-->

Tokoh Toggle

Bertrand Russel: Menulislah dengan Ringkas

Bertrand Russel

Bertrand Russel

Seorang teman, yang kuliah di jurusan eksakta, mengaku iri dengan teman-temannya yang studi di jurusan ilmu sosial atau humaniora. Katanya, “Kalian dikondisikan untuk menulis paper yang bentuknya bisa menyerupai esai. Tugas-tugas kuliahku melulu berisi preposisi angka-angka, ga ada teks-nya. Wajar aja kalau kalian bisa lebih mudah menulis.”

Saya dengan tegas menolak pra-anggapan teman saya tadi. Ada banyak penulis-penulis esai, bahkan novel dan puisi, yang berlatar-belakang studi di bidang eksakta. Saya tidak perlu menyebutkannya satu per satu. Hanya saja, saya bilang pada teman tadi itu, studi di jurusan eksakta bahkan bisa memberikan satu dasar yang baik sekali dalam teknik kepenulisan. Bahkan, saya sebutkan padanya, seorang Bertrand Russel mengaku ia berhutang banyak pada matematika dalam mengembangkan teknik kepenulisannya.

Sebelum mendapatkan Nobel Kesusateraan pada 1950 untuk buku dan esai-esainya yang –kata panitia Nobel– amat menjunjung tinggi prinsip kemerdekaan berpendapat dan berpikir, Russel sudah pernah menulis buku babon setebal tiga jilid tentang matematika bersama Alfred North Whitehead berjudul Principia Mathematica. Pengalaman mendalami dan menggeluti matematika, kata Russel sendiri, sangat membantu karir kepenulisannya.

Mulanya, hingga usia 21 tahun, Russel mengaku sangat terobsesi dengan gaya kepenulisan John Stuart Mill. Ia menyukai gaya Mill dalam menyusun struktur kalimat dan mengembangkan subjek dalam kalimat. Kebetulan, saat itu, Russel punya seorang kerabat bernama Logan Pearsall Smith yang memuja gaya kepenulisan Gustav Flaubert dan Walter Pater sebagai “dewa kepenulisannya”. Russel, ketika itu, sempat berpikir bahwa cara termudah untuk menjadi seorang penulis adalah cukup dengan meng-kopi teknik dan gaya kepenulisan para penulis hebat yang sudah teruji.

Lama-lama, Russel merasa jengah dengan pemahaman macam itu. Kelak, ketika ia sudah matang dalam teknik kepenulisan, Russel menyebut bahwa praktik mengimitasi teknik dan gaya kepenulisan orang lain sebagai “ketidaktulusan hati” [insincerity] dan berbahaya [all imitation is dangerous].

Pada momen itulah ia “kembali” kepada matematika. Katanya, seperti yang ia tulisan dalam esai pendek How I Write, ia menemukan ideal kepenulisan yang berbeda dalam apa yang sudah ia pelajarinya dari matematika [“I had, however, already a different ideal, derived, I suppose, from mathematics”].

Sebagaimana yang saya tangkap dari esai How I Write, matematika yang dimaksud oleh Russel adalah kesederhanaan dan ketikidak-njlimetan kalimat. Bahasa matematika, seperti pernah ditulis Russel pada esai yang lain, adalah bahasa yang ringkas, langsung pada tujuan dan tidak mempersulit apa yang sebenarnya mudah.

Ia selalu mencoba untuk mengungkapkan apa yang dimaksudkannya dalam jumlah kata yang seminimal mungkin alias tidak memperpanjang kalimat yang sebenarnya bisa ditulis dengan pendek. Itu sebabnya, tulis Russel, ia bersedia menghabiskan banyak waktu untuk menemukan cara paling singkat mengungkapkan suatu pesan –dengan sebisa mungkin– tanpa kemenduaan makna. Dan untuk itu, kata Russel lagi, ia bersedia mengorbankan aspek estetik atawa berindah-indah dengan kata dan bahasa.

Teori menulis yang dipelajarinya dari kerabatnya yaitu Logan Pearsall Smith mungkin bisa dijadikan salah satu ilustrasi bagaimana Russel mencoba menulis dengan sesingkat mungkin. Ada dua kaidah yang ia pelajari dari Logan yaitu [1] letakkan koma setelah empat kata dan [2] jangan pernah gunakan kata “dan”, kecuali dalam pembukaan kalimat.

Tentu saja kaidah pertama itu terlalu sukar untuk diikuti. Tapi bukan di situ maksudnya. Dengan kaidah pertama itu, Russel ingin mengatakan bahwa salah cara untuk menulis dengan ringkas dan tidak bertele-tele itu adalah dengan mencoba menulis kalimat seringkas mungkin dan cara untuk mempelajarinya adalah dengan meletakkan koma tiap kali kita sudah menuliskan sejumlah kata. Jumlahnya bisa empat, lima atau enam atau sepuluh. Jika itu sudah secara rutin dipelajari dan dipraktikkan, kita akan terlatih untuk menulis kalimat yang ringkas dan tidak bertele-tele.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, bisa saja kaidah itu dikembangkan menjadi: “Usahakanlah menulis kalimat hanya dengan satu induk kalimat plus satu anak kalimat atau maksimal dua anak kalimat.” Jika satu induk kalimat disertai dengan lebih dari satu atau dua anak kalimat, kalimat itu bukan hanya akan menjadi panjang tapi juga rumit dan berlapis-lapis. Gaya kepenulisan dengan anak kalimat yang jumlahnya bejibun itu mudah kita temukan dalam karya-karya para filsuf Jerman, yang mana satu kalimat bisa belasan baris panjangnya dan satu paragraf bisa menghabiskan satu sampai tiga halaman.

Itulah sebabnya, pada bagian-bagian akhir esai How I Write, Russel mewanti-wanti untuk jangan memasukkan beberapa kualifikasi atau kategori atau poin dalam satu kalimat. Jika kita hendak menjelaskan beberapa ketegori atau beberapa poin, pecahlah masing-masing kategori atau poin itu ke dalam kalimatnya sendiri-sendiri. Dan, tiap poin atau kategori itu langsung diuraikan apa maksudnya. Setelah selesai, barulah masuk pada kalimat yang menerangkan kategori atau poin selanjutnya. Begitu seterusnya.

Sebelum menemukan dan memahami betapa pentingnya kelugasan dan keringkasan dalam menulis, Russel mengakui energi kepenulisannya sangat tersedot oleh ambisi menulis dengan penuh hiasan dan ambisi retorik yang amat mementingkan stilistika kepenulisan. Itulah masa di mana ia menulis buku berjudul A Free Man’s Worship yang terbit pertama kali pada 1903.

Kendati demikian, Russel tidak serta merta mengusir pengaruh para penulis pendahulu yang telah mempengaruhinya. Bagaimana pun, seperti yang ditulisnya, akan banyak orang [terutama para pemula] yang akan dengan mudah mengikuti dengan akrab gaya kepenulisan seorang penulis yang sudah teruji dan sudah mapan.

Hanya saja, seperti yang sudah saya tunjukkan sekilas di atas, seiring waktu dalam proses kepenulisan seseorang, gaya khas pribadi akhirnya akan muncul dengan sendirinya. Tentu saja itu hanya terjadi jika seorang penulis terus-menerus mengembangkan teknik kepenulisannya secara mandiri dan tanpa kenal lelah. (Zen Rachmat Sugito)

4 Comments

diani - 15. Agu, 2009 -

thanks bgt utk tips-nya. tolong dibanyakin dong tip2 menulis kyk gini. menunjang banget.

iboekoe - 20. Agu, 2009 -

mestinya menonton film “PI” bagaimana menulis catatan harian dengan lirih tentang hari demi hari yang memusingkan jelang penemuan angka “PI” yang oleh prefesornya sudah 40 tahun diteliti tapi menemui jalan buntu…..

simahir - 24. Agu, 2009 -

Dalam era revolusi internet..memang sangat diperlukan tulisan dan informasi yang ringkas dan jelas.

Orang akan dengan mudah bosan dan klik berpindah ke halaman lain apabila menemukan bacaan yang terlalu panjang.

Putri Sarinande - 24. Agu, 2009 -

sejujurnya relatif juga. tergantung tujuan penulisan itu sendiri. mau itu eksak, puisi, novel, dLL..
intinya sih, permudahlah dari pada dipersulit. ringkaslah jika banyak malah bikin njelimet.. dan pada akhirnya, itu kembali pada sisi si pelaku..

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan