-->

Kronik Toggle

Inilah 5 Buku Favorit Presiden Epistoholik Indonesia

Bambang Haryanto, sebagaimana dibaca dalam catata atas dirinya (di sini), adalah penggila surat pembaca. Kegilaan ini pula yang membawanya “berurusan” dengan Museum Rekor Indonesia. Kini, ia berbagi buku favorit kepada Anggota Sarekat Buku se-Indonesia.

Inilah 5 buku yang mempengaruhi Bambang Haryanto atau akrab disapa “Beha”:

 1. Being Digital (1995) karya Nicholas Negroponte.

2. NetGain karya John Hagel III dan Arthur G. Armstrong(1997).

3. The Tipping Point (2000) karya Malcolm Gladwell.

4. Unleashing The IdeaVirus (2001) karya Seth Godin

5. The Long Tail (2006)-nya Chris Anderson.

Khusus buku Being Digital (1995) karya Nicholas Negroponte, Bambang Haryanto punya catatan sendiri. “Bagiku adalah buku TI yang mampu membuatkumenitikkan air mata, sekaligus bangga untuk selalu dan berulang kali menceritakannya.

Dalam satu artikel di majalah Forbes, Negroponte yang pelopor gerakan One Laptop For Child itu,  mengatakan bahwa Internet adalah gempa bumi berkekuatan 10,5 Skala Richter yang mengguncang-guncang sendi-sendi peradaban manusia. Buku ini mengantarku, selain berpikir secara analog, juga membuka cakrawala yang lebih luas dan menantang dalam mencari dan menemukan solusi segala macam masalah dengan cara-cara budaya digital.

Kasus Prita itu kasus digital, tetapi solusinya secara analog oleh fihak RS Omni. Akibatnya, yang mungkin tidak mereka rasakan,  tindakan mempidanakan Prita itu membuat citra dirinya justru hancur lebur dalam ingatan abadi masyarakat yang terekam dalam kenangan digital kita bersama, yang tak bisa terhapuskan selamanya. Buku ini membuat aku menangis karena memberi ilham dari sikap optimistis Negroponte bahwa gaya hidup digital akan memberikan kesejahteraan bagi umat manusia.

Alinea terakhir dari buku Negroponte berikut ini yang mengharukanku: “Yang mampu memberikan kebahagiaan puncak, bukanlah karena buku saya ini menjadi best-seller di mana-mana, tetapi ribuan email  yang saya terima dalam tahun-tahun terakhir ini. Para orang tua mengucapkan terima kasih kepada saya ketika menjelaskan apa yang dikerjakan oleh anak-anak mereka kini dan mungkin yang akan datang. Para kaum muda mengucapkan terima kasih karena tertular antusias saya. Tetapi kepuasan nyata dan ukuran keberhasilan yang paling bermakna adalah ibu saya yang berumur 79 tahun,  sekarang ini mengirimi email kepada saya setiap harinya.” (DAVS)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan