-->

Kronik Toggle

1001 Cara Menggilai Buku

Judul : Para Penggila Buku, Seratus Catatan di Balik Buku

Penulis : Diana AV Sasa, Muhidin M Dahlan

Penerbit : (I:boekoe) 2009

Tebal : 668

Mengapa saya harus membaca, kalau bisa mendengar dan melihat? Mengapa Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk membaca, bukan mendengar dan melihat?  Mengapa manusia membuat tulisan untuk berkomunikasi dan menuliskan gagasannya, kalau sudah bisa berbicara dan menyampaikan pesan dengan tanda (sign)?

Sederet pertanyaan itu memang tidak gampang dijawab. Belum lagi menemukan jawaban, kita bertanya lagi, mengapa kita mengumpulkan buku di rak-rak, kita tata rapi, bahkan terkadang menangisi bila salah satu buku ketlengsut. Mengapa kita banyak mengeluarkan uang pergi ke toko buku, tukang loak, untuk sekedar membelik buku. Mengapa kita harus membaca?

Belum lagi terjawab, mengapa kita harus menulis buku, menerjemahkan pikiran kita, mengejawantahkan imajinasi kita, meski kita cukup bisa menceritakan dalam bentuk cakapan lisan? Mengapa kita harus merangkai ribuan kata, hanya untuk sebuah ide?

Menggila buku, memang seperti gila beneran. Kita tidak tahu sebab, di kamar kita penuh buku, tumpukan koran, majalah, kliping, dan lain sebagainnya. Sementara di rumah teman lain, tumpukan CD, DVD, kaset,  dan setumpuk peralatan audiovisual canggih tertata rapi dan tanpa selember kertaspun.

Membaca memang bagi kebanyakan dari kita intensitasnya terkalahkan oleh kebiasaan “mendengar” dan “melihat”, sebuah penelitian Stanford Research Institute pernah melakukan sebuah penelitian tentang effective communication dan menemukan bahwa ada empat keterampilan dengan masing-masing bobotnya, yaitu listening skill (50 %), expression skill (25 %, dengan komposisi 30:70 untuk verbal:body language), reading skill (15 %) dan wraiting skill (10 %).

Reading skill menempati bobot 15 % tetapi menurut Sudhamex AWS bahwa membaca itu sesungguhnya kasus intrapersonal communication (solliloqui) dan bukan interpersonal communication, jadi dapat ditafsirkan bahwa peran membaca itu tidak hanya melalui melalui “reading skill” melainkan pula “listening skill” dalam hal ini karena mendengar disini adalah terhadap suara hati (inner voice) kita sendiri.

Menurut Jacob Oetama dalam Bukuku Kakiku (Kompas Gramedia) tabir pertanyaan yang jalin menjalin itu sedikit terkuak. Menurutnya “membaca masih merupakan jalan dan sarana ekpresi diri berkomunikasi serta terus maju melalui pencerdasan dan percerahan. Lebih jelas lagi mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan zaman Orde Baru, Fuad Hassan, betapa bahan bacaan yang kita cerna semasa anak atau remaja cukup membekaskan pengaruh pada perkembangan minat dan pendewasaan kita selanjutnya sebagai pribadi. Ayip Rosidi lebih memperdalam makna membaca, menurutnya membaca merupakan fungsi yang sangat penting artinya bagi kemajuan tingkat peradaban manusia. Azyumardi Azra lebih luas lagi memaparkan, buku merupakan salah satu sumber terpenting dalam pembentukan pandangan dunia (wordview), cara berpikir, karakter dan tingkah laku saya sehari-hari.

Sementara bagi penulis novel Olenka, Budi Darma, membaca bukan akhir dari segalanya. Membaca merupakan awal dari pengembaraan pikiran, perasaan, dan naluri membaca.

Buku adalah sumber kekuatan budaya dan fondasi kemajuan peradaban manusia. Seperti dikatakan oleh Barbara Tuchman (1989) buku adalah pengusung peradaban. Tanpa kehadiran buku sejarah akan diam, sastra bungkam, sains lumpuh, dan pemikiran macet. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudera waktu.

Thomas Jefferson (1815) mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup tanpa kehadiran buku. Malah buku dijadikan ‘wanita piaraan’ oleh S.J. Adair Fitzgerald. Frank Gruber (1944) menganggap buku sebagai benda luar biasa. Katanya buku seperti taman yang indah penuh dengan bunga aneka-warna, seperti permadani terbang yang sanggup melayangkan manusia ke negeri-negeri yang tak dikenal sebelumnya. Oleh Frank Kafka (1883-1924) buku harus dijadikan kampak untuk menghancurkan lautan beku di dalam diri manusia.

Namun saya pertumbuhan buku di Indonesia tidak sedahsyat di negara lain. Budayawan Ajip Rosidi mengatakan bahwa sejak Indo­nesia merdeka tidak ada satu pun pemerintahan yang menunjukkan perhatiannya yang serius kepada buku. Penerbi­tan buku di Indonesia saat ini sekitar 12 ribu judul setiap tahun dengan oplah hanya dua sampai tiga ribu setiap judul. Bagi bangsa dengan penduduk 225 juta niscaya tidak berarti apa-apa. Itu pun pada kenya­taan banyak penerbit yang mencetak buku hanya 500 eksemplar. Kalau hitung, 12 ribu x 5 ribu kita naikkan angkanya, jumlahnya hanya 60 juta. Dengan demikian, setiap orang hanya kebagian membaca 60 juta berbanding 225 juta = 0,27 judul dalam setahun. Kalau dirata-rata tebal buku 100 halaman, maka dalam 365 hari setiap orang Indonesia hanya membaca 27 halaman. Atau setiap halaman dibaca selama hampir dua minggu.

Kenyataan pahit di atas ditambah lagi dengan hasil eksplorasi Taufiq Ismail di sekolah menengah atas (SMA) Indonesia. Ia mengatakan bahwa di Indonesia telah terjadi apa yang disebut dengan ”Tragedi Nol Buku”. Artinya di SMA Indonesia tidak ada kewajiban untuk membaca buku disekolah. Keadaan ini sudah berlangsung selama 62 tahun atau semenjak negara ini sudah sepenuhnya di tangan sendiri. Beliau mengatakan sebab utama penyakit kronis ini terletak sejak dari hulu samapai hilir aliran sungan lembaga pendidikan kita, yaitu terlantarnya kewajiban membaca buku sastra di sekolah-sekolah kita.

Para Penggila Buku, Seratus Catatan di Balik Buku (I: boekoe, 2009) memang tidak mengungkap minimnya pembaca buku kita. Buku ini bersifat provokatif untuk menggilai buku dengan 1001 macam cara. Di dalamnya banyak cerita yang dipaparkan secara apik oleh dua penulisnya Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan, dua penggila buku dari Pacitan dan Jogjakarta ini. Tulisan ini memuat seratus catatan tentang silang sekarut dunia perbukuan yang mungkin luput dari pengetahuan para pembaca buku.

Di dalam buku yang tebalnya 668 halaman itu, dibahas 8 topik besar, yakni: Kisah Buku, Klub Buku, Musuh Buku, Guru Buku, Revolusi Buku, Film Buku, Rumah Buku, dan Tokoh Buku. Seratus esai di dalamnya itu dikumpulkan dan dilengkapi dalam waktu beberapa bulan (sejak Oktober 2008) dan akhirnya dapat menjadi saksi Hari Kebangkitan Nasional 2009.

Buku para penggila buku ini sepertinya diarahkan untuk “provokasi” bagi pembaca pemula mau memulai menggilai buku, membacanya dan yang telah jadi “kutubuku” lebih meningkatkan kemampuan dan kegilaannya baik sebagai penulis handal maupun kolektor.

Salah satu bukti provokasi itu terletak pada sebuah kutipan yang mengatakan “bila anda ingin sekali membaca sebuah buku, tetapi belum ada yang menulisnya maka anda harus menulis.” Apakah Anda mau terbujuk! Beli buku ini dan bacalah! R. Giryadi

Dinukil dari Surabaya Post, 11 Juli 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan