-->

Kronik Toggle

FPI cs akan Menghantam Jawa Pos karena Mbelain PKI

Jawa Pos sudah beberapa kali dihantam FPI. Kasus paling akhir adalah ketika koran ini memuat secara bersambung kehidupan para tahanan politik Buru saat sekarang. Saat itu, menurut keterangan redaktur Arief Santoso, nyaris semua rekan-rekannya ketakutan. Dan tibalah saatnya ia berhadap-hadapan muka dengan para laskar Islam yang aduhai gagah beraninya ini. Kini kejadian serupa bakal terjadi lagi. Sadarlah kami, kenapa Jawa Pos tak pernah menurunkan resensi buku “Lekra Tak Membakar Buku” karya Muhidin M Dahlan dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri kecuali kolom kecil buku terlaris. Salah satu alasannya, karena tak ingin disebut koran yang memberi tempat bagi PKI dan antek-anteknya. Kini CEO Jawa Pos Dahlan Iskan sendiri yang langsung memberi tempat bagi orang-orang terbuang itu jelang September, bulan-bulan ketika sejarah berdarah diperagakan. Dan Dahlan akan menerima hukuman dari para laskar itu. (REDAKSI IBOEKOE)

* * *

“Bela” Soemarsono, Bos Jawa Pos Akan Didemo

Sebagian ormas menilai, tulisan berseri tentang Soemarsono dinilai tidak berimbang dan merugikan korban PKI

Hidayatullah. com–Jika tak ada aral melintang, Rabu (2/9) depan, sekitar 1500 massa yang terdiri dari Centre for Indonesia Communism Study (CICS), Front Pembela Islam (FPI), Forum Madura Bersatu (Formabes), PII, dan sejumlah ormas se-Surabaya, akan melakukan demo di Gedung Graha Pena Jawa Pos Surabaya. Aksi demo itu berkaitan dengan tulisan CEO Jawa Pos, Dahlan Iskan, yang seolah telah “memutihkan” aktivitas Soemarsono, eks gubernur militer PKI.

Sebelum ini Dahlan Iskan menurunkan berita tentang Soemarsono secara bersambung di koran miliknya, Jawa Pos berjudul “Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya”. Tulisan yang dimunculkan tiga edisi berturut-turut itu, dimulai hari Ahad, 09 Agustus 2009.

Oleh sebagian ormas itu, tulisan Dahlan Islam dinilai tidak berimbang, alias menguntungkan Soemarsono dan merugikan korban PKI.

Sebagaimana diketahui, Soemarsono bersama Mr. Amir Sjarifuddin aktif di GERINDO. Soemarsono dikenal Ketua Pemuda Minyak Surabaya, dianggap tokoh PKI sejak pemberontakan 1926.

Menurut Prof. Aminuddin Kasdi, dosen Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Soemarsono, merupakan sosok jahat. Selain dianggap telah membunuh para kiai, banyak umat Islam yang telah ia bantai. “Sumur Soco di Magetan buktinya,” ujarnya kepada www.hidayatullah. com.

Dalam sumur ini ada sekitar 130 mayat Muslim dikubur. Sumur ini setidaknya bukti kekejaman Soemarsono atau PKI kala itu.

Tak sekadar itu, menurut Kasdi, kejahatan Soemarsono termasuk berada di balik kematian Gubernur Ngawi, Suryo. Begitu juga dengan matinya penghuni Pesantren Modern Takran, tak lain juga akibat Soemarsono.

Tulisan berseri CEO Jawa Pos itu dinilai Kasdi seolah ingin memulihkan nama baik Soemarsono. Kasdi juga menilai, dengan adanya tulisan itu, setidaknya kembali menyakiti umat Islam dan para korban PKI. [ans/www.hidayatull ah.com]

3 Comments

teguh budi - 30. Agu, 2009 -

Dahlan adalah seoang jurnalis bepengalaman. Dia tak sembarangan menuankan ide tulisan tanpa didukung referensi kuat.
* Kenapa masih ada yang mempersoalkan masalah PKI dan tidak PKI..???
* Bahasa jurnalistik apapun bentuknya adalah karya intelektual yang menjunjung tinggi nilai-nilai. Termasuk di dalamnya nilai kultural, religi dan realita yang musti diterima siapapun.
* mestinya ada cara lain selain melakukan unjuk rasa, terlebih di saat Ramadhan yang baru masuk pekan kedua.
* Mengingat konsep jurnalisme adalah berpihak pada publik, idealnya Jawsa Pos membuka rubrik unuk saling serang dan salng mengisi khusus membahas problema tersebut.
Menurut saya pribadi, jika sampai terjadi aksi unjuk rasa, tak bakal merubah kesahihan sejarah. Sekalipun kita sudah lama disuguhi warna sejarah yang menyimpang. Mungkin demikian.

Aji - 05. Sep, 2009 -

Ketakutan terhadap PKI masih sangat besar di negeri ini dan bahkan ketakutan itu sendiri menurut saya sudah menjadi paranoid. Bagi saya teroris lebih jelas bahayanya daripada komunisme

edy - 06. Sep, 2009 -

Memang ada kebutuhan untuk rekonsiliasi

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan