-->

Suplemen Toggle

Taufik ‘Monyonk’ Hidayat: Jangan Curi Bukuku

MonyonkKepada kalian yang mengaku seniman, kepada kalian yang mengaku perupa, kepada kalian yang mengaku anti buku, kepada kalian yang mengaku penyembah buku, kusampaikan pesan ini.

Ada perupa yang tak mau menyentuh buku. Buku adalah musuh imajinasi. Buku hanya akan membunuh daya hayal. Mematikan proses berkarya yang alami. Buku menjadikan karya perupa kurang bernilai seni, tidak estetik, seadanya, bahkan cenderung ngawur(buruk). Perupa seperti itu pastilah perupa yang bermazhab pada wangsit dalam berkarya. Buku dianggapnya sebuah distorsi.

Mereka, perupa yang anti buku, mungkin lupa bahwa buku adalah kitab pemandu. Buku membantu seniman membuat analisis strategi pilihan dalam berkarya. Buku memberi pilihan filsafatnya, pilihan gagasannya, pilihan visualnya. Sebuah gagasan dalam berkarya harus memiliki filosofi yang jelas. Dengan begitu, berkarya tidak hanya mementingkan sisi estetika, namun juga visi dan pesan yang jelas. Pesan itu mestilah menggugah kesadaran, menggerakkan.

Aku memang perupa yang menyembah buku. Bagiku, buku adalah kunci dari  segala gagasan. Buku akan memberiku pondasi sebuah proses pembacaan. Pembacaan ini sudah tidak lagi teksbook tapi lebih pada pembacaan realitas sosial. Karya-karyaku mungkin jauh dari kesan estetik, tapi pesan yang kusampaikan jelas, karena aku punya gagasan yang kuat dan aku tahu filsafat setiap gagasanku. Dengan buku, aku bisa melakukan pembacaan sosial, memetakannya, sehingga karya-karyaku pun mencerminkan realitas sosial disekitarku. Sebuah karya yang dihasilkan tanpa pembacaan sosial yang komprehensif tidak akan menghasilkan apa-apa. Perupa yang krisis terhadap proses pembacaan, kuanggap hanya berkarya sebagai respon saja. Tidak ada pembacaan secara menyeluruh bahwa sebenarnya karya-karyanya bisa memiliki visi yang lebih jauh.

Lihat saja apa yang tercermin dalam karya-karyaku dua tahun terakhir. Secara estetika barangkali sungguh jauh dari kesan indah. Apa indahnya memunguti dan mempertontonkan sekumpulan sampah di pantai Kenjeran? Tapi bukankah pesan yang ingin kusampaikan sungguh jelas? Itu adalah cermin kegelisahan sosial. Aku mengajak masyarakat berpikir tentang kearifan lokal. Menyadarkan tentang kearifan alam. Aku menggugah kesadaran bagaimana agar masyarakat punya toleransi pada alam dan situs-situs sosial. Harapanku, sekian tahun kedepan, arogansi manusia terhadap alam bisa kita tangkal. Kehancuran ekosistem bisa diminimalisir. Karya-karyaku memang lebih brsifat kritik sosial, kritik pada perilaku masyarakat, kritik pada ambiguitas kehidupan manusia yg lebih berdifat destruksif, menghancurkan semua ekosistem hanya untuk kepentingan sesaat. Jadi, bagiku, estetika memang tidak berada diurutan atas dalam proses berkarya. Pesan, buatku jauh lebih penting. Karena karya harus menggerakkan.

Jelas, bahwa pengetahuan dalam proses pembacaan itu kuserap dari buku-buku yang kubaca. Aku membaca buku-buku filsafat, sejarah, anthropologi, biografi, sampai sastra. Maka nama-nama seperti Nietszche, Marx, Che Guevara, Fidel Castro, Mao Tze Tjung, Soekarno, Tan Malaka, Romo Mangun, Pram, Ayu Utami, Jenar, Fai Faradiba, sampai Kahlil Gibran bisa kulafal dengan jelas karena lekat diingatanku. Buku-buku itu bukan sekedar menyuntikkan berbagai wacana tapi juga memberiku inspirasi untuk memberi judul karya-karyaku. Di dalamnya banyak kutemukan nama-nama dan istilah unik yang menginspirasi. Maka sekali lagi kukatakan, jangan jadikan buku musuh dalam berkarya, karena ia sungguh kaya akan inspirasi.

Ingin kusampaikan pula pada kalian para penulis buku tentang satu buku impianku. Sebagai seniman, sungguh ingin aku mendapati satu buku yang mengarsipkan secara rinci dan lengkap tentang seniman dan karya-karyanya. Jika Indonesia terlalu luas, cukuplah kota Surabaya saja. Belum pernah kutemui penulis yang mau melakukan penulisan tentang dokumentasi seniman. Dari buku itu akan kita tahu, di Surabaya ada berapa seniman tradisinya, seniman modernnya, seniman kontemporernya, seniman yang menghasilkan karya tarinya berapa, musiknya berapa, rupanya berapa, instalasinya berapa, lalu yang bersifat karya seni puisinya berapa, karya-karyanya apa saja. Tidak ada buku tentang itu. Maka tulislah buku itu. Kata novelis Toni Morrison, “Bila kau ingin sekali membaca sebuah buku, tetapi belum ada yang menulisnya maka kau harus menulis”

Terakhir, pada para kutu buku, penyembah buku, yang suka meminjam bukuku dan tak pernah kembali, kusampaikan serapahku: kalian telah membunuh kreativitasku. Kalian memutus referensi logikaku. Maka kalian sungguh lebih sadis dan beringas dari buku yang dianggap musuh imajinasi itu. (Diana AV Sasa)

1996 Traditional Decorative (Kantor Kec. Randu Agung,Lumajang) 2002 Dua Sisi (Café Djendela, Surabaya) 2007 Revolusi Sebuah Cita-cita (Galeri Surabaya, Surabaya) 2009 Expedition Art (RRI, Surabaya), Patung Sampah (Pantai Kenjeran, Surabaya), Perang Sket (Ruang Art Gallery, Surabaya), Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila (Martadinata, Bandung)

Kutipan

(1)   Karya-karya Taufik adalah ekspresi dari jiwa dan karakter Taufik itu sendiri (Sabrot D. Malioboro– Ketua DKS 2009-2014)

(2)  Jika kalian pinjam bukuku dan kalian tak kembalikan, kalian telah membunuh kreatifitasku. Kalian memutus referensi logikaku. Maka kalian sungguh lebih sadis dan beringas dari buku yang dianggap musuh imajinasi itu.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan