-->

Lainnya Toggle

Raden Saleh, Payen, dan Manyar

Oleh Zen RS

Buku Lexicon of Foreign Artists Who Visualized Indonesia 1600-1950 ada juga menyebut kontribusi penting Payen dalam penubuhan mooi-Indie. Di situ, Payen disandingkan bersama Raden Saleh sebagai pengawal tradisi seni rupa tinggi [high-art].

Hubungan antara Payen dan Raden Saleh ini menarik. Payen diakui secara luas sebagai mentor pertama Raden Saleh, sekaligus orang yang memberinya dasar romantisisme dan naturalisme yang kelak menonjol dalam karya-karya Saleh. Kontak antara keduanya berlangsung selama Payen banyak berada di wilayah Priangan dan beberapa kali keduanya terlihat bersama di Bogor dan Bandung. Mentor dan anak didiknya ini kembali bertemu di Brussel pada 1829 dan momen itu, tulis Marie-Odette Scalliet, menjadi salah satu titik-balik yang penting dalam perkembangan karir Saleh sebagai seniman.

Salah satu lukisan Raden Saleh. Pelukis kenamaan Indonesia ini mulanya belajar melukis dari A.A.J. Payen, pelukis yang didatangkan ke Indonesia untuk embuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda.

Salah satu lukisan Raden Saleh. Pelukis kenamaan Indonesia ini mulanya belajar melukis dari A.A.J. Payen, pelukis yang didatangkan ke Indonesia untuk embuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda.

Lukisan, sketsa dan gambar-gambar karya Payen banyak disimpan di Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden. Dengan gayanya yang plastis, Rudolf Mrazek dalam karya monumentalnya Engginers of Happyland pernah menampilkan deskripsi tentang karya-karya Payen di Rijksmuseum untuk memberi gambaran ihwal “…a glass house for tropical plants, a hut out of which authentic Indies music could be heard.”

Sayangnya, saya tak melihat satu pun lukisan asli Payen di Gedung Agung. Tidak lukisannya, tidak juga namanya. Pegawai Gedung Agung yang menjadi guide pun tak menyebutkan namanya barang sekali pun.

Baiklah. Ini mungkin karena Gedung Agung yang masih berdiri hingga sekarang “sudah tak murni” hasil rancangan Payen. Kita tahu, Gedung Agung –waktu itu namanya masih Rustenburg– sempat hancur akibat gempa pada 1867. Gedung Agung lantas dibangun kembali masih di tempat yang sama. Tak ada keterangan apakah arsitekturnya masih sama dengan rancangan Payen. Toh nyaris semua tulisan tentang Gedung Agung, temasuk booklet resmi terbitan Sekretariat Negara, masih menyebut Payen sebagai arsiteknya.

Sebagai seorang arsitek, Payen memang tidak berkelas amatiran dan prestasinya juga tak bisa dianggap enteng. Ia bukan cuma menjadi perancang Gedung Agung, melainkan juga ikut merestorasi dan merekonstruksi Istana Bogor. Rancangan lanskap indah kebun di sekitar Istana Bogor merupakan salah satu kontribusinya yang nyata.

Keahlian sebagai arsitek yang dimiliki Payen tak terlampau mengejutkan. Ia memang lahir dari keluarga arsitek [ayah dan pamannya adalah seorang arsitek]. Dalam usia yang masih belia, Payen sudah belajar dasar-dasar arsitektur. Ia banyak menimba ilmu dari dua arsitek kenamaan yang pernah bekerjasama dengannya, Bruno Renard [arsitek dengan gaya neo-klasik] dan Henri van Aasche [arsitek dengan gaya romantic landscape].

Pada 1913, tiga tahun sebelum berangkat ke Jawa, Payen meraih Encouragement Award atas desain arsitektur yang diikutsertakan dalam kompetisi yang diselenggarakan Societe des Beaux-Arts of Brussels. Dua tahun kemudian, dalam pameran Living Masters, Payen mendapat penghargaan Gold Medal untuk lukisan lanskap miliknya.

Bidang arsitektur yang membutuhkan tingkat presisi yang cukup tinggi tampaknya memberi sumbangan besar dalam lukisan-lukisan atau sketsa-sketsa buatannya yang seringkali dianggap memiliki akurasi yang juga tinggi. Lukisan-lukisannya, pernah Nirwan Dewanto menulis, “mengandung nilai obyektif (ilmiah), namun di lain pihak juga menggayakan kenyataan.”

Keberangkatan Payen menuju Hindia, yang kelak akan memperkaya pengalamannya, harus ditebus dengan banyak resiko. Ia mesti merelakan masa mudanya lewat tanpa diisi oleh kesenangan anak-anak muda pada umumnya. Ia, yang jelas, juga meninggalkan kekasihnya, Pauline. Mungkin akan lebih tepat bila Pauline mendapat titel “tunangan”. Jika bukan demi Pauline, setelah selama satu dasawarsa berpetualang di Hindia, Payen bisa jadi tidak akan pernah kembali ke Eropa.

Payen yang berbakat, yang serba bisa, yang periang dan adaptatif sangat menyukai kehidupannya di Hindia. Orang yang dikenal ramah dan simpatik ini memperoleh posisi dan status sosial yang sangat baik di Hindia. Namun mengetahui ada seorang wanita menanti di kampung halaman ternyata mampu mengguncang jiwa penjelajahnya. Dua tahun setelah merancang istana agung Jogja, pada 1926 tepatnya, ia pulang ke Eropa. Kepulangannya bertujuan untuk menikahi Pauline.

Malangnya, sebelas bulan setelah pernikahan, Pauline meninggal dunia, tepat usai melahirkan seorang putri untuk Payen.

Tiba-tiba saya teringat kembali pada Burung-burung Manyar yang juga berakhir dengan tragis. Teto, seperti halnya Payen, mesti merelakan sisa hidupnya dilewatkan tanpa perempuan yang mengubah sebagian jalan hidupnya: Larasati dalam hal Teto, Pauline dalam hal Payen.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan