-->

Lainnya Toggle

Mimpi Membaca Jadi Gaya Hidup

Oleh Joko Susanto

Nasib Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Perpustakaan Surabaya hingga Juni 2009 belum menemui titik terang. Sanksi pidana yang belum tegas diatur masih menjadi tarik ulur (suarasurabaya.net). Padahal, sejak empat tahun lalu, produk hukum yang terkait dengan minat baca itu sudah hangat diperbincangkan. Beberapa pengusaha mal di Surabaya malah merasa keberatan kalau sanksi pidana disahkan dalam raperda.

Kepedulian pihak eksekutif dan legislatif mengenai minat baca sebetulnya layak diapresiasi. Namun, perlu diingat, perda bukanlah satu-satunya juru selamat atas kusutnya masalah itu. Problem rendahnya minat baca adalah persoalan kompleks. Ada faktor lain seperti budaya baca, mahalnya buku, dukungan keluarga, pengaruh televisi, dan persebaran perpustakaan yang belum merata. Dari titik itu saja, sudah banyak penyebab yang mesti diatasi.

Menurut rencana, jika perda itu sudah tuntas dan diberlakukan di Surabaya, tiap fasilitas umum seperti mal, plaza, terminal, stasiun, bandara, dan pelabuhan wajib menyediakan taman bacaan atau sudut baca. Bila tidak, ada sanksi yang siap menanti.

Meski terlihat sepele, taman bacaan sangat berperan. Bagi kalangan berduit, membeli buku mungkin tidak masalah. Namun, bagi keluarga ekonomi pas-pasan, untuk beli buku, mereka masih perlu berpikir panjang. Padahal, kini ke toko buku tidak bisa sekadar melihat-lihat. Sebab, mulai ada tren para penerbit membungkus bukunya dengan plastik. Buka berarti beli.

Undang-Undang No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan mengharuskan pemerintah daerah membuat perda tentang pengelolaan perpustakaan. Beberapa daerah, misalnya Semarang, sudah memilikinya. Perda itu diharapkan mampu meningkatkan kinerja perpustakaan dan minat baca pelajar dan masyarakat umum. Selain itu, koleksi buku diharapkan bertambah dari waktu ke waktu. Perda pengelolaan perpustakaan merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan bantuan dari perpustakaan nasional, baik bantuan buku, program, maupun sarana dan prasarana.

Perpustakaan mengemban misi mulia yang bertanggung jawab untuk mencerdaskan pengunjung lewat koleksi yang dimiliki. Meski perda belum disahkan, pembuat kebijakan sudah menunjukkan iktikad baik untuk mengurai benang kusut masalah dan mencari solusi lewat penanganan yang integralistik dengan menggugah unsur partisipatif masyarakat. Benar kata pepatah, daripada memaki kegelapan lebih baik segera bangkit dan menyalakan lilin meskipun kecil.

Pada pasal 6 raperda disebutkan, setiap penyelenggara tempat dan atau fasilitas umum wajib menyediakan taman bacaan atau sudut baca serta wajib mendaftarkan di Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya. Fasum yang dimaksudkan pasal itu meliputi fasum komersial dan fasum sosial. Fasum komersial, di antaranya, mal, plaza, rumah sakit, restoran, dan salon. Sedangkan fasum sosial, antara lain, taman kota, rumah susun, dan balai kelurahan.

Daya dan minat baca masyarakat kita tergolong masih rendah. Berdasar hasil riset World Bank dan IEA (International Association for the Evaluation of Education), peringkat kebiasaan membaca anak Indonesia paling bontot bila dibandingkan dengan negara Asia lain. Bila skor Tiongkok 75,5, Singapura 75,0, Thailand 65,1, Filipina 52,6, Indonesia hanya meraih skor 51,7. Tak hanya itu, kemampuan membaca rata-rata siswa SD dan SMP di Indonesia berada di urutan ke-38 dan ke-34 di antara 39 negara. Memprihatinkan.

Tak hanya di Surabaya, secara nasional, kondisi perpustakaan, apalagi di sekolah, masih memprihatinkan. Menurut Fuad Hasan (2001), di antara 200.000 sekolah dasar, hanya sekitar 1 persen yang punya perpustakaan standar. Di antara sekitar 70.000 sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), baru 34 persen yang memiliki perpustakaan standar, dan di antara sekitar 14.000 sekolah menengah umum, hanya 54 persen yang memiliki perpustakaan standar. Di luar sekolah, perlu disediakan perpustakaan desa/kelurahan, masjid, pojok baca, dan sejenisnya, terutama bagi warga yang jauh dari lokasi perpustakaan.

Bagi masyarakat yang makin terkontaminasi budaya dan intervensi global, ada baiknya upaya menumbuhkan perilaku gemar membaca dibangun sebagai bagian dari gaya hidup (lifestyle) metropolitan. Tidak seperti pendekatan klasik yang memersepsi membaca semata sebagai proses pencerdasan bangsa. Dengan menempatkan kegiatan membaca sebagai bagian dari atribut, simbol, dan gaya hidup masyarakat, bukan tidak mungkin kegiatan membaca tumbuh menjadi bagian dari budaya massa yang mengasyikkan (Rahma Sugihartati:2008).

Ada atau tidak perda perpustakaan, langkah nyata dan partisipasi berbagai lapisan masyarakat sangatlah penting. Buku adalah jendela dunia. Di dalam buku terdapat harta karun yang sangat berharga berupa ilmu. Sadar menyediakan buku atau bacaan lain bagi kalangan yang kesulitan mendapatkannya merupakan gebrakan yang harus dimasyarakatkan. Penulis kadang membayangkan kapan di Surabaya atau Jawa Timur ada Rumah Dunia ala Gola Gong di Serang, Banten, yang aktif menyediakan buku dan aktivitas kepenulisan tanpa terpengaruh perda.

Untuk menggugah kesadaran warga masyarakat metropolis yang heterogen, perda perpustakaan memang relevan. Pengesahan raperda dan penegakan implementasinya perlu dukungan dan pengawasan bersama. Spirit meningkatkan minat baca masyarakat harus terus digelorakan. Saatnya sosialisasi yel-yel “Ayo ke perpus! Ayo ke Taman Bacaan!” terutama kepada generasi muda.

Sebuah perda tetap memiliki potensi plus-minus. Namun, keaktifan dan prasangka baik semua pihak akan menjadikan ketetapan itu lebih memiliki manfaat daripada mudarat. Apalagi, daerah-daerah lain di Jatim ingin melihat kesuksesan pilot project itu. Semoga pojok baca makin bertebaran di berbagai sudut kota dan warga antusias menyambutnya.

Joko Susanto, Pencinta buku, pendiri Taman Bacaan Anak Ilman Nafian Sidoarjo

* Dinukil dari Harian Jawa Pos Edisi  14 Juni 2009

Lihat sanggahan atas esai ini berjudul: Membaca Sudah Jadi Gaya Hidup Kok

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan