-->

Tokoh Toggle

Ahmad Wahib dan Supremasi Keaksaraan

::Oleh Mohammad Afifuddin::

Dalam sebuah diskusi ringan di warung kopi, seorang kawan asal Madura membeberkan fakta bahwa di tanah kelahirannya, ternyata, masih banyak masyarakat yang buta huruf. Berdasar data yang dia tunjukkan, di antara 3 juta masyarakat se-Jawa Timur yang masih buta huruf, persebaran terbesarnya berada di empat kabupaten di Madura.

Seketika itu saya jadi teringat pada sosok Ahmad Wahib. Tokoh pemikir Islam (yang juga) kelahiran Madura yang merantau ke Jogjakarta untuk kuliah dan menebarkan gagasan-gagasan progresifnya. Wahib adalah salah seorang prototipe intelektual organis di Indonesia. Wahib begitu benci melihat tingkah para pemikir yang lebih suka singgah di menara gading. Wahib juga intelektual yang begitu menekankan pentingnya mengembangkan minat keaksaraan (baca-tulis) bagi umat.

Sayang, seperti Chairil Anwar dan Soe Hok Gie, Ahmad Wahib juga meninggal di usia muda. Pada 31 Maret 1973, Ahmad Wahib mengembuskan napas terakhir pada usia 31 tahun akibat ditabrak pengendara motor tepat di depan tempat kerjanya: kantor majalah Tempo.

Sebagai tokoh intelektual muda terkemuka pada zamannya, Wahib memang tidak punya banyak karya (buku), kecuali puing-puing catatan hariannya yang akhirnya dibukukan dalam Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib (LP3ES: 1981). Sebuah buku yang segaris dengan idealismenya sebagai seorang muslim yang dituntut kritis dan mencintai literasi (baca-tulis).

Katanya, ”Saya ingin menjadi muslim yang baik dengan selalu bertanya.” Bertanya bukanlah semata aktivitas yang didasari ketidaktahuan, melainkan juga berangkat atas kemengertian demi tersingkapnya lebih dalam kemengertian tersebut. Singkatnya bertanya sama saja dengan belajar. Semacam kehausan untuk mengetahui secara lebih, lebih, dan lebih lagi.

Karena itu, Wahib menegaskan, ”Membaca, membaca, dan teruslah membaca. Terserah itu buku, majalah, alam, masyarakat, dan manusia. Aku membaca bukan hanya untuk tahu. Aku juga ingin bahwa apa yang kubaca itu ikut membentuk sebagian dari pandanganku. Karena itu, aku mencerna, memeras dengan modal intelektualitas yang tersedia dan dalam pergulatannya dengan situasi. Memang aku dahaga. Dahaga akan segala pengaruh. Karena itu, kubuka bajuku, kusajikan tubuhku yang telanjang agar setiap bagian dari tubuhku berkesempatan memandang alam luas dan memperoleh bombardemen dari segala penjuru. Permainan yang tak akan pernah selesai ini sangat mengasyikkan” (halaman 45-46).

Bukan tanpa risiko. Pada masa itu, permainan berpikir ala Wahib masih dianggap kontroversial karena dinilai terlalu ”liar” dan non-mainstreaming. Bahkan oleh teman-temannya sendiri di HMI. Akibatnya, Wahib dan Djohan Effendi memutuskan mengundurkan diri dari HMI demi konsistensi pemikirannya.

Dalam kegigihannya itu, Wahib hanya ingin berpesan sederhana. Sebagai umat Islam yang telah dituntun Alquran untuk senantiasa belajar, kita tidak boleh terjebak pada diorama tekstualitas Islam masa lampau. Karena itu, kita dituntut berani berpikir, menggugat, dan menggagas sebuah format (pemikiran) baru dalam hal beragama, bermasyarakat, dan berbangsa agar tidak terkungkung dalam kejumudan, tapi justru berdialektis secara cerdas untuk merangkai sintesis-sintesis mutakhir dalam tradisi literasi yang selalu meruang dan mewaktu dalam balutan sejarah peradaban.

***
Kini, meski di wilayah yang berbeda, realitas kejahiliyahan masyarakat zaman Nabi (yang buta literasi dan tidak beradab) mewujud dalam wajah yang nyaris serupa di Indonesia. Hal itu dapat kita lihat dari kesadaran literasi yang lemah dan justru merajalelanya praktik ala ”bar-barian”. Misalnya, pertikaian antarwarga (konflik horizontal), korupsi, dan perusakan alam. Rentetan itu yang membuat bangsa ini tercabik-cabik hingga menciptakan spiral kebodohan yang terulang dari masa ke masa. Pun keprihatinan saat melihat realitas sesungguhnya kehidupan mayoritas umat Islam yang masih diliputi kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ketidakadilan sosial, dan perpecahan.

Misalnya, seperti disampaikan Ella Yulaelawati, direktur Pendidikan Masyarakat Depdiknas, pada akhir 2008 jumlah penduduk buta aksara di Indonesia usia 15 tahun ke atas masih 5,97 persen dari populasi penduduk Indonesia atau berkisar 9,7 juta jiwa. Pusat penyebarannya terpencar di tujuh lokasi kota di Indonesia (BeritaKota.net). Saya yakin, jumlah itu hanya fenomena gunung es. Jika ditelisik lebih mendalam, niscaya angkanya jauh lebih besar.

Tentu kondisi itu membuat kita semua prihatin. Ketika sebagian masyarakat sudah mulai mengarah pada penciptaan budaya baca lewat medium teknologi digital (e-book), ternyata masih ada masyarakat yang masih belum bisa membaca sama sekali.

Memang persoalan buta huruf (rendahnya keaksaraan) tidak bisa dilihat dengan variabel tunggal. Ada banyak faktor lain yang turut memicu jika dilihat dalam kerangka yang sistemik. Sebut saja salah satunya kemiskinan. Mereka yang buta aksara umumnya miskin, tidak berdaya, dan tidak mampu.

Karena itu, secara linier dapat disimpulkan, kebutuhan akan akses pendidikan dan kesadaran keaksaraan mustahil terpenuhi jika untuk persoalan kebutuhan dasar hidup (sandang, pangan dan papan) saja masih kesulitan. Padahal, siklus memutus kemiskinan juga ditentukan oleh tinggi-rendahnya pendidikan tersebut.

Terkait dengan itu, Wahib menulis, ”Moral itu lebih merupakan produk atau akibat daripada sebab. Karena itu, saya heran setiap mendengar pidato atau khotbah tokoh-tokoh Islam yang tekanan pembicaraannya pada moral, moral, dan moral. Seolah moral merupakan alat penyelesaian masalah. Padahal, moral adalah norma atau cita-cita dan bukan alat penyelesaian. Waktu aku memikirkan masalah ini sepulang dari Pasar Beringharjo, kulihat di pinggir jalan tak berapa jauh dariku, seorang gelandangan dengan dua anaknya yang kecil-kecil dan kurus. Amboi, mereka toh butuh beras, bukan norma-norma. Mereka merindukan bagaimana masyarakat yang sekarang ini tahap demi tahap menjadi lebih adil, lebih makmur, dan bukan orang-orang yang cuma bisa menyodorkan mimpi yang indah ten tang masyarakat adil-makmur, apalagi mereka yang hanya bisa bermimpi tentang moral” (halaman 115).

Dalam konteks itulah, menarik merenungkan catatan-catatan Wahib dalam kaitan untuk berikhtiar menegakkan supremasi keaksaraan. Tidak hanya di Madura (Jatim), melainkan di seluruh pelosok Nusantara. Semua demi menggapai derajat bangsa cultured: bangsa yang gandrung baca-tulis (literer) untuk mewujudkan peradaban progresif, kreatif, dan adil-sejahtera. Amin. (*)

*) Mohammad Afifuddin, bergiat di Sense of Aufklarung Community Jember

Dinukil dari rubrik Dibalik Buku, Jawa pos, edisi 4 Oktober 2009

3 Comments

Sigit Budhi Setiawan – Tegalboto Jember - 10. Okt, 2009 -

Kalau saya orang asing, dan yang menulis adalah juga bukan orang Indonesia, mungkin saya akan takjub dengan tulisan ini. Namun pemahaman penulis diatas tentang keaksaraan sangat anti multikultural, mungkin dia orang Belanda bukan orang Jember, jadi membuat kesimpulan tentang keberaksaraan dengan seenaknya.

Harus dipahami, bahwa tuisan dan huruf romawi adalah bukan satu-satunya ukuran keberadaban dan keberaksaraan, kalau ukurannya adalah huruf romawi macam penulis katakan, tentu kolonial sekali.

hurup arab pegon, jawi, dsb adalah salah satu keberaksaraan Indonesia, jadi bukan hanya romawi. Orang-orang madura, riau, sumatera dsb memang selalu dikambinghitamkan sebagai orang buta hurup, bodoh, tidak beradab, tertinggal hanya karena mereka menggunakan literasi arab pegon dsb. Negara pun lewat pendidikan, pemilu dan televisi mengajarkan semangat antimultikultural ini. Apakah ada pemilu buat orang buta hurup, orang yang menulis dan membaca dalam arab pegon?

Mohon jgn jadi orang asing kalau berpendapat tentang Indonesia, Indonesia luas bung, tidak sesempit pandangan bule yang kau asup dari buku2. Turunlah ke bumi dan liat Indonesia

IBOEKOE - 10. Okt, 2009 -

Menarik pandangan Sigit ini. Justru Nusantara atau Negeri di Bawah Angin inilah projek keberaksaraan begitu memukau dipraktikkan. Premis ini bisa dibuktikan bagaimana eksperimen huruf, bahasa, terjadi di banyaka kalangan. Nyaris tak ada bangsa yang demikian kaya praktik keberaksaraannya…. Keragaman huruf2 dalam masyarakat adalah indikator yang tak terbantahkan…. Dan satu lagi, Nusantara adalah kawasan yg sangat terbuka untuk praktik2 itu….

Sigit Budhi Setiawan – Tegalboto Jember - 10. Okt, 2009 -

Maaf mas mimin yang reply saya yang dibawah yang mas acc ya

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan