yang kurang disukai dan makin meningkatnya persyaratan kuantitas atau jumlah tulisan yang diperlukan untuk keperluan sesuatu promosi (cum), termasuk sebagai kendala signifikan yang berpengaruh bagi yang bersangkutan dalam menulis untuk keperluan dipublikasikan.

Boice dan Jones menawarkan solusi. Antara lain, langkah demokratisasi dalam proses publikasi ilmiah merupakan salah satu alternatif yang dapat ditempuh guna menggairahkan para akademisi untuk menulis. Yakni keterbukaan keanggotaan panel keredaksian dan tinjauan (review) sesuatu jurnal ilmiah. Cara lainnya, menyediakan kolom khusus untuk memuat tulisan penulis baru dan memberikan bimbingan. Komentar redaksi dalam mengembalikan tulisan yang belum dapat dimuat seyogyanya berupa tinjauan kritis, disertai dorongan dan saran untuk perbaikan. Solusi yang tak kalah mendesak adalah upaya meningkatkan pengajaran keterampilan menulis di pelbagai jenjang pendidikan.

Tidak kalah pentingnya, hadirnya jurnal-jurnal elektronik berupa beragam situs web dan blog di Internet jelas pula menawarkan kemungkinan baru untuk mengeksplorasi kebutuhan menulis seseorang. Media mutakhir tersebut sangat mengurangi kendala yang selama ini kental mengganjal kalangan akademisi dalam mempublikasikan karyanya. Sebab kini menulis dapat dilakukan dengan gaya informal, yang menjadikan menulis menjadi lebih mudah. Juga karena tidak terbatasnya halaman yang tersedia membuat pelbagai jurnal elektronik tersebut mengendorkan keketatan sensornya dalam menerima sumbangan tulisan.

Bahkan kini seseorang dapat menerbitkan jurnal pribadinya dalam situs web pribadi (blog) di Internet, berapa pun judul yang ingin ia kehendaki. Situs-situs blog itu membuat kegiatan menulis tidak lagi elitis, ranah sebagian kecil akademisi atau ilmuwan tertentu. Media blog mendemokratisasikan semua fihak untuk mengembangkan dan menyebarluaskan gagasan dalam bentuk tertulis tanpa perlu terjerat kaidah-kaidah menulis untuk keperluan publikasi yang ketat dan sulit ditembus seperti selama ini.

*Bambang Haryanto, blogger dan penulis lepas, tinggal di Wonogiri.

3 Comments

ismail - 05. Jul, 2010 -

Blogging juga menulis kan mas???

Yang membuat akademisi males berkarya itu saya rasa rasa “kekurang pedean” yang sudah mengakar dalam benaknya. Sebab mereka lebih mengedepankan “Bagaimana nanti??” tapi bukan “Nanti Bagaimana??” Berawal dari sebuah pertanyaan inilah kaum akademisi mendewakan “Hasil” dari pada “Proses”

Joko Sutarto - 07. Jul, 2010 -

Saya jadi ingat dengan kasus plagiat yang pernah dilakukan seorang doktor dari ITB. Faktanya di Indonesia, sekelas profesor doktor saja di Indonesia masih banyak yang hanya punya satu karya ilmiah, yaitu disertasinya itu saja. Kawan saya terang-terangan pernah menulis dan menyebutnya sebagai satu karya ilmiah sampai mati. Juga, minimnya karya tulis mereka dipublish di jurnal ilmiah internasional kredibel seperti Nature, Science, Lancet dll. Ini menjadi bukti nyata bahwa menulis belum menjadi budaya di kalangan akademisi. Benar kata Anda bahwa menulis masih dianggap sulit, padahal sekelas doktor semestinya lebih mudah menulis dibandingkan dengan orang yang hanya tamat SMA.

Atau jangan-jangan alasan yang paling mendasar memang karena malas atau malah tak mau berbagi?

bambang haryanto - 11. Apr, 2013 -

Terima kasih, Joko Sutarto. Tentang banyaknya profesor doktor di Indonesia yang hanya punya satu karya karya ilmiah,yaitu disertasinya, ada majalah satir Rusia Krokodil pernah memuat ejekan terhadap hal itu.

Disebutnya, “karya ilmiah yang bernama skripsi/tesis/disertasi merupakan karya yang terlupakan begitu penulisnya merayakan wisuda di restoran, dan yang kritis terhadap karya itu hanya rayap atau tikus-tikus, sehingga tidak ada yang mengingatnya kecuali penulisnya, sementara sang penulis itu mungkin sudah meninggal dunia.”

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan