-->

Tokoh Toggle

WS Rendra: Terbang, Terbanglah Setinggi2nya Kau si Burung Merak!

Pada 6 Agustus 2009 pukul 10 di RS Mitra keluarga Depok Jakarta, si Burung Merak melesat ke langit tanpa batas. Ia kini terbaring, RIP. Padahal tanah kubur Mbah Surip yang dimakamkan di rumahnya belum liat bener. Masih merah, masih gembur.

Satu persatu pekerja kebudayaan kreatif itu pergi. Satu persatu mereka menunaikan tugas. Yang terkenang adalah daftar bukunya yang terus-menerus dibacakan.

Willibrordus Surendra Broto, atau yang lebih akrab dipanggil WS Rendra “Si Burung Merak,” lahir di kampung Jayengan Solo pada hari Kamis 7 November 1935 pada pukul 5.05 petang. WS Rendra mulai menulis sajak sejak masih di kelas dua Sekolah Lanjutan Atas di Solo.

WS Rendra petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya banyak menghiasi berbagai majalah, seperti, Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.

Drama pertamanya, Kaki Palsu, dipentaskan ketika ia masih duduk di bangku SMP. Sedangkan Orang-Orang di Tikungan Jalan, yang diterbitkan semasa Sekolah Lanjutan Atas, adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta.

Prof. A. Teeuw, dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya, lanjutnya, terlihat bahwa Rendra mempunyai kepribadian dan kebebasan berkreasi tersendiri.

Pada tahun 1961 Rendra mendirikan Studi Grup Drama Yogya di Yogyakarta. Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi lagi ke Amerika Serikat. Ketika kembali lagi ke Indonesia (1968), ia membentuk kembali grup teater yang bernama Bengkel Teater. Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.

WS Rendra dikenal aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).

Kumpulan puisinya yang pernah terbit antara lain; Balada Orang Tercinta (1956), Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), Disebabkan oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993), Perjalanan Bu Aminah (1997), dan Mencari Bapak (1997).

Naskah dramanya antara lain; Orang-orang di Tikungan Jalan (1954), SEKDA (1977), Mastodon dan Burung Kondor (1972) , Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama), Macbeth (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama), Oedipus Sang Raja (terjemahan dari karya Sophokles, aslinya berjudul “Oedipus Rex”), Kasidah Barzanji, Perang Troya Tidak Akan Meletus (terjemahan dari karya Jean Giraudoux asli dalam bahasa Prancis: La Guerre de Troie n’aura pas lieu). (Wahmuji)

1 Comment

Satriyadi - 12. Mei, 2010 -

Biarpun tanggapan ini telat, saya ingin urun apresiasi bahwa Rendra adalah seorang humanis yang menjadi saksi zaman bahwa orang-orang penting di negeri ini banyak yang menginjak-injak hak orang kecil. Dalam sajak-sajak protesnya, meskipun ada yang menyebutnya sebagai puisi pamflet, saya banyak mendapat informasi betapa negeri ini telah diberaki para cukong, mengabaikan nasib pendidikan anak bangsa, dan tidak peduli tentang bagaimana nasib negeri ini di masa depan. Orang-orang senang memakai topeng untuk meraih ambisinya, nafsunya. Korupsi telah menjadi gizi yang sehat untuk menghidupi kehidupannya di dunia. Saya hormat kepada Rendra meskipun dia tak pernah meraih nobel. Biarlah anak-anak negeri yang tersingkirkan dan terhinakan memberikannya piagam kemanusiaan.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan