-->

Kronik Toggle

Anak-anak Puncak Brengos Berkirim Surat ke Ibu Negara

Sebanyak 151 anak dari kawasan Gunung Brengos, Pakisbaru, Kec Nawangan, Kab Pacitan menulis surat kepada Ibu Negara Ani Yudhoyono. Surat-surat itu dibukukan dengan judul Kepada “Yth Ibu Negara di Istana Merdeka: 151 Suara Hati dari Anak Puncak Brengos Pacitan” yang dibedah bersamaan dengan peresmian Gelaranbuku Pakis di kaki Gunung Brengos, Pakisbaru, Pacitan, Jumat (14/8/2009).

 Elly Diana, siswi kelas XI SMAN Nawangan, salah satu penulis surat, mengatakan, dirinya sangat ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk menggapai cita-citanya menjadi guru. Namun, Elly harus menghadapi banyak kendala yang baginya teramat berat. Dia bercerita, ayahnya hanya seorang kuli bangunan. Jangankan untuk membayar keperluan sekolah, untuk mencukupi kehidupan sehari-hari saja kami kesulitan. “Karena itu, terkadang saya ragu bisa terus sekolah karena keluarga saya tergolong ekonomi menengah ke bawah,” ujar Elly dalam testimoninya.

Elly juga menyesalkan mengapa banyak temannya putus sekolah kendati secara finansial mereka sebenarnya mampu. Teman-teman sebayanya lebih suka putus sekolah untuk bekerja atau menikah di usia dini daripada melanjutkan sekolah.

“Kebanyakan teman saya hanya lulusan SMP/sederajat, bahkan ada yang lulusan SD/sederajat. Bukankah itu suatu hal yang memprihatinkan?” tanya Elly. Anwar Syahid, siswa kelas VI SDN Pakisbaru III, menulis surat tentang kondisi sekolahnya yang memprihatinkan. Dia berharap jalan menuju sekolahnya diperbaiki agar siswa-siswi bisa ke sekolah dengan mudah.

“Meski kami hidup di desa terpencil, kami mempunyai cita-cita tinggi. Kami juga ingin menjadi orang besar seperti Bapak SBY,” tutur Anwar. Anwar juga bermimpi bisa belajar komputer seperti anak-anak di kota. Siswi kelas III SDN Pakisbaru II, Erisa Budi Handayani, mengatakan, meski keluarganya masih dibelit kesulitan ekonomi, dia tetap bertekad menempuh pendidikan setinggi mungkin.

“Orang tua saya hanya petani biasa, bekerja keras menghidupi keluarga dan biaya sekolah saya dan kakak-kakak saya,” tutur Erisa. “Sebelum berangkat sekolah, saya kadang sarapan kadang tidak. Uang jajan kadang ada, kadang tidak. Seminggu sekali hanya Rp 100-Rp 200,” lanjutnya.

Tapi, Erisa tak pernah patah arang. “Saya ingin sekolah, bagaimana pun caranya,” tegasnya. Bersamaan dengan bedah buku tersebut, diresmikan pula Gelaranbuku Pakisbaru yang merupakan satu dari sejumlah perpustakaan kampung yang kini sedang dirintis oleh Yayasan Indonesia Buku Yogyakarta di sejumlah kota di Indonesia.

Di Pakisbaru, Indonesia Buku bekerjasama dengan Karang Taruna Satria Bhakti desa setempat. Gelaranbuku Pakis kini memiliki koleksi 500 buku beragam tema. Direktur Indonesia Buku Muhidin M. Dahlan mengemukakan, Gelaranbuku berbeda dengan taman baca yang diinisiasi pemerintah. Jika peresmian taman baca yang dipelopori pemerintah hanya berisi seremoni belaka, tapi Gelaranbuku dibuka oleh sebuah bedah buku.

“Buku yang dibedah pun adalah buku yang ditulis oleh masyarakat setempat. Dengan perpustakaan ini, masyarakat Pakisbaru diharapkan jangan hanya jadi konsumen buku, tapi juga harus menjadi produsen buku, menjadi penulis atas diri mereka sendiri,” ujar Muhidin.

Diana Av Sasa, editor buku berisi surat anak-anak Gunung Brengos, mengatakan, sebenarnya terdapat 400 surat yang masuk. Namun, dengan pertimbangan kesamaan tema, hanya 151 surat yang dibukukan. “Kami ingin anak-anak di sini kelak bisa menulis tentang daerahnya sendiri, tentang potensi-potensi kawasan ini,” ujar Diana.

Sementara itu Kepala Bidang TK dan SD UPT Dinas Pendidikan Nawangan Sukiran berharap, perpustakaan tersebut harus diisi oleh buku-buku yang ditulis oleh warga dan bercerita tentang Pakis Baru. “Apa yang ditulis anak-anak Pakis Baru ini sangat mengharukan. Semoga Ibu Negara benar-benar membacanya. Mari, dengan segala keterbatasan, kita jangan menyerah. Jika di Belitung ada Laskar Pelangi, di sini harus ada Laskar Brengos,” kata Sukiran. (Eri Irawan, Kontributor Indonesia Buku dan mantan wartawan Jawa Pos)

3 Comments

teguh budi - 15. Agu, 2009 -

Dee… Tulisan itu benar-benar menyentuh…
Aku seperti dibawa ke masa kanak-kanakku yang serba kekurangan.
Jika boleh kirimi aku buku itu….

tabik

nurul hidayati - 26. Jan, 2010 -

dee… mskipun kalian serba kekurangan, jangan pernah menyerah ya…

mitha - 09. Apr, 2011 -

jd inget aku dl sekolah di sana love u pakis baru

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan