-->

Lainnya Toggle

Surat untuk Ibu Negara

suratibunegaraPenulis: 151 Siswa dari SD-SMA (6 sekolah)

Penerbit: Gelaran Ibuku

Tebal: 334 hlm

Terbit Pertama: 14 Agustus 2009 (hardcover/limited edition)

Suara Sunyi dari Balik Batu

Mereka tinggal di balik himpitan batu pegunungan barisan bukit selatan. Tersudut di ujung utara Kabupaten Pacitan, sebuah kabupaten paling miskin yang menjaga perbatasan Barat Daya Provinsi Jawa Timur.

Mereka berada dalam lingkup kecamatan Nawangan yang dihimpun oleh sembilan desa. Desa-desa itu membentang di selasaran gunung batu yang berdiri angkuh dengan menara TVRI di atasnya. Gunung Brengos namanya. Dari Permukaan Air Laut ketinggiannya sekitar 1118. Gunung Brengos tak ada dalam peta geologi Gunung Api, karena ia hanya gunung batu yang tak seberapa besar. Mengapa namanya Brengos? Tak pernah ada legenda atau dongeng beredar mengenainya. Mereka, anak-anak gunung itu, adalah anak-anak petani dan pedagang. Hanya sebagian kecil saja yang orang tuanya menjadi pegawai negeri. Petani di sana menanam cengkeh, ja­he, cabai, singkong, dan padi.

Karena gunung batu, bukan gunung berapi, maka tanah di sana tak terlampau subur. Dahulu, semasa Orde Baru berkuasa, pegunungan ini di­lingkupi pohon-pohon cemara dan pinus. Jika musim peng­hujan, angin bertiup kencang, dan pucuk-pucuk cemara itu menyiulkan suara-suara berdengung yang membuat bulu kuduk berdiri. Banyak masyarakat yang mengambil getah pinus untuk dijual ke pengepul sebagai bahan korek api.

Dulu, kopi dan cengkeh menjadi tanaman yang paling menjanjikan di wilayah ini. Jika musim berbunga, kopi-kopi itu menebarkan wangi yang semerbak, mengundang lebah-lebah hutan menyeruput madunya. Karena itu, dahulu banyak sekali lebah hutan yang diternakkan. Madu murni juga menjadi barang yang mudah dicari. Saat berbuah, warna merahnya menyembul ranum dari balik daun-daun besarnya. Buah kelengkeng adalah buah kebanggaan disini.

Jika musim panen tiba, semua anak sekolah dikumpulkan di balai desa untuk menonton film G 30 S/PKI atau Cut Nyak Dien dan disuguhi satu kresek besar kelengkeng, satu orang satu kresek. Tapi cengkeh dibabat habis sekitar tahun 2000-an saat harga cengkeh jatuh ke dasar akar gara-gara permainan pasar putra Cendana, Tomy.

Perubahan iklim membuat kopi sulit berbuah bagus, kelengkeng juga tak lagi memberi hasil panen melimpah. Desa ini meredup seiring tenggelamnya kerajaan Cendana. Tanah subur dan udara dingin dahulu membuat aneka bunga bertumbuh, kupu-kupu pun membiak dan menebar warna beragam saat musim hujan beranjak pergi. Pohon-pohon besar menjadikan sumber air berlimpah, selalu ada ceruk sumber air yang menjadi danau kecil untuk mandi penduduk sekitar, mereka menyebutnya ‘kali’ (sungai). Sungai-sungai kecil pun mengalirkan air jernih dengan ikan-ikan kecil yang tampak di dasarnya.

Namun, pemandangan indah itu, sepuluh tahun terakhir memudar. Pinus-pinus menghilang. Setelah Bapak Pembangunan lengser keprabon, pinus-pinus itu dijarah hingga gunung-gunung batu itu menjadi tandus, sumber air menyusut, sungai mengering, bunga enggan tumbuh, kupu-kupu jarang menampakkan diri, lebah tak lagi mau singgah. Dua-tiga tahun terakhir penduduk mulai lagi menanam pinus, entah karena rindu desau pucuk pinus atau karena ingin menanam investasi masa depan, karena harga kayu pinus cukup menjanjikan.

Musim hujan adalah musim yang paling tak bersahabat di sini. Kabut tebal akan menutup pandangan hingga tak lebih dari sepuluh meter. Air hujan membuat jalan-jalan di perkampungan menjadi becek dan licin. Adalah pemandangan biasa melihat anak-anak sekolah dengan kaki telanjang dan sepatu tersimpan dalam tas kresek.

Jika hujan terlampau lebat, sekolah-sekolah akan sepi, banyak anak tak masuk, bukan hanya karena hujan dan petir yang menyambar-nyambar menjadi penghambatnya, tapi licin jalan yang mereka lalui lebih berbahaya bagi nyawa mereka. Sekali tergelincir, jurang menganga sudah menanti. Juga tak aneh, jika di sekolah semua siswa dan guru akan mengenakan jaket tebal dan penutup kepala karena hawa dingin yang menusuk tulang.

Masa Orde Baru adalah masa gemilang bagi kawasan ini. Semasa itu ada putra daerah yang duduk di Lembaga Perwakilan Rakyat. Mereka adalah Budi Harjono dan adiknya Roto Suwarno, anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia. Dua orang ini adalah anak kepala desa semasa perang gerilya.

Sejarah mencatat bahwa di daerah inilah Panglima Jenderal Soedirman bersembunyi dari incaran Belanda dan mendirikan markas Tentara Perang Republik Indonesia dalam perang gerilya. Rumah bekas markas itu kini menjadi aset wisata desa Pakisbaru. Tersembunyi di balik bukit Gandrung, rumah itu kini sering dikunjungi wisatawan sejarah.

Di atas bukit Gandrung, berdiri megah patung Jenderal Soedirman setinggi hampir 4 meter di panggul monumen dengan 17 tangga di teras atas, 8 di teras kedua, dan 45 di teras bawah. Di pelataran monumen ada diorama perjuangan kemerdekaan mengitari sebuah tiang bendera tinggi menjulang.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan pembangunan tahap pertamanya beberapa bulan lalu. Semenjak kedatangan SBY, desa ini menjadi sorotan dan sering dikunjungi wisatawan lokal dari daerah sekitar. Secara geografis, daerah ini memang berbatasan dengan provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Wonogiri.

Pembangunan monumen kebanggaan warga itu memakan waktu 25 tahun lebih. Semasa Budi Harjono dan Roto Suwarno masih hidup, pembangunannya dikelola Yayasan keluarga, tapi tersendat-sendat, hingga terbengkalai bertahun-tahun setelah mereka berdua wafat. Dahulu, semasa Orde Baru, banyak sekali pejabat berkunjung ke desa ini. Entah kunjungan kenegaraan atau hanya sekadar menyepi dari kebisingan Jakarta. Nama-nama seperti Moerdiono, Emil Salim, Soelasikin Moer Pratomo, Sudharmono, Harmoko, Rudini, BJ Habibie,dan beberapa nama lain adalah nama-nama yang pernah singgah.

Karena itu, di sini berdiri sebuah losmen kecil yang cukup mewah untuk masa itu, Hotel Purna Yudha namanya. Berdiri juga balai desa sungguh megah untuk ukuran balai desa. Dengan dua lantai, kursi fiber, ruang rias, panggung pertunjukan, dapur dan toilet mewah, serta ruangan gamelan yang ditutup kaca. Di sini pejabat-pejabat itu disambut dengan kesenian rakyat Wayang Orang. Juga ada lapangan tenis untuk pejabat-pejabat itu. Sekarang lapangan itu sudah tak berfungsi, rusak dimakan usia. Kehadiran Presiden SBY ke desa ini beberapa waktu lalu seperti membangkitkan lagi kebanggaan penduduk des­a ini pada desanya yang nyaris mati suri pasca Orde Baru.

Meski bukan asli warga kampung mereka, putra Pacitan ini memberi semangat untuk bangkit dan menciptakan lagi kejayaan masa lalu itu. Jika semasa Orde Baru anak-anak banyak mendapat kiriman buku-buku inpres, maka di masa SBY ini mereka mempunyai harapan yang sama. Jika semasa Orde Baru sekolah-sekolah dibangun megah, di masa SBY ini keinginan itu bermunculan pula.

Surat anak-anak dari balik batu ini adalah cerminan bagaimana kebanggaan dan harapan itu menyembul dari manusia-manusia lugu itu. Putra daerah memimpin negeri, memberi inspirasi, kebanggaan, dan semangat anak-anak untuk bergiat belajar dan meraih mimpinya. Kecintaan mereka pada tanah kelahiran tempat ibu mereka melahirkan dan membesarkan mereka terpupuk. Maka surat ini mereka sampaikan pada Ibu Negara yang mendampingi sang putra daerah memimpin Negeri.

Dengan secuil harapan agar Ibu mendengar suara hati mereka yang terselip di balik batu-batu, mereka ingin menyampaikan kondisi sekolah mereka yang bocor dan jalan ke sekolah yang licin saat hujan, kerinduan mereka pada buku bacaan, jeritan hati mereka karena orangtua yang terhimpit kemiskinan, asa mereka untuk mengenyam pendidikan tinggi, hingga kebanggaan mereka pada putra daerah yang menjadi Presiden.

Mereka, dengan keluguan dan kemampuan menulis yang minim, berusaha menyampaikan keinginan dan harapannya dengan ketakziman dan penghormatan sebisanya. Untuk tanah kelahiranku, untuk anak-anak desa di balik batu, untuk Ibu Negara, untuk impian yang tak boleh mati, surat-surat ini terhaturkan ke hadapan pembaca. (Diana AV Sasa)

3 Comments

Yopi Taufan Lakstiyawan - 17. Agu, 2009 -

LANJUTKAN Perjuanganmu………. Ibu Negara tak hanya Membaca dan Mendengar pasti kan Ulurkan Tangan dan Pijakkan Kaki disana……

Bambang Haryanto - 24. Agu, 2009 -

Saya senang ikut menjadi bagian dalam acara peluncuran buku unik ini. Semoga adik-adik Pakis Baru tidak berhenti dalam menulis, baik menulis surat atau pun menulis kreatif lainnya. Semoga perpustakaan baru yang ada dan dorongan dari para guru mampu membuat kegiatan menulis sebagai petualangan intelektual yang menggairahkan bagi mereka.

Jangan lupa, sebagai penggerak komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia, adik-adik itu semoga juga diajak berani untuk menulis surat-surat pembaca di media massa. Begitu dimuat, pasti akan muncul dorongan dahsyat untuk menulis dan menulis lagi.

Semoga buku ini menjadi bom virus yang mencerahkan bagi anak-anak Indonesia. Salam saya dari Wonogiri.

Sunaryo - 08. Sep, 2009 -

Memang begitulah keadaanya tdk ada yang dibuat2 atw rekayasa’ smoga Ibu negara mendengar kepedihan anak2 di desa Pakis Baru dan sekitarnya’

terima kasih dari warga desa Jeruk. Bandar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan