-->

Lainnya Toggle

Menulis untuk Pembaca Tendensius

Tulisan Abdul Waid bertajuk Penulis Berani Mati (Jawa Pos, 9/8/2009) mengingatkan kita bahwa trialektika (dialog tiga arah) antara penulis, teks, dan pembaca tak selamanya berlangsung damai. Kecaman, teror, bahkan ancaman kekerasan fisik bisa mewarnai dialog tiga arah itu.

Sebagai pengalaman pribadi, dalam tulisannya, Waid mengisahkan intimidasi dan teror yang diterima pasca penerbitan buku Sorban yang Terluka. Dalam konteks yang lebih luas, nama-nama seperti Salman Rushdi, Ala Hamid, Nasr Hamid Abu Zaid, Farag Fouda, dan Mahmud Mohammad Toha bisa dijejer sebagai sampel yang menguatkan fenomena trialektika salah arti tersebut. Maksudnya, mereka adalah korban pembacaan teks yang berujung pada pemahaman berbuah kebencian pada sang penulis.

Merujuk pada tradisi hermeneutik, penulis sejatinya dianggap ”mati” ketika sebuah teks sudah berada di ruang baca para pembacanya. Teks telah menjadi milik sah para pembaca saat ia keluar dari ruang pikir penulisnya. Karena itu, apa pun interpretasi pembaca terhadap teks tak bisa disalahkan atau dibenarkan. Tak peduli apakah interpretasi itu cocok dengan ”kehendak awal” penulisnya atau tidak.

Teks itu multitafsir. Hammal al-wujuh, kata Imam Ali. Namun, tentu saja kebebasan menafsir dan memahami teks tidak berarti kebebasan untuk membenci atau menodai kebebasan menulis. Di sinilah kelapangan hati untuk menerima perbedaan pendapat harus dimunculkan dan dimatangkan.

Seorang penulis adalah kreator tulisan dan perangkum makna. Sedangkan pembaca adalah penafsir makna dari tulisan tersebut. Meski demikian, tak selamanya makna yang tertulis selaras dengan makna yang terpahami pembaca. Hal itu disebabkan banyak hal: latar belakang pengetahuan, perbedaan orientasi, alur pendidikan, ketajaman analisis, bahkan status sosial.

Misalnya, mereka yang duduk di pemerintahan akan lebih sensitif membaca tulisan seputar clean government, pemberantasan korupsi, atau transparansi keuangan daripada mereka yang berada di pihak oposisi. Perbedaan posisi sosial semacam itu bisa melahirkan respons berbeda -bahkan terkadang berlebihan- terhadap sebuah tulisan, pada sebuah buku.

Sedikitnya, ada tiga tipologi pembaca buku. Pertama, pembaca buku knowledgable. Yang masuk dalam kelompok tersebut adalah para pembaca yang menelaah isi buku berdasar keinginan murni untuk mendalami isi dan muatan buku, tanpa tendensi side-effect apa pun. Kelompok tersebut tak berpikir soal kecenderungan dan orientasi ideologis ataupun politis penulisnya. Pembacaan mereka murni seseorang yang ingin tahu dan ingin menguatkan pengetahuan.

Bagi kelompok itu, substansi dan esensi buku lebih penting daripada menyoal kecenderungan, ideologis, ataupun politis si penulis buku. Buku-buku yang dilahap kelompok tersebut kebanyakan buku kurikulum, mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Biasanya, buku-buku yang mereka baca adalah buku yang linier dengan disiplin ilmu pengetahuan yang digeluti.

Kedua, kelompok pembaca buku karena dorongan keingintahuan (curiosity). Berbeda dari kelompok pertama, kelompok ini menelusuri sebuah buku lebih karena keingintahuan, bukan semata karena pengetahuan (knowledge). Bagi kelompok tersebut, isi dan substansi buku bukanlah unsur pokok. Tapi, melampiaskan keingintahuan dan meladeni ke-penasaran-an diri adalah yang utama.

Misalnya, orang-orang berbondong-bondong mencari buku tentang Michael Jakson pasca kematian raja pop tersebut. Orang memburu buku-buku tentang klub sepak bola Manchester United ketika tim itu merencanakan bertandang ke Jakarta. Atau, orang-orang yang melahap buku-buku tentang terorisme pasca peledakan Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton.

Membaca buku, bagi kelompok itu, telah menjelma menjadi tren dan life style agar tak ketinggalan informasi. Momen-momen penting lebih bisa menggerakkan kelompok pembaca kedua tersebut untuk giat membaca buku tertentu daripada buku-buku terkait dengan tuntutan profesi.

Di sisi lain, ada penulis yang menulis dengan memanfaatkan momentum peristiwa tertentu. Takkan sebuah momen pun terlewati tanpa menulis buku. Contoh terkini, ketika Ramadan tiba, banyak penulis yang keroyokan menerbitkan buku-buku tentang puasa.

Kelompok ketiga adalah pembaca buku yang tendensius. Mereka membaca buku bukan untuk menimba pengetahuan, tapi untuk mencari kesalahan dan keteledoran di dalamnya. Setidaknya, mereka membaca hanya untuk memperkuat diri sendiri bahwa buku tersebut tidak bagus, tidak bermutu, atau salah. Bukan pengetahuan atau keingintahuan yang mendasari pembacaan mereka, tapi ketidaksukaan (dislikeness) dan kebencian (hatred).

Contohnya, kelompok kanan Ikhwanul Muslimin di Mesir akan cenderung membaca buku-buku tentang Islam kiri seperti buku-buku Hassan Hanafi, Arkoun, dan Mahmoud Ismail. Tapi, bukan untuk mengetahui dan mengapresiasi buku tersebut, melainkan untuk mencari kelemahan dan melihat celah untuk menyerang balik pemahaman yang mereka anggap salah.

Sebaliknya, kelompok liberal cenderung bersikap sama terhadap buku-buku Islam kanan, melihatnya sebagai sebuah keteledoran berpikir dan kepicikan bernalar. Hal itu bisa dianggap sebagai sebuah kewajaran selama polemik yang mereka lakukan masih berpusar di aras wacana.

Persoalannya, tidak sedikit kelompok pembaca ketiga itu yang mengekspresikan ketidaksukaan mereka terhadap sebuah buku dengan kecaman, tuduhan, bahkan ancaman terhadap penulisnya. Buku tak berbalas buku. Kata-kata tak berbalik kalimat. Kebencian itu mereka ekspos dalam bentuk intimidative speech dan kekerasan fisik. Cerita Abdul Waid adalah contoh kecil perkara itu. Masih banyak kisah heroik para penulis dunia yang berani melawan ”maut” dan tetap menulis buku, meski dicecar segala tuduhan dan diserbu berbagai ancaman.

Kekerasan tidak hanya menakutkan saat ia menjelma dalam bentuk fisik. Kekerasan mental, seperti ancaman dan teror, juga tak bisa dimaafkan. Seorang Nasr Abu Zaid, penulis buku kontroversial Mafhum an-Nash, bahkan harus meninggalkan tanah kelahirannya untuk mencari ruang kondusif berkarya, menulis, dan mengajar. Tuduhan dan ancaman memaksanya meninggalkan Mesir.

Mohammad Arkoun lebih memilih tinggal di Prancis daripada hidup di negeri asalnya, Aljazair, agar mendapatkan lingkungan yang nyaman untuk karir intelektualnya. Abdullah An-Naim, Khaled Abou El Fadl, Mahmoud Ayyoub, serta penulis-penulis migran lain memilih hidup jauh dari negeri sendiri untuk mencari kenyamanan dan kedamaian berkarya.

Dalam konteks Indonesia, banyak penulis yang terpaksa hijrah dan menjadi penulis di ”negeri rantau”, jauh dari tempat kelahiran, dengan dua alasan: meminimalkan atau menghindari konflik. Dalam Hubbu, pemenang sayembara novel DKJ 2006, Mashuri menggambarkan dengan apik kisah seseorang yang dituntut bisa meneruskan tradisi di lingkungan asalnya. Tapi, pada saat bersamaan, dia dihadapkan pada kehidupan rantau yang jauh berbeda.

Seorang penulis kritis yang lahir dari tradisi dan lingkungan status quo memang sering dihadapkan pada pilihan dilematis: menjadi kritis tapi dieliminasi dari ”tanah asal” atau menjadi penulis yang tak menyentuh persoalan ”tanah asal”-nya.

Perlu dicatat, tradisi yang mempertahankan status quo cenderung melahirkan pembaca-pembaca tendensius yang lebih sibuk mempersoalkan kesalahan dan keteledoran daripada mencari kebenaran dan pengetahuan dalam sebuah buku.

Menghadapi mereka, seorang penulis tak perlu repot mencari gaya menulis lain agar terhindar dari respons negatif, melainkan terus berkarya sesuai keinginan, fakta, serta pengetahuan yang sebenarnya. Kebenaran memang harus terus ditulis, meski memerahkan mata pembacanya. (*) AKHMAD SIDDIQ, pegiat kelompok baca dan sastra SBK (Sarikat Buruh Kata), alumnus studi agama dan lintas budaya UGM

Dinukil dari rubrik Di Balik Buku harian Jawa Pos edisi 16 agustus 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan