-->

Kronik Toggle

Sepi Pengunjung Pameran Buku Surabaya

Begitu mendengar kabar ada pameran buku digelar di Surabaya, Iboekoe langsung mengirim kader bukunya untuk meluncur ke lokasi. Menurut kabar dari mulut ke mulut itu, acara digelar di Perpustakaan Jatim.

Kader iboekoe tentu saja berangkat dengan semangat 2009. Membayangkan ajang pameran yang ramai pengunjung, buku-buku obral yang siap diraup, beberapa acara seputar buku, dan kebetulan-kebetulan untuk bisa wawancara dengan pengunjung (siapa tau ketemu orang penting, penulis atau artis misalnya).

Perpustakaan dan gedung arsip Pemerintah Provinsi Jatim, terletak di Jalan Menur Pumpungan, berdekatan dengan pintu gerbang Perumahan Manyar Kartika. Gedung itu megah dan kokoh. Dari luar nampak tenda pameran yang lumayan mewah. Tapi tempat parkir nampak lengang, hanya ada beberapa mobil yang salah satunya mobil pintar keliling.

Kader iboekoe memasuki arena pameran. Antara percaya dan tidak menilik satu dua stand di dekat pintu masuk. Ada Toga Mas dan Gramedia. Juga penerbit Andi dan beberapa penerbit yang jarang terdengar namanya. Suasana sepi sekali. Hanya ada dua pengunjung. Kader iboekoe dan seorang laki-laki muda yang asyik memilih buku-buku islam.

Menyusuri lorong pameran, tak banyak pilihan stand. Buku-buku yang ada pun terkesan seadanya. Diskon yang diberikan juga sama dengan di Toga Mas. Jadi memang tak terlampau menarik. Panggung di tengah arena juga sepi. Hanya lagu-lagu band meraung-raung dari pengeras suara yang membuat suasana sedikit hidup. Selebihnya benar-benar sepi.

Ketika kader iboekoe mencari panitia untuk di wawancara, tak seorangpun bisa ditemui. Stand panitia kosong melompong. Hanya ada beberapa foto karya mahasiswa disain visual UK Petra terpampang di dinding. Lumayan menyegarkan mata dan mengobati kekesalan. Karya-karya itu layak dinikmati.

Seperti judulnya, Pameran Buku, Foto, dan Bursa Buku acara ini memang menggelar beberapa foto mengenai buku dan arsip. Entah apa bedanya pameran dan bursa, karena nampak sekali acara ini dikemas seadanya. Mungkin yang dimaksud pameran itu ya buku-buku yang lumayan bersih, bersegel, dan dijual dengan diskon. Sementara bursa adalah buku-buku yang diobral seperti baju rombeng dengan harga sama dengan sebotol teh.

Ironis, lokasi tempat acara ini digelar adalah perpustakaan. Lebih ironis lagi, tak jauhdari perpus itu ada beberapa universitas yang cukup mentereng (STESIA,ITATS,ITS,LP3i).

Mengapa acara itu sepi sekali pengunjungnya? Selain buku-buku yang ditawarkan tergolong biasa, penyelenggara juga terkesan ogah-ogahan.Maksudnya mungkin meningkatkan minat kunjung ke perpustakaan, jika bukan hanya menghabiskan anggaran sebelum PAK. Apakah kota ini benar-benar antibuku? Sepertinya tidak. (DAVS)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan