-->

Lainnya Toggle

Mooi-Indie Payen

Oleh Zen RS

Kedekatan Payen dengan Caspar Georg Carl Reinwardt, seorang ahli botani kelahiran Prussia, membuat minat Payen terhadap alam tetap terjaga. Reinwardt, yang kelak menjadi guru besar di Leiden, adalah orang yang menjadi inisiator Kebun Raya Bogor sekaligus menjadi direktur-nya yang pertama. Robert Nieuwenhuys, dalam catatannya tentang Reinwardt, sempat menyinggung andil Payen dalam penggodokan gagasan Kebun Raya Bogor.

Tulisan Gerard Termorshuizen, “In Search of the Noble Savage” [yang terbit dalam bunga rampai Oriental Prospect], menyebutkan bahwa Payen bergabung dalam sekelompok kecil cendekiawan yang berada di lingkaran terdekat Gubernur Jenderal van der Capellen.

Selain Payen, kelompok kecil ini meliputi Reinwardt, Karl Ludwing van Blume [botanis kelahiran Jerman] dan Johannes Olivier [seorang pengamat yang jeli tentang kehidupan di Hindia Belanda sekaligus penulis prolifik, salah satu karyanya adalah Travels by Land and by Sea in the Netherlands Indies].

Privilege yang diterima Payen membuatnya bisa berkunjung ke Maluku dan Celebes dengan mengikuti rombongan Gubernur Jenderal Capellen. Sewaktu di Maluku itulah ia melukis lanskap pelabuhan Ternate. Lukisan Payen itu terpampang manis sebagai sampul buku Ibu Maluku: The Story of Jeanne van Diejen karya Ron Heynmann.

Pada masa itu, seorang asing amat dibatasi untuk melakukan perjalanan dan tak seorang pun yang diijinkan melakukannya tanpa surat khusus [permit]. Tapi toh Payen melakukannya juga saat ngelayab ke wilayah Priangan. Dia melakukannya dengan penuh kebebasan.

Ketika Gunung Galunggung meletus pada 1922, Payen sepertinya sedang berada di daerah Priangan. Itu terbukti dari sebuah lukisannya yang menggambarkan erupsi Galunggung. Saya pernah melihat repro lukisan letusan Galunggung itu di buku Oriental Prospect, persisnya di esai Gerard Termorshuizen berjudul “In Search of the Noble Savage”. Dia juga melukis letusan Gunung Guntur pada 1818.

Pada 1823, Payen untuk pertama kalinya mengunjungi kawasan timur pulau Jawa, terutama Banyuwangi dan Madura. Tepat pada tahun di mana Diponegoro mulai menggelar perlawanannya yang panjang, Payen mulai mengeksplorasi kawasan pedalaman Jawa, termasuk dengan mengunjungi Borobudur dan Sukuh.

[Pada periode inilah Payen banyak mencatat fragmen-fragmen yang terkait dengan perang yang dikobarkan Diponegoro dalam catatan hariannya. Peter Carey, pada 1988, menerbitkan catatan harian Payen selama bepergian di Jogjakarta dan diterbitkan dalam jurnal Cahiers d’Archipel no. 17 dengan judul Voyage à Djocja-karta en 1825: The Outbreak of the Java War as Seen by a Painter]

Di setiap kawasan yang dikunjunginya, Payen selalu menghasilkan lukisan yang mengabadikan tempat-tempat atau peristiwa yang dianggapnya indah dan menarik. Realismenya terkesan sederhana, tidak berlebihan, juga tak mencolok. Terkadang ia hanya melukiskan lanskap alam, sebagiannya lagi ia imbuhi dengan gerak dan aktivisme manusia.

Tapi, bahkan dalam lukisan-lukisannya yang menggambarkan “sedikit keriuhan” sekali pun, suasananya terasa teduh, misalnya dalam lukisan gerbang pelabuhan Ternate yang dijadikan cover buku Ibu Maluku: The Story of Jeanne van Diejen atau lukisan tentang satu kawasan di Batu Tulis, Bogor. Lukisannya tentang letusan Gunung Galunggung juga lebih menguarkan aura yang sedikit teduh, bukannya gempar nan mengguncangkan.

Suasana teduh, tenang, indah dan jauh dari gejolak inilah yang kelak disebut-sebut sebagai ciri lukisan bergaya “mooi-Indie” a.k.a Hindia-Molek.

Saya belum begitu yakin pada gambaran Marie-Odette Scalliet yang menyebut bahwa sebelum kedatangan Payen tak banyak pelukis atau juru-gambar yang punya intensitas dan intimasi pada lukisan lanskap. Pernah saya baca tulisan Controversy and Change: 19th and Early 20th Century Landscape Paintings in Indonesia and Malaysia, tapi lupa saya apakah di situ Payen disebut juga salah satu pelukis pertama yang menggeluti dengan intens genre lukisan lanskap.

Pada 1988 di Jakarta, pernah berlangsung pameran lukisan yang memamerkan 49 lukisan bercorak mooi-Indie. Satu-satunya lukisan Payen yang ikut dipamerkan ternyata menjadi lukisan tertua. Dari catatan Agus Dermawan, saya tahu, lukisan Payen itu berjudul “Pohon Tua” berukuran 33 X 23 cm. Kemungkinan besar, lukisan dimaksud adalah lukisan yang menggambarkan kawasan Batu Tulis, Bogor.

[Sayang saya belum membaca buku susunan Annabel Gallop, Early views of Indonesia; Drawings from the British Library, yang edisi Indonesia-nya diterbitkan oleh Yayasan Lontar. Buku itu mungkin bisa memberi gambaran lebih tajam mengenai pokok masalah ini. Saya menduga, buku itu akan menyebut-nyebut Thomas Hirsfield, seorang Amerika, yang datang ke Jawa pada 1800. Hirsfield punya minat yang besar pada soal botani dan pernah pergi ke Ciampea dengan Payen untuk mendapatkan sampel buah ara yang akan digambarnya]. (Bersambung)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan