-->

Lainnya Toggle

Pembaca Terakhir

Oleh Bambang Bujono
Di antara Anda, pembaca, dan majalah ini ada seorang penjaga bahasa. Ia resmi disebut redaktur bahasa. Dialah orang terakhir yang membaca majalah ini sebelum sampai ke Anda.

Seorang penulis boleh saja menurunkan artikel berita yang sangat menarik. Seorang redaktur pelaksana silakan saja menyunting naskah seorang penulis dengan piawai. Namun semua itu bisa tak berarti bilamana dalam naskah terdapat kesalahan data, fakta, ejaan nama, atau ada ketidakkonsistenan menyebut peristiwa, misalnya. Seorang redak tur bahasa diharapkan menengarai itu semua, memperbaikinya, atau melaporkannya kepada redaktur atau redaktur pelaksana.

Seingat saya, adanya redaktur bahasa di media massa Indonesia belum begitu lama dibandingkan dengan usia pers Indonesia. Baru di akhir 1970-an majalah Tempo mempunyai redaktur bahasa—dan mestinya di sekitar tahun itulah media massa lain juga baru menyadari perlunya ada redaktur bahasa.

Mungkin 30 tahun belum terlalu lama. Banyak yang menduga bahwa pekerjaan seorang redaktur bahasa adalah memperbaiki kata yang salah ketik serta mengoreksi penulisan kata dan kalimat yang tidak baku. Dugaan itu tak terlalu salah, tapi bukan hanya itu yang harus dilakukan oleh seorang redaktur bahasa. Seperti telah disebutkan, pekerjaan redaktur bahasa adalah mempertanyakan konsistensi tulisan.

Tapi harap dimaklumi, tugas seorang redaktur bahasa bukanlah mengurusi struktur, isi, bahan yang kurang, dan sebagainya yang berkait an dengan kualitas sebuah artikel. Apalagi menulis ulang sebuah artikel. Itu bukanlah urusan redaktur bahasa. Ini urusan penulis dan redaktur pelaksana. Jadi, keseluruhan tulisan adalah tanggung jawab redaktur pelaksana. Penyuntingan yang dilakukan redaktur pelaksana bukanlah urusan kalimat ”indah” atau ”tak indah” seperti mungkin banyak kita dengar, melain kan susunan tulisan, sudut pandang, kelengkapan isi, sumber-sumber yang relevan, serta arah tulisan sampai masalah keamanan—mungkin kah tulisan ini diperkarakan secara hukum. Sedangkan koreksi akhir, seperti misalnya salah cetak, salah data, kalimat yang tidak lengkap, kalimat yang rancu, dan penulisan nama yang tidak konsisten, itulah urusan re daktur bahasa.

* * *

Di halaman kolofon sebuah buku, lazimnya dicantumkan keterangan tentang buku tersebut, termasuk nama redaktur atau editor buku. Sama halnya dengan di media massa, pekerjaan editor buku pun melihat secara keseluruhan isi buku, layak-tidaknya diterbitkan. Apakah susunan bab per bab masuk akal, apakah bab pembuka perlu diganti, dan sebagainya, itu urusan editor. Akan halnya ihwal koreksi penulisan kata, data, pembagian alinea, kalimat yang membingungkan, ketidaktepatan peletakan titik dan koma, kata yang perlu dicetak miring atau yang perlu diberi tanda kutip semua ini urusan redaktur bahasa.

Jadi, redaktur bahasa, baik di media massa maupun di buku, ibarat ”tukang sapu” yang membersihkan sebuah lorong dari sampah dan lain-lain yang bisa membuat pejalan kaki merasa tidak nyaman atau bahkan mungkin jatuh terpeleset. Idealnya, redaktur bahasa juga bisa mengusulkan ternyata ada sebagian jalan itu yang menonjol dan tidak enak dilalui. Pak insinyur jalan bisa saja kemudian me ratakan jalan itu, atau membiarkannya karena tonjolan ini memang disengaja untuk memperlambat jalan sepeda motor, umpamanya.

Alhasil, peran seorang redaktur bahasa ternyata tidak sepele. Dialah orang terakhir di pihak penerbit yang membuat Anda merasa enak membaca majalah, surat kabar, atau buku. Karena itu, redaktur bahasa juga harus mengembangkan pengetahuan umumnya, termasuk membaca rubrik ”Bahasa!” ini.

Yang aneh, cobalah buka halaman kolofon buku-buku terbitan Indone sia. Jarang sekali yang mencantumkan nama redaktur bahasanya. Atau memang dia ini tak ada dalam per usahaan penerbitan buku? Atau tugasnya dirancukan dengan editor? Kalau banyak buku terbitan Indonesia yang tak nyaman dibaca, harap maklum, mungkin pos ”redbas” ini belum dipahami benar.

* Diketik dari Majalah TEMPO Edisi 10 Agustus 2009

2 Comments

dee - 10. Agu, 2009 -

Kami menyebutnya: Pemeriksa Aksara, bukan begitu, Gus Muh?

Irfan Sulistya - 13. Agu, 2009 -

Entah benar atau hanya terlalu fanatik pada Tempo? kalau memang Tempo menjadi perintis paling awal redaktur bahasa, apakah ini jadi alasan penggunaan bahasa yang “enak” di media tersebut? terkadang banyak media yang tidak memerhatikan hal ini sehingga muncul EYD-EYD selikung media dan membuat sosialisai EYD yang tepat menjadi sangat sulit. Salut buat Tempo. Mari sosialisasikan EYD dan kalimat efektif dengan menjadikan media informasi sebagai cermin pembenahan.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan