-->

Kronik Toggle

Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan: Satu Catatan Singkat

Oleh Asep Sambodja

Buku yang berjudul sensasional ini menurut saya sangat penting, karena membongkar cara pandang pembaca dalam membaca sastra. Dari buku ini terbaca bahwa sastra itu sangat luas dan sangat dalam; nyaris semuanya ada. Mulai dari chicklit hingga sastra serius, dari cerita silat hingga esai, dari puisi mbeling hingga kontroversi cerpen Langit Makin Mendung, dan seterusnya.

Sastrawan dalam menciptakan karya sastra memang memiliki hak prerogatif untuk menggunakan bahasa, atau gaya bahasa sesuka hatinya. Karena itu, ada karya sastra yang terkesan serius, ada yang main-main, ada yang terkesan populer. Namun, semua itu merupakan potret seorang sastrawan terhadap kehidupan yang dihayati dan dijalaninya. Dalam buku “Seratus Buku Sastra Indonesia” ini semuanya menjadi penting, semuanya mendapat tempat.

Yang paling menarik, menurut saya, buku ini memberikan perspektif baru bagi pembacanya. Sastra tidak sesempit yang dipahami pembaca awam. Apa yang kurang dalam buku-buku antologi sastra yang ada di sekolah-sekolah bisa terpenuhi dalam buku ini. Sebagai contoh, dalam antologi sastra “Horison Sastra Indonesia” yang diterbitkan Majalah Sastra Horison sama sekali tidak ada sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Namun, dalam buku “Seratus Buku Sastra Indonesia” ini ada tempat bagi sastrawan-sastrawan Lekra. Demikian pula ada tempat bagi sastrawan-sastrawan peranakan seperti Asmaraman Kho Ping Ho, bahkan dengan model cerita silat.

Selain itu, buku ini juga memberi perhatian pada buku-buku sastra yang diminati masyarakat seperti Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Artinya, editor buku ini, An Ismanto sangat jeli melihat perkembangan sastra. Ia tidak berhenti pada buku-buku yang dinilai bagus oleh kritikus sastra, misalnya, melainkan juga memperhatikan apa yang terjadi di tengah masyarakat pembaca.

Melihat keragaman isi buku ini, sekali lagi, saya menganggap buku ini sangat penting.

Citayam, 29 Agustus 2009

1 Comment

JABRIX - 09. Sep, 2010 -

KENAPA ilmu sastra gak bisa tolong indonasa lebih baik dari kmarin

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan