-->

Literasi dari Sewon Toggle

Mesin Ketik

Dari sekolah menengah hingga semester satu universitas saya akrab dengan mesin ketik. Itu pun tak pernah bisa mengetik sepuluh jari. Di pelajaran akuntansi sewaktu SMP pernah ada pelajaran mengetik cepat dengan mesin ketik yang berakhir tragis: ujian cuma dapat nilai 5.

Keakraban itu pun bukan karena mengarang, tapi menulis surat undangan untuk organisasi. Sesekali nulis catatan harian. Cuma sampai di situ saja.

Tak ada hebatnya. Karena saat yang sama komputer mulai merasuki dunia tulis-menulis. Hingga kemudian saya sadar bahwa mesin ketik adalah style bagi sebagian orang. Ia menjadi alat untuk menentukan siapa diri. Bahkan untuk style itu, tak jarang mesin ketik itu dijinjing ke mana-mana. Mungkin ingin memberitahu: hei, lihat, saya penulis.

Demikian itu saya dapatkan di film “Ask The Dust” saat Arturo Bandini (Colin Farell) mencari sebuah motel untuk menulis novel dengan mesin ketik dikepit. Setiap ia dapat ide, ia akan melompat jendela dan mendarat di mesin ketik kesayangannya. Sama juga dengan Ricardo (Esai Morales) di film “The Disappearance of Garcia Lorca”. Saat pertama datang di Granada, yang terlihat adalah Ricardo yang dengan gagah menjinjing mesin ketik dan bangga memperkenalkan diri sebagai penulis cum periset.

Janet Frame, seorang yang mengidap scrizofrenia karena rendah diri yang akut, dalam film “An Angel at My Table” juga menjinjing mesin ketik dari negara ke negara lain untuk menulis novel. Bahkan yang nggak kebayang, sambil tiduran di sofa, ia memangku di pahanya mesin ketik yang berat itu. Janet mengetik. Terlihat sumringah sekali. Santai sekali. Atau terlihat pula sewaktu dia dititipkan di sebuah desa bersama seorang pengarang flamboyan, dengan santainya mereka mengetik di luar rumah berteman dengan angin yang mengipasi kertas-kertas.

Yang dramatis tentu saja adu kecepatan mengetik antara Forrester dan Jamal di film “Finding Forrester”. Adegan ketika berhadapan dengan mesin ketik dan kecepatan mengetik inilah muncul kutipan kuat dalam film itu: “Mulailah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis. Tulis naskah pertamamu itu dengan hati. Barulah kemudian kau tulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir.”

Ya, bagi pengarang “klasik”, mesin ketik adalah alat produksinya. Dan sekaligus menjadi alamat bagi profesi. Walau tak dapat dimungkiri seorang carik desa juga akrab dari pagi hingga sore dengan mesin ketik. Di gerai motor dekat kantor juga sampai sekarang sekretarisnya masih memakai mesin ketik ini, khusus untuk melayani pengkredit motor.

Saat ini ada yang sudah bersulih “alat produksi” itu mengikuti tuntutan zaman. Tapi ada juga masih tetap bertahan. Mereka adalah golongan makhluk langka. Pramoedya Ananta Toer sampai mati hanya mengenal mesin ketik sebagai alat menulis novel dan menulis surat. Remy Silado juga sampai saat ini hanya bisa menulis kalau dengan mesin ketik. Alasan utama mereka: bunyi ketukannya itu, di waktu malam, seperti irama tembang yang tak berkesudahan.

Dan mereka yang fanatik dengan alat tulis “purba” ini, umumnya bisa menulis sepuluh jari. Asyik juga melihat mereka menggerayangi tuts tanpa melihatnya. Mata hanya tertuju pada kertas. Keterampilan itu juga yang membikin Pram mengeluarkan pernyataan: mampu mengetik 250 huruf per menit.

Munculnya keterampilan itu, barangkali, karena dulunya ada pelajaran praktik mengetik cepat. Sekarang, pelajaran itu sudah tak ada lagi. (Kan Panembahan)

8 Comments

icchankamin - 24. Agu, 2009 -

rasanya memang beda, tuts yang ada di keyboad komputer dan mesin tik.. senang sekali saya mengingat kembali filem itu, Finding Forester yang diperankan si maestro Sean Connery.

terlalu cepat rasanya mengenal komputer. tak tik tuk tek tek tak tak.. (mesin tik saya dahulu waktu ngetik laporan praktikun, sungguh iramanya beda-beda)

ya barangkali ada karakter kepada si empunya mesin ketik.

salam..

pera - 24. Agu, 2009 -

adakok program komputer untuk belajar 10 jari. tp entah masuk mata pelajaran di sekolahan ato nggak.

iboekoe - 24. Agu, 2009 -

bagaimana caranya… di mana. apa otomatis bisa mengetik 10 jari di komputer????

teguh budi - 24. Agu, 2009 -

he he he …

aku pun sudah belasan tahun jga mengetaik tidak dengan 10 jari. Memang tak sehebat dan secepat dengan 10 jari….

Putri Sarinande - 24. Agu, 2009 -

secara sekarang guna kompie n leptop bukan cm ada pada kibor.. hehe..

irvan muhammad - 25. Agu, 2009 -

he…saya malah pake sebelas jari,hayo…dulu waktu SMP diajari tekhnik buta pake mesin ketik,sampe kalo ujian jari2 saya tulisi abjad.

iboekoe - 25. Agu, 2009 -

matanya ditutup pakai kain hitam kan waktu ujian mengetik????

Izzy - 26. Agu, 2009 -

aku bisa mengetik dengan 10 jari berkat hadiah mesin tik dari omku.
kedua, berkat mencuri peserta kursus mengetik dasar (KMD). kutanya bagaimana pelajaran KMD.
sekarang lagi ingin tau ngetik arab 10 jari. doakan,,,

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan