-->

Kronik Toggle

Sirikit Syah:Menulis dengan Kecepatan Lidah

sirikitBeberapa orang ketika membaca tulisannya mengira ia adalah seorang laki-laki. Dalam forum Halte Sastra II yang digelar Dewan Kesenian Surabaya, Sabtu (8/8/09) lalu, dua orang mengakui itu. Namanya terilhami Ratu Sirikit yang datang ke Surabaya saat dirinya dilahirkan. Hernani Sirikit, demikian kemudian ia menyandang nama sebelum lebih dikenal dengan nama pena Sirikit Syah.

Sirikit Syah adalah perempuan yang cukup dikenal di dunia komunikasi Jawa Timur. Kronik perjalanan karir media masanya meninggal jejak di Koran Surabaya Post, The Jakarta Post, The Brunei Times, media televisi RCTI, hingga SCTV. Namanya juga tercatat sebagai Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur dan pendiri lembaga komunikasi media, Media Watch. Perempuan ini tergolong aktif, karena selain bergiat di berbagai organisasi, ia juga pernah menjadi dosen komunikasi, dan menulis karya sastra.

Sastra adalah dunia yang digelutinya semasa kuliah. Dia adalah anak didik begawan sastra, Budi Darma, di Universitas Negeri Surabaya (dulu IKIP Surabaya). Dalam sastra ia menulis puisi dan cerpen. Namun, karena ia lebih banyak bergelut dibidang komunikasi, ia pun lebih banyak menulis tentang komunikasi dan jurnalisme.

Menulis bagi Sirikit sudah seperti berbicara. Jari-jarinya seperti lidah. Ia mengetik(pakai mesin ketik maupun komputer) mengalir secepat ia berbicara. Apa yang akan ditulisnya sudah jelas. Maka ia tak akan berhenti menulis sebelum selesai apa yang ingin dituangkan dari dalam kepalanya. Dalam menulis, Sirikit mendapat inspirasi dari mengamati, mendengarkan, dan membaca buku. Jika berada dalam forum atau bercakap dengan orang, ia senang mengamati dan mendengarkan. Disana ia menyerap ide.

Membaca, bagi Sirikit adalah media belajar, sumber ilmu, dan leisure (kesenangan).Ia suka membaca buku-buku biografi, komunikasi, catatan perjalanan,dan pengetahuan umum. Menurutnya, inspirasi bisa didapat dimana saja, dari siapa saja, kapan saja, tapi buku memberi kekayaan bahasa. Karenanya, untuk mengasah keluwesan berbahasa, ia membaca cerpen dan puisi. Baginya, tak ada istilah malu untuk meniru. Jika ia suka pada beberapa ungkapan yang ia temui, ia akan menggunakannya dalam tulisannya, dan itu sah menurutnya.

Sirikit terbiasa menulis sejak ia masih belia. Saat belajar di SD, ia membuat buku seperti majalah yang berisi tulisan-tulisan humor,cerpen, puisi, hingga komik. Buku itu ia edarkan diantara teman-temannya dan dibaca bergilir. Meski hanya main-main, Ia senang sekali tulisannya dibaca orang lain. Hingga saat SMU, guru Bahasa Indonesia menemukan bakatnya dan menanggapi dengan serius. Guru itu mengucap satu kalimat yang bagi Sirikit, seperti tuah.”Kamu akan menjadi penulis yang bagus”. Dan benar, sejak itu banyak tulisannya dimuat di media masa. Ia juga beberapa kali memenangkan kompetisi menulis saat mahasiswa.

Pertemuannya dengan Budi Darma semasa kuliah kemudian semakin mengasah kemampuan menulisnya, terutama sastra. Dan ia pun melahirkan Harga Perempuan(Kumpulan cerpen-1997), dan Memotret dengan Kata-kata (Kumpulan puisi-2005).

Ketika diminta menyebut 5 buku favoritnya, ia dengan gesit menyebut Black Swan (Nassim Nicholas Taleb), Outliers (Malcolm Gladwell), Three Cup Of Tea (Greg Mortenson), Kite Runner (Khaled Hosseini),dan Laskar Pelangi (Andrea Hirata). Sirikit Syah dapat dijumpai disitus piaraannya http://sirikitsyah.wordpress.com (Diana AV Sasa)

1 Comment

ekosulistio - 12. Agu, 2009 -

makasih infonya,…. sangat membantu,.. tak tunggu kunjungan baliknya

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan