-->

Kronik Toggle

Dari Wonogiri untuk Penulis Surat Pembaca

Salam sejahtera,

Terima kasih untuk kiriman kabar via Facebook. Tentang menulis di kolom Forum-nya Kompas Jawa Tengah (KJT), saya terakhir mengirim dua kali dan ditolak. Pertama tentang Solo Batik Carnival di Solo dan yang kedua tentang Jateng sebagai sarang teroris dan strategi memerangi terorisme a la Benjamin Kuipers. Sekarang belum ada gagasan lagi.

Tetapi dari Redaksi KJT itu ada sedikit perbedaan dalam menangani naskah. Seperti Fahmi tulis di Surat Pembaca mengenai nasib artikel yang tak menentu ketika mendekam lebih sebulan di meja redaksi koran, dan aku kira suratmu itu mewakili banyak suara terpendam (dendam) dari para penulis, syukurlah yang aku alami  terakhir dalam penolakan itu rada berbeda.

Dulunya ya sebulanan itu, tahu-tahu isinya sudah tak relevan, baru dikembalikan. Harap-harap cemasnya berakhir tragis. Padahal nulis itu kan investasi. Kalau cepet-cepet dikembalikan, sementara topiknya masih relevan, siapa tahu bisa kita kirimkan ke koran lainnya ? Pokoknya masih terbuka ada ikhtiar lain, walau peluang untuk dimuat juga semakin mengecil adanya.

Syukurlah Fahmi secara heroik menggugat “kediktatoran” rejim redaktur koran itu. Khusus untuk KJT yang terakhir aku alami itu, mereka relatif cepat memberitahu penolakannya. Dulu kalau aku kirim ke KJT Semarang, maka yang tanda tangan saat memberitahuan penolakannya (kok) datang dari redaktur Kompas Jogja. Lucu juga. Menghindar.  Kini, yang memberitahu penolakan itu redakturnya dari KJT yang di Semarang.

Tapi KJT itu sudah jauh di atas rata-rata dalam berinteraksi dengan penulis. Mereka memberi tahu penolakan, walau alasannya yang bahkan nyaris sudah seperti template itu, sehingga  bagi kita ya kadang seperti mereka itu sok (maha) tahu, sok “tangan di atas,” dan sejenisnya. Mau tak mau. Itulah rezim dari galaksi Gutenberg. Rejim atom bin dan binti kertas. Rejim penganut scarcity mentality.

Koran-koran yang lain kayaknya lebih “jelek” lagi. Lebih otoriter lagi. Ada yang pasang peraturan, kalau 2 minggu tak dimuat, maka berarti ditolak. OK-lah, itu ketentuan mereka. Hanya saja, saya heran. Sekarang ini kan jaman Internet, masak sih, mengirimkan email penolakan secara cepat saja apa tak bisa ? Sori, aku tak tahu macam apa kesibukan di dapur redaksi terkait pengolahan naskah-naskah yang masuk itu.

Tetapi dari kacamataku, ini impian muluk, mbok yao, ada petugas khusus dari mereka yang dari sononya sudah baik hati, suka gaul sama penulis, suka atau maniak dalam  membalas surat/email (bisa diambil dari kaum epistoholik !) dan rajin memberitahu kalau naskah sudah diterima, syukur-syukur memberitahu kapan akan dimuat [“duh nikmatnya, sehingga kita bisa berkotbah di puncak bukit via FB atau Twitter untuk mengabarkan bahwa tulisan kita akan muncul di koran, tanggal sekian, topiknya bla-bla-bla…”] dan sekaligus cepat memberitahu bila penolakan tiba.

Syukur-syukur ia juga memberitahu, misalnya, berupa masukan dan saran, misalnya “kayaknya naskah Anda ini lebih cocok dikirim ke koran A,B atau X. Coba deh kontak Mas ini atau mBak itu, ini nomor HP dan emailnya, untuk konsultasi. Kalau ga cocok, kan kita jadi nambah teman ?”

Dalam paradigma media digital, media interaktif, bila aku bos di koran bersangkutan maka akan aku buat departemen tersendiri  yang khusus  menangani  lalu lintas naskah ini. Pentasnya akan  aku desain sebagai “water cooler” (virtual), ini tempat ngerumpi di kantor, yang transparans ibarat akuarium. Kita tahu siapa saja yang berenang dalam akuarium itu, sekaligus kata-kata mereka. Tahu yang hidup, tahu lucu, yang kelenger atau yang mati, itu semua dinamika kehidupan dalam dunia tulis-menulis terkait media koran.

Ide terakhir  ini aku petik dari buku The Internet Strategy Handbook, terbitan Harvard, dibeli di Atlanta (bukan diriku, tapi adikku). Mungkin ide ini terlalu futuristis, mengingat di masa depan ini media berbasis kertas semakin terpuruk nasibnya.

Oh ya, untuk naskah buku humormu, sudah mencoba ke penerbit Indonesia Tera, di Yogya ? Aku tahu ia menerbitkan buku kumpulan riddle, cangkriman-nya pelawak Setyawan Tiada Tara. Telepon Indonesia Tera : 0274-515940. www.indonesiatera.com. Email : redaksi@indonesiatera.com.

Masih terkait sama buku, tanggal 13-14/8/2009, aku ikut acara peluncuran buku yang menghimpun surat-surat anak-anak dari Gunung Brengos, Pacitan, yang ditujukan kepada Ibu Negara, Ani Yudhoyono. Atas prakarsa editornya, Diana AV Sasa, sebagai penulis surat pembaca aku diminta mengompori adik-adik kita itu untuk terus menulis. Buku itu diterbitkan oleh Indonesia Buku.

Peristiwa ini membuatku bersyukur,  bisa serumah dan dalam kedinginan Gunung Pacitan, tetapi hangat membicarakan masalah buku, dengan tokohnya : Gus Muh. Muhidin M Dahlan.  Momen Pacitan itu menakjubkan. Karena “monster buku” dalam diriku sudah terlalu lama tidur, hibernasi, sejak dua buku kumpulan leluconku terbit tahun 1987. Dan nampaknya monster itu kini bangkit dan mencari mangsa. Kalau ada waktu, ikhtisar singkat momen Pacitan dan buku itu bisa di cek di : beha.blogspot.com. 

Agar saya tak terlalu kelaparan, maka pelampiasannya ya menuliskan obrolan ini. Moga bermanfaat. Terakhir, mohon maaf lahir dan batin. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.

Wassalam,

Bambang Haryanto, Presiden Republik Kaum Epistoholik Indonesia, tinggal di Kajen, Wonogiri.

1 Comment

Putri Sarinande - 25. Agu, 2009 -

salut.. berkarya adalah raja, bekerja adalah babu. karya yang menjadi kerja itu adalah surga dunia..
salam dari seorang kontributor E-Tech&Lifestyle-Mag

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan