-->

Literasi dari Sewon Toggle

Surat dari Presiden Rakyat Epistoholik

Indonesia Buku mendapatkan surat dari Wonogiri. Dikirim oleh Presiden Republik Kaum Epistoholik Indonesia, Pak Bambang Haryanto. Pak Bambang adalah penulis fanatik surat pembaca. Baginya, surat pembaca itu sangat dahsyat mempengaruhi opini publik dan mengubah kebijakan pemerintah. Dan ketekunan dan dedikasi luar biasa itu kita bisa lihat dari waktu di mana Pak Bambang mulai menekuni dunia surat pembaca: sejak 1980-an.

Ini adalah salah satu suratnya buat Indonesia Buku dan para pelaku di dalamnya seusai bedah buku Kepada Yth: Ibu Negara di Istana Merdeka dan peresmian berdirinya Gelaran Buku Pakis Pacitan. Terimakasih banyak atas suratnya Pak Bambang. Indonesia Buku terus memberi dukungan sepenuh-penuhnya kepada kaum fanatik yang menulis surat pembaca untuk kehidupan kota yang lebih baik.

Dear Gus Muh, Muhidin M Dahlan

Dear mBak Diana AV Sasa,

Salam sejahtera. Wonogiri dulu terkenal sebagai sarang penderita sakit beriberi. Si penderita kakinya bengkak, akibat kekurangan gizi. Kini Wonogiri, berkat virus Anda berdua, terserang demam gigantism. Sakit Godzilla. Size does matter, walau tak terkait dengan kreativitas a la Mak Erot. Karena terkait dengan buku.

Kredo Gus Muh saat mengobrol di Kajen, lalu saya temui di Para Penggila Buku, tentang buku yang tak mampu rubuh dengan dorongan jari, sungguh-sungguh menggoda saya. Buku-buku Ibuku nampaknya bila hendak didorong jatuh harus juga menyebabkan raknya rubuh. Atau bahkan perpustakaanya  juga wajib  ikut runtuh.

Semua itu terjadi berkat POD atau BID, bukan ? Saya pernah membaca ulasannya di Kompas dan memperoleh brosur [tak komunikatif] dari Kanisius. Masih blur. Ketika dalam perjalanan Kajen-Pakis Baru, ketika mBak Diana menyebutkan POD, gambarnya semakin jelas : saya mulai menemukan jawaban. Ditambah kredo buku anti rubuh dari Gus Muh, maka lampu-lampu baru di kepala saya tentang buku menyala. Atau menyala lagi. Saya menemukan jalan.

Dalam perjalanan pulang diantar Bapak, diantara kelok-kelok tajam jalan Pakis Baru-Purwantoro [10 menit pertama, kayaknya saya akan mabuk, untung saya ingat isi dekoder, cara penyajian buku secara unik, tentang teknik shiatsu, sehingga engga jadi muntah mengotori jok mobil], saya sempat bilang ke Bapak :

“Saya juga suka buku, tetapi ketika bertemu Gus Muh dan mBak Diana, saya rasanya masih berada jauh di tepian. Tak mengira betapa buku bagi mereka (Anda berdua)  sudah menjadi sebuah kegilaan yang mendalam. Ya membaca, ya memproduksikannya . Bukan main !”

Hitung-hitung, sudah 22 tahun “arwah buku” itu tidur panjang dalam hidup saya. Tahun 1987, terbit dua buku kumpulan lelucon saya. Tahun 2004, naskah buku sepakbola saya ditolak Galang Press (OK, tak apa). Lalu diumpetin satu setengah tahun, mereka bilang hilang, di gudang Tiga Serangkai Solo. Diterbitkan tidak, dikembalikan juga tidak.

Sesudah saya tulis di surat pembaca, naskah itu ditemukan, lalu mereka  kembalikan dengan imbalan sekadarnya. Saya lalu jadi “kanji” alias traumatis dengan penerbit.

Syukurlah, setelah berkemah di kedinginan Pakis Baru, selain menyemangati anak-anak Pakis Baru, Pacitan, untuk melanjutkan kegiatan menulis sesudah peluncuran buku mereka (foto), ketemu Anda berdua dan cerita-cerita POD/BID, semoga kini arwah buku dalam diri saya itu bisa hidup lagi. Terima kasih.

Oh ya, mBak Diana, di Para Penggila Buku, Anda belum atau tidak banyak menyebut Wonogiri. Apakah di blog-blog Anda, cerita Anda saat di Wonogiri, ada ? Suatu saat saya pengin menulis di blog saya, The Morning Walker (wonogirinews24.blogspot.com), cerita tentang pertemuan saya dengan Anda, yang sungguh ajaib, membuka mata saya betapa sedikit-banyak Wonogiri punya andil bagi diri karier literasi Anda sampai saat ini. Wonogiri harus mendengar dan membaca hal ini.

Seperti diri saya sendiri sebagai blogger, banyak orang Wonogiri tak tahu akan hal itu. Tak apa. Oleh karenanya, walau nantinya tak dibaca ribuan orang, saya ingin memperoleh cerita dari Anda tentang tahun-tahun di Wonogiri Anda. Saya ingin meneteskan keluhuran ini, lewat blog, kepada wong Wonogiri terkait penemuan tak terduga saya dengan diri Anda.

Karena untuk blog, silakan sebut saja banyak sekali nama,  baik terkait dengan SD 3, SMPN 1, SMAN 1 (?), teman-teman sekelas dan atau guru, selain orang terdekat Anda dalam ranah literasi, Suster Anthony atau pun tentang mBah Iman Moestari. Ga buru-buru, mBak Sasa. Kirim ceritanya, ketika Anda tak lagi sibuk saja. Matur nuwun.

Kabar lain, masih ingat nama Khoe Seng Seng ? Penulis surat pembaca yang terancam dihukum itu, penerima Tasrif Award 2009 itu, kini DILAPORKAN LAGI oleh eksekutif pengembang, PT Duta Pertiwi,  yang juga menjeratnya dengan pasal-pasal pencemaran nama baik LAGI. Dulu Pak Khoe diperiksa langsung oleh Mabes Polri, kini oleh Polda Metro Jaya. Bagian yang memeriksa dia adalah bagian KEAMANAN NEGARA.

Seharian, 16/8/2009, Pak Khoe mengirimkan SMS, cerita bahwa segala pemeriksaan itu adalah upaya membuat ia menyerah, bungkam selamanya, sehingga tidak menjadi inspirasi bagi ribuan penyewa properti (dari pengembang itu) lainnya untuk ramai-ramai mengungkapkan kecurangan-kecurangan si pengembang bersangkutan. Perkembangan ini telah saya kabarkan ke AJI, pemberi award, dan juga teman-teman di milis EI.

Well, Gus Muh dan mBak Diana, sekian dulu kabar dari Wonogiri. Saya belum bisa menulis di blog lagi. Esok, didaulat jadi pembicara dalam acara peluncuran blog di Solo, www.mediakeberagaman.com. Mau cerita ujaran Chris Anderson tentang si buntut panjang diramu kata-kata Pak Samuel Huntington bahwa dalam dunia politik kontemporer yang kini sedang membara adalah, “the age of muslim wars.”

Agar tak nampak sangat vakum, ya, saya menulis obrolan ini pula untuk Anda berdua. Salam untuk Eri Irawan di Surabaya. Kok aku engga dicantumin di berita Ibuku 🙁 ?

 Salam episto ergo sum,

Bambang Haryanto

1 Comment

bambang haryanto - 04. Sep, 2009 -

Ralat berat : terima kasih blog saya Kubu Kutu Buku bisa ikut dipajang di situs ini. Tapi mohon, nama saya ya jangan diganti dengan “Bambang Heryanto” dong. Kasihan nanti Google, bila ia dipaksa untuk menemukan nama asli saya, Bambang Haryanto. Terima kasih.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan