-->

Lainnya Toggle

Membaca Tren Buku

Oleh Okta

Surat elektronik itu sampai beberapa pekan lalu. Seorang kawan minta saya menghadiri workshop menulis buku yang digagasnya. “Nanti jadi pembicara soal tren perbukuan ya,” pintanya.

Ini jelas bukan pekerjaan mudah karena semua penerbit akan menjawab sama jika ditanyakan tren buku ke depan: tren buku apalagi yang fiksi tidak dapat ditebak. Misalnya saja ada novel yang meledak karena diadaptasi menjadi film layar lebar, namun ada yang meski filmnya sukses tapi penjualan versi bukunya adem ayem saja.

Lebih dari sepekan saya menelpon dan berkunjung ke berbagai penerbit membahas soal tren buku ini. Meski jawabannya kadang tak memberikan cukup bahan bagi materi yang mau saya sampaikan itu tapi setidaknya saya bisa mendapatkan data lantas menganalisis dan menebak arah tren itu sendiri.

Paling tidak ada dua tren buku fiksi yang sangat kentara. Yang pertama adalah maraknya buku fiksi fantasi mulai dari subgenre .. hingga dark fantasy. Rak-rak toko buku penuh dengan jenis buku yang satu ini.

Penerbit pun nampaknya sangat bersemangat menerbitkan cerita fantasi lantaran beberapa tahun terakhir pasar pembacanya kian meluas. Jika dulu peminatnya pembaca dewasa maka kini rentangnya meluas masuk ke pembaca remaja SMP yang mampu melahap buku fantasi yang tebalnya ratusan halaman dalam hitungan jam. Apalagi remaja kini tak sekedar mengandalkan orangtua karena tak sedikit yang rela menyisihkan uang saku demi membeli novel incarannya.

Ini memang buah yang dipetik dari novel Harry Potter yang memikat kalangan remaja dan haus akan buku sejenis setelah serialnya habis pada buku ketujuh. itu mereka haus mencari bacaan sejenis yang kemudian trennya semakin terjaga dengan munculnya trilogi Twilight.

Namun stamina tren ini akan sangat bergantung pada ada atau tidaknya novel sukses penerus karya J. K. Rowling dan Stephenie Meyer itu. Sejauh penerbit masih menebak dan mencarinya tapi belum sukses apalagi Hollywood tengah fokus ke film adaptasi dari komik sementara Bloomsbury yang menemukan Potter tengah krisis dan sibuk menyelamatkan diri dengan menerbitkan buku resep masakan yang kini di sana dan di Indonesia tengah laris manis.

Tren kedua adalah novel-novel inspirasional. Pemicunya tentu saja tetralogi (pentalogi?) Laskar Pelangi yang hingga saat ini masih memegang rekor penjualan tertinggi di negeri ini.

Memang banyak novel mengekor karya Andrea Hirata tapi saya membaca tren ini bukan dari banyaknya novel inspirasional yang terbit itu -yang sejauh ini penjualannya stagnan- namun adanya kebutuhan terhadap novel jenis ini yang datangnya justru bukan dari pembaca.

CEO Grup Penerbit Mizan, Haidar Bagir, misalnya menceritakan ia akan menseriusi Mizan Productions, lini yang menggarap film, dengan menerbitkan paling tidak empat film pada 2010 yang inspirasional. Ini tentunya membutuhkan materi yang menurut Haidar akan lebih banyak diambil dasarnya dari novel, setidaknya tahun depan akan ada empat novel dengan berbagai gaya penceritaan namun tetap punya sisi inspirasional.

Bukankah beberapa film seperti Denias dan King bukan hasil adaptasi novel? Memang, namun fenomena yang muncul belakangan ini kalau bukan skenarionya diadaptasi dari novel seperti Garuda di Dadaku, maka skenarionyalah yang diadaptasi menjadi novel seperti yang dilakukan Iwok Abqary dan penerbit Gradien Mediatama yang menerbitkan versi novel dari film King.

* Di copas dari blog tempo interaktif

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan