-->

Kronik Toggle

Inilah Daftar Musik untuk Teman Menulis

Berikut ini daftar musik klasik yang disarankan Hernowo (Lihat Quantum Writing) untuk menemani penulis karena dipercaya dapat merangsang kreativitas dan imajinasi:

A. Untuk merangsang imajinasi

Bethoven (Symphony No.6 atau “Pastoral”

Berlioz (Harold in Italy)

Bloch (Schelomo)

Britten (Four Sea Interludes from Peter Grimes)

Copland (Lincoln Portrait, Quiet City, Appalachian spring)

Delius (Florida Suite)

Dvorak (Slavonic Dances)

Haydn (The Creation)

Hovanhess (Misterious Mountain)

Ravel (Daphnis and Chloe. Suite No.2, Mother Goose Suite, “The fairy Garden”)

Sibelus (The Bard)

Smetana (The Moldau, The High Castle)

 

B. Untuk meningkatkan kreativitas

Sibelius (Symphony No.2,1st movement)

Vaughan Williams (In the Fen Country)

Delius (Koanga:”La Calinda”)

Kalinnikov (Aka Kombo)

D’Indy (Symphony on a French Mountain Air,1st movement)

Vaughan Williams(Norfolk Rhapsody No.1)

Mendelssohn (Scottish Symphony No.3,2nd movement)

Faure (Pavane)

Ravel (cuplikan Daphnis and Chloe, Suite 2)

CATATAN: Saya sendiri setiap kali menulis selalu tak mau pisah dengan Bizet 03 dari Georges Bizet (1838-1875). Musik ini yang selalu membuka kebuntuan saya dan membuat saya sulit berhenti. Alunan nadanya seperti aliran air di sungai yang deras. (DAVS)

3 Comments

Allan - 28. Agu, 2009 -

Maaf, sy pernha melakukan penelitian ttg musik ini, dan hasilnya, ternyata bersifat temporer… jadi, tidak selamanya musik2 yg klasik yg dirilis oleh orang2 tua dulu itu, akan merangsang kreativitas dan imajinasi.
Bagi saya secara pribadi, itu pernyataan yg salah besar…dan menjerumuskan.
Musik klasik, atau bisa juga musik lainnya, seperti gending, gamelan, atau musik lainnya, (maaf hingga saat ini belum mampu diklasifikasikan), namun intinya, musik hanya membantu untuk meningkatkan daya konsentrasi. Namun di sisi lain, daya konsentrasi itu bisa pecah dan sangat terganggu bila musik yg didengarkan tidak berkenan di hati.

Sekali lagi, musik hanya mampu membantu meningkatkan daya konsentrasi, “bukan merangsang kreativitas dan imajinasi”…. , dan itupun bersifat temporer.

iboekoe - 29. Agu, 2009 -

Anda benar, saya (Gus Muh) pernah juga membaca buku yang memfalsifikasi ulang kebiasaan ndengerin lagu2 jenis “piringan item” ini sebagai lagu yang membawa kenikmatan pikiran. Ada memang yang percaya dengan kebiasaan ini lantaran denger dari satu pihak ke pihak lain. Tapi nggak apa2 dicoba saja…. Kalau nggak mood juga walau sudah denger macem2 musik klasik, ya matikanlah. Tinggallah di hutan sekitar atau di taman2 yang lapang. Ndengerin keciap burung atau derau angin memukul daun-daun kersen dan ketapang. Tapi saya sendiri sih, lagu itu memiliki paduan dengan tema tulisan. Ketika menulis Lekra, saya paling seneng denger lagu2 nekolim Malaysia. Sebangsa Isabella atau apalah itu…. Thanks bung Allan.

Okhi - 16. Sep, 2009 -

Menarik membaca ulasan tentang manfaat musik bagi dunia ilmu pengetahuan (khususnya), karena dengan mendengarkan musik sebagai teman membaca sedikit-banyaknya membantu pembaca untuk lebih meresapi jajaran teks dari buku-buku tersebut.
Apabila musik yang terkandung dalam lagu bisa menjadi paduan dengan tema tulisan. Katakanlah ketika membaca Lekra dan tulisan sejarah tentang tragedi politik semacam G 30 S akan terbantu ketika mendengar Genjer-genjer versi Bing Slamet dan Lilis Suryani atau seperti Mas Gus Muh bilang lagu neokolim malay juga Isabella, pertanyaan saya, jikalau kita membaca sambil mendengarkan lagu extreme metal akan seperti apakah daya konsentrasi otak kanan si pembaca. Apakah musik yang rumit akan membuat konsentrasi membaca buku juga rumit, akan selaraskah dengan otak kiri yang juga sedang giat mencerna? TERIMAKASIH, Bung Allan dan Mas Gus Muh.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan