-->

Kronik Toggle

Prof Nur Syam Memilih Berdakwah Melalui Tulisan

Ramadan tak harus menghentikan aktivitas. Prof Dr Nur Syam bahkan bertekad menghasilkan minimal satu halaman tulisan per hari selama Ramadan. “Sejak awal Ramadan, beberapa tulisan saya selesaikan,” tutur dia.

Rektor IAIN Sunan Ampel tersebut memang memilih berdakwah lewat tulisan. Tekad itu dia wujudkan melalui tulisan diblog pribadi, artikel di surat kabar, maupun buku. “Dakwah dengan tulisan tidak dibatasi ruang dan waktu. Tulisan kita bisa dibaca banyak orang di seluruh dunia,” ungkap dia.

Biasanya, Nur Syam menghabiskan setengah jam dalam sehari untuk menulis artikel di blog. Namun, papar dia, satu tema tidak selalu bisa diselesaikan dalam satu hari. Sebuah bahasan kadang harus ditulis berturut-turus selama tiga hari. Bahkan, dia pernah seminggu terfokus menulis terorisme. “Saya harus membahasnya secara tuntas. Sebab, itu permasalahan umat,” ungkap dia.

Selain artikel di surat kabar, Nur Syam telah melahirkan sembilan buku. Salah satu bukunya, Islam di Pesisir, bahkan tergolong fenomenal dan dirujuk para peneliti.

Kini tiga buku lagi dia hasilkan. Seperti buku-buku sebelumnya, tiga buku baru tersebut tidak lepas dari kajian keagamaan. “Sebentar lagi terbit,” ujar dia.

Menulis buku tentu jauh berbeda dengan menulis untuk blog. Suami Annisah Sukindah itu lalu mencontohkan penulisAgama bagi Para Pelacur. Nur Syam menyatakan menulis buku tersebut setelah membaca skripsi salah seorang mahasiswanya. Skripsi itu membahas ibadah para pelacur.

Dia lalu berpikir, tema tersebut bagus juga jika dijadikan buku. Dengan pikiran itu, dia terjunkan timnya untuk meneliti lebih mendalam. “Butuh waktu sekitar satu tahun untuk menyelesaikan penelitian,” ucap pria berkacamata itu.

Menurut Nur Syam, penelitian tersebut cukup alot. Sebab, yang dijadikan narasumber bukan sembarang pelacur, melainkan pelacur yang punya latar keagamaan cukup. Misalnya pelacur yang pernah menjadi santri. “Agar sesuai dengan tema,” ungkapnya.

Sebelum memilih pelacur, ungkap dia, tim yang terdiri atas empat orang itu harus bertanya kepada mucikari soal pelacur yang tahu tentang agama. Di antara lokalisasi yang dijadikan objek penelitian adalah Dolly, Jarak, dan Bangun Sari.

Setelah tahu nama, tim memilih dan mem-booking si pelacur untuk diwawancara. “Saya tidak ingat persis berapa kali mereka melakukan wawancara. Yang jelas, setiap data belum lengkap, saya minta mereka wawancara lagi,” tegas dia.

Meneliti di kompleks pelacuran tentu memiliki banyak kendala. Yang paling berat, menurut dia, adalah kendala moral. Sebab, orang yang masuk ke tempat seperti itu pasti dianggap negatif. “Padahal, tujuan mereka datang bukan berbuat mesum, melainkan meneliti,” jelasnya.

Setelah setahun meneliti (2007-2008), diketahui para pelacur tersebut tiap Jumat membaca surat Yasin, tahlil, dan membatasi tamu yang datang. “Itu waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan,” imbuh dia.

Tiap Ramadan, mereka juga memilih pulang kampung dan berpuasa. Mereka membawakan oleh-oleh jilbab, mukena, dan busana muslim untuk keluarga. “Mereka pun ingin merayakan hari raya di kampung masing-masing,” tambah Nur Syam.

Diketahui juga, banyak di antara mereka yang mengumpulkan uang untuk membuka usaha di kampung. Jika ada kesempatan, mereka bakal meneruskan usaha tersebut. “Mereka tidak ingin selamanya menjadi pelacur,” jelas mantan ketua Litbang PW NU Jatim tersebut. (lum/soe)

Tentang Prof Nur Syam

Nama : Prof Dr Nur Syam

Tempat, Tanggal lahir : Tuban, 7 Agustus 1958

Istri : Hj Annisah Sukindah

Anak

Dhuhratul Rizqiah, 23

Shiefta Dyah Elyusi, 20

Shiefti Dyah Elyusi, 20.

Karya

Metodologi Penelitian Dakwah (Penerbit Ramadhani, Solo 1990)

Institusi Sosial di Tengah Perubahan: Esai Pendidikan dan Sosial (Penerbit Jenggala Pustaka Utama, 2003)

Filsafat Dakwah (Penerbit Jenggala Pustaka Utama, 2004)

Pembangkangan Kaum Tarekat (Penerbit LEPKISS, 2004)

Bukan Dunai Berbeda; Sosiologi Komunitas Islam (Penerbit Eureka, 2005)

Islam Pesisir (Penerbit LkiS, 2005)

Madzab-Madzab Antropologi (Penerbit LkiS, 2007)

Tantangan Multikulturalisme Indonesia (Penerbit Implus, 2008)

Transisi Perubahan Dialektika Islam, Pendidikan, dan Politik (LEPKISS, 2008)

* Diunduh dari Harian Jawa Pos edisi 31Agustus 2009 (KODE KRONIK Lok 2009 NSTJP

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan