-->

Lainnya Toggle

Writer’s Block: Lubang Cacing

http://ekakurniawan.com/blog/writers-block-bagian-2-lubang-cacing-94.php
Writer’s Block, Bagian 2: Lubang Cacing
8-03-2008 · 11 Pesan
+ Writer’s Block Bagian 1: Jalan Belukar
Foto oleh: miss pupik, Some rights reserved.
Dalam menyikapi writer’s block, saya selalu merujuk kepada sebuah pepatah lama: sedia payung sebelum hujan. Ya, menurut saya, cara terbaik untuk menghindari writer’s block adalah persiapan yang memadai. Jika payung kita anggapkan sebagai perkakas menghindari hujan; dalam bayangan saya, tentu ada juga perkakas yang dibutuhkan seorang penulis ketika hendak menulis. Perkakas inilah yang saya pikir barangkali bisa membebaskan diri kita dari writer’s block.
Pertama-tama, setelah beberapa kali menderita writer’s block ini, saya selalu menghindari diri menulis saat saya belum tahu apa atau bagaimana saya akan menulis. Bagi saya jauh lebih mudah untuk duduk dan memikirkan gagasan tulisan sebelum menghadapi layar komputer. Jika otak saya tidak cukup memadai (karena lelah, misalnya) untuk membayangkan apa yang akan saya tulis, saya ambil kertas dan membuat catatan.
Paling tidak ada tiga hal yang selalu harus saya ketahui sebelum menulis: permasalahan yang hendak ditulis, perkembangan permasalahan tersebut, dan tentu saja, bagaimana menyelesaikan permasalahan itu. Ketiga resep itu berlaku untuk tulisan apa pun. Cerita pendek, novel, makalah, bahkan mungkin sekadar tulisan di blog. Tiga hal ini saya anggapkan sebagai perkakas dasar untuk saya bawa ketika menulis. Kalau sudah mengetahui hal ini, saya percaya, delapan puluh persen tak akan ada writer’s block.
Meskipun begitu, tentu selalu ada dua puluh persen yang tak terduga! Tak jarang terjadi, penulis yang paling siap pun, tiba-tiba macet di tengah perjalanan. Terjebak di tengah keruwetan yang diciptakannya sendiri, dan satu-satunya cara untuk membebaskan diri, hanyalah menciptakan sejenis lubang cacing yang bisa membawa kita keluar dari sana.
Sejauh yang saya alami, ada beberapa titik dimana saya terjebak tak bisa melangkah lebih jauh:
1. Paragraf Pertama
Benar, paragraf pertama selalu merupakan sandungan pertama yang serius. Jika mengibaratkan tulisan kita sebagai toko, maka paragraf pertama adalah senyum sang pelayan. Senyum itu harus begitu tulus, tidak dibuat-buat, dan tentu saja tidak murahan. Karena demikian banyak tuntutan, ya, akhirnya sulit pula untuk dikerjakan. Saya punya kebiasaan menengok sepuluh atau dua puluh buku, hanya untuk meneliti paragraf pertamanya, dan mencoba memahami mengapa paragraf mereka begitu menarik, begitu membuat saya ingin membaca lanjutannya. Kadang-kadang saya berhasil mencontek salah satu dari mereka, mengubahnya sedikit, dan jadilah paragraf pertama saya yang tampak orisinil. Saya pikir ini trik yang sangat halal.
2. Klise
Sering terjadi, saya sudah menulis belasan halaman, atau bahkan puluhan halaman, dan tiba-tiba kehilangan semangat untuk melanjutkannya. Hmm, jika itu terjadi, biasanya saya langsung curiga bahwa saya telah menulis sesuatu yang membosankan. Sebelum pembaca merasa bosan dengan sebuah tulisan, pada dasarnya rasa bosan itu dengan mudah bisa dirasakan terlebih dahulu oleh seorang penulis. Namun ya, hanya sedikit penulis yang mau mengakui tulisannya membosankan. Bagi saya, jika saya merasa apa yang saya tulis sudah mulai membosankan, kecurigaan saya berlanjut dengan kewaspadaan adanya klise.
3. Tercerabut dari Tulisan
Karena satu atau banyak hal, sering seorang penulis harus meninggalkan sebuah tulisan di tengah jalan. Ketika ia kembali lagi ke tulisan itu, ia malah bingung dengan apa yang sedang ditulisnya. Writer’s block sering muncul pula karena hal ini. Bagi saya, itu ibarat kita tercerabut dari sebuah tulisan, dan kita kehilangan sentuhan baik dengan atmosfirnya, maupun dengan karakter-karakter di dalamnya (jika itu karya fiksi). Satu-satunya cara yang biasa saya lakukan, saya mencetak seluruh yang sudah saya tulis. Lalu membacanya berkali-kali, kadang-kadang sambil mengoreksinya, sampai saya mulai masuk kembali ke atmosfir tulisan tersebut. Biasanya menjadi lebih mudah kalau saya meninggalkan catatan apa yang belum sempat saya tulis, sebelum sebuah tulisan saya tinggalkan untuk sementara. Semacam remah yang kita tinggalkan untuk jalan pulang …
4. Tersesat
Dan adakalanya, meskipun saya sudah memiliki rancangan mengenai apa yang akan saya tulis, di tengah jalan tiba-tiba saya menemukan sejenis jalan yang lebih asyik. Saya meninggalkan jalan raya yang telah saya kenali, untuk tersesat di sebuah jalan yang elok namun tak menentu. Jika ini terjadi, ada dua kemungkinan yang bisa saya lakukan. Pertama, kembali ke jalan semula. Kedua, mencoba membuat peta baru, dalam arti, membangun rancangan tulisan baru yang didasarkan atas penjelajahan yang baru itu. Tentu saja ini hanya mungkin jika saya tahu bahwa saya sudah tersesat!
Sejauh ini, itulah yang sering terjadi pada saya. Ke depan, saya yakin banyak perkara lain yang bisa membuat seorang penulis terjebak di dalam writer’s block. Sejauh yang saya pahami, writer’s block dalam berbagai bentuk dan penyebabnya, hanya bisa diatasi oleh kesadaran bahwa kita tengah mengalami writer’s block dan bersiap-siap untuk mengakui bahwa kesalahan pertama-tama datang dari diri sendiri.
Selebihnya? Saya ingin mengutip pernyataan William Faulkner, “I only write when I am inspired. Fortunately I am inspired at 9 o’clock every morning.” Artinya? Ya, jangan maksa. Kalau sedang tak ingin menulis, tak perlu menulis. Itu saja.

Oleh Eka Kurniawan

Dalam menyikapi writer’s block, saya selalu merujuk kepada sebuah pepatah lama: sedia payung sebelum hujan. Ya, menurut saya, cara terbaik untuk menghindari writer’s block adalah persiapan yang memadai. Jika payung kita anggapkan sebagai perkakas menghindari hujan; dalam bayangan saya, tentu ada juga perkakas yang dibutuhkan seorang penulis ketika hendak menulis. Perkakas inilah yang saya pikir barangkali bisa membebaskan diri kita dari writer’s block.

Pertama-tama, setelah beberapa kali menderita writer’s block ini, saya selalu menghindari diri menulis saat saya belum tahu apa atau bagaimana saya akan menulis. Bagi saya jauh lebih mudah untuk duduk dan memikirkan gagasan tulisan sebelum menghadapi layar komputer. Jika otak saya tidak cukup memadai (karena lelah, misalnya) untuk membayangkan apa yang akan saya tulis, saya ambil kertas dan membuat catatan.

Paling tidak ada tiga hal yang selalu harus saya ketahui sebelum menulis: permasalahan yang hendak ditulis, perkembangan permasalahan tersebut, dan tentu saja, bagaimana menyelesaikan permasalahan itu. Ketiga resep itu berlaku untuk tulisan apa pun. Cerita pendek, novel, makalah, bahkan mungkin sekadar tulisan di blog. Tiga hal ini saya anggapkan sebagai perkakas dasar untuk saya bawa ketika menulis. Kalau sudah mengetahui hal ini, saya percaya, delapan puluh persen tak akan ada writer’s block.

Meskipun begitu, tentu selalu ada dua puluh persen yang tak terduga! Tak jarang terjadi, penulis yang paling siap pun, tiba-tiba macet di tengah perjalanan. Terjebak di tengah keruwetan yang diciptakannya sendiri, dan satu-satunya cara untuk membebaskan diri, hanyalah menciptakan sejenis lubang cacing yang bisa membawa kita keluar dari sana.

Sejauh yang saya alami, ada beberapa titik dimana saya terjebak tak bisa melangkah lebih jauh:

1. Paragraf Pertama

Benar, paragraf pertama selalu merupakan sandungan pertama yang serius. Jika mengibaratkan tulisan kita sebagai toko, maka paragraf pertama adalah senyum sang pelayan. Senyum itu harus begitu tulus, tidak dibuat-buat, dan tentu saja tidak murahan. Karena demikian banyak tuntutan, ya, akhirnya sulit pula untuk dikerjakan. Saya punya kebiasaan menengok sepuluh atau dua puluh buku, hanya untuk meneliti paragraf pertamanya, dan mencoba memahami mengapa paragraf mereka begitu menarik, begitu membuat saya ingin membaca lanjutannya. Kadang-kadang saya berhasil mencontek salah satu dari mereka, mengubahnya sedikit, dan jadilah paragraf pertama saya yang tampak orisinil. Saya pikir ini trik yang sangat halal.

2. Klise

Sering terjadi, saya sudah menulis belasan halaman, atau bahkan puluhan halaman, dan tiba-tiba kehilangan semangat untuk melanjutkannya. Hmm, jika itu terjadi, biasanya saya langsung curiga bahwa saya telah menulis sesuatu yang membosankan. Sebelum pembaca merasa bosan dengan sebuah tulisan, pada dasarnya rasa bosan itu dengan mudah bisa dirasakan terlebih dahulu oleh seorang penulis. Namun ya, hanya sedikit penulis yang mau mengakui tulisannya membosankan. Bagi saya, jika saya merasa apa yang saya tulis sudah mulai membosankan, kecurigaan saya berlanjut dengan kewaspadaan adanya klise.

3. Tercerabut dari Tulisan

Karena satu atau banyak hal, sering seorang penulis harus meninggalkan sebuah tulisan di tengah jalan. Ketika ia kembali lagi ke tulisan itu, ia malah bingung dengan apa yang sedang ditulisnya. Writer’s block sering muncul pula karena hal ini. Bagi saya, itu ibarat kita tercerabut dari sebuah tulisan, dan kita kehilangan sentuhan baik dengan atmosfirnya, maupun dengan karakter-karakter di dalamnya (jika itu karya fiksi). Satu-satunya cara yang biasa saya lakukan, saya mencetak seluruh yang sudah saya tulis. Lalu membacanya berkali-kali, kadang-kadang sambil mengoreksinya, sampai saya mulai masuk kembali ke atmosfir tulisan tersebut. Biasanya menjadi lebih mudah kalau saya meninggalkan catatan apa yang belum sempat saya tulis, sebelum sebuah tulisan saya tinggalkan untuk sementara. Semacam remah yang kita tinggalkan untuk jalan pulang …

4. Tersesat

Dan adakalanya, meskipun saya sudah memiliki rancangan mengenai apa yang akan saya tulis, di tengah jalan tiba-tiba saya menemukan sejenis jalan yang lebih asyik. Saya meninggalkan jalan raya yang telah saya kenali, untuk tersesat di sebuah jalan yang elok namun tak menentu. Jika ini terjadi, ada dua kemungkinan yang bisa saya lakukan. Pertama, kembali ke jalan semula. Kedua, mencoba membuat peta baru, dalam arti, membangun rancangan tulisan baru yang didasarkan atas penjelajahan yang baru itu. Tentu saja ini hanya mungkin jika saya tahu bahwa saya sudah tersesat!

Sejauh ini, itulah yang sering terjadi pada saya. Ke depan, saya yakin banyak perkara lain yang bisa membuat seorang penulis terjebak di dalam writer’s block. Sejauh yang saya pahami, writer’s block dalam berbagai bentuk dan penyebabnya, hanya bisa diatasi oleh kesadaran bahwa kita tengah mengalami writer’s block dan bersiap-siap untuk mengakui bahwa kesalahan pertama-tama datang dari diri sendiri.

Selebihnya? Saya ingin mengutip pernyataan William Faulkner, “I only write when I am inspired. Fortunately I am inspired at 9 o’clock every morning.” Artinya? Ya, jangan maksa. Kalau sedang tak ingin menulis, tak perlu menulis. Itu saja.

3 Comments

teguh budi - 30. Agu, 2009 -

Tanks… kau paling tahu akan hal yang menimpaku. salam… Ilopeyu full.!!!

Ady Ahmed - 09. Des, 2010 -

Izin copas untuk share dengan teman-teman… hehehe infonya keren sih, ada solusinya… 😀

wah, saya sering kena di nomor 3 tuh… hehehe

Ririn - 22. Des, 2010 -

Bukan hanya writer’s block, tapi juga terkena Ambak nih. Trimakasih infonya.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan