-->

Kronik Toggle

Menyentuh Para Tahanan dengan Buku

Senin (15/6) siang di Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, panas sungguh terik. Meski demikian, ratusan tahanan dan narapidana di balik pagar besi tampak antusias menyaksikan ”pemandangan baru”. Di gazebo Lapas, kini ada Perpustakaan Kompas Gramedia, yang siang itu diresmikan H Muhammad Sueb, Direktur Bina Bimbingan Kemasyarakatan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Departemen Hukum dan HAM.

”Keberadaan perpustakaan, yang buku-buku dan raknya merupakan sumbangan Kompas Gramedia ini sangat berarti dalam pembinaan. Adanya perpustakaan ini di luar angan-angan, di luar pikiran,” kata Sueb.

Perpustakaan itu mengambil luas sepertiga luas gazebo, sekitar 6 x 10 meter persegi. Menurut Kepala Lapas Kelas I Cipinang Haviluddin, Kompas Gramedia menyumbangkan 1.200 eksemplar buku tentang berbagai hal dan 20 rak buku untuk perpustakaan itu.

”Kompas Gramedia akan berlanjut setiap bulan memberi bantuan buku dan juga memberikan pelatihan penataan perpustakaan untuk para binaan dan petugas,” ujarnya.

Menurut Haviluddin, keberadaan perpustakaan ini akan sangat membantu para binaan. Pasalnya, di antara 250 orang tahanan dan narapidana, terdapat 81 orang yang kuliah S-1 Hukum, bekerja sama dengan Universitas Bung Karno.

Dia mengatakan, sejumlah terpidana ada yang menulis buku, antara lain Rahardi Ramelan yang menulis Cipinang Desa Tertinggal. K Theo F Toemion juga menulis buku Uang & Malapetaka Dunia: Hancurnya Neokapitalisme & Neoliberalisme (terbitan Verbum Publishing, Juni 2009). Sebelumnya, Theo di penjara juga menulis buku Krisis Pertama Indonesia (terbitan Gramedia, 2006).

CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo mengatakan, hidup memang sebuah pilihan. Apakah memilih jalan yang gelap atau terang. Meski demikian, Agung mengakui banyak hal lain yang harus disentuh.

Barangkali, dengan keberadaan perpustakaan itu, bentuk sentuhan lain itu bisa menjadi kenyataan. Yang dimaksud Agung, dengan membaca buku, mata hati para binaan bisa disentuh. Dengan membaca, kita perkaya wawasan. Karena itu, di salah satu dinding perpustakaan tertulis kalimat berbunyi; ”Gemar membaca kaya wawasan”.

Pada peresmian itu, tampak hadir Direktur Bina Latihan Kerja dan Produksi Ditjen Pemasyarakatan Departemen Hukum dan HAM Amalia Abidin dan Kepala Kanwil Departemen Hukum dan HAM DKI Jakarta Asjudin Rana.

Pada kesempatan itu, binaan Lapas menampilkan tarian dari Nanggroe Aceh Darussalam dan alunan lagu oleh kelompok band binaan lapas. ”Binaan lapas juga ada yang mencipta lagu-lagu,” kata Haviluddin.

* Dinukil dari Harian Kompas Edisi 16 Juni 2009

3 Comments

teguh pustakawan um - 19. Jun, 2009 -

segenap warga negara, tidak terkecuali tahanan / Napi wajib memperoleh pengetahuan. Apalagi sekarang memasuki era keterbukaan informasi.

diana - 21. Jun, 2009 -

jadi teringat tawaran mengajar di lapas yang tak bisa kupenuhi.
Sepertinya asyik juga mengajak dan mengajari mereka menulis.
Bukan kah sudah terbukti, menulis jad kawan dan obat mujarab melawan kesunyahan penjara yang mengguncang jiwa?

Ahmad Subhan - 25. Jun, 2009 -

Baca berita ini bikin saya teringat film “Shawshank Redemption” yang menyisipkan cerita tentang perpustakaan di penjara Shawshank.

Salut buat Kompas-Gramedia yang menyebarkan pengetahuan lewat perpustakaan tanpa pandang bulu.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan