-->

Lainnya Toggle

Membaca Sudah Jadi Gaya Hidup Kok

Oleh Dwi Prihastuti

Sebagai pustakawati dan praktisi minat baca, hati saya merasa mak nyus (pinjam istilah Bonda Winarno) saat membaca opini berjudul “Mimpi Membaca Menjadi Gaya Hidup” yang ditulis Joko Susanto (Jawa Pos 14/6). Saya merasa mak nyus lantaran, di tengah suhu politik yang menghangat menjelang pilpres 8 Juli, masih ada yang perduli terhadap persoalan minat baca.

Saudara Joko menampilkan riset World Bank dan IEA (Internasional Association for The Evaluation of Education), yang menyatakan daya dan minat baca masyarakat kita tergolong rendah. Peringkat kebiasaan membaca anak Indonesia paling bontot dibandingkan negara lain di Asia.

Artikel Saudara Joko juga menyentil Raperda Perpustakaan yang tak kunjung menemukan titik terang. Padahal, raperda tersebut diharapkan bisa berdampak signifikan bagi pertumbuhan minat baca masyarakat. Saya sebut “bisa berdampak” karena, dalam implentasinya, raperda tersebut bisa jadi tidak berdampak positif bagi perkembangan minat baca.

Hal itu, tampaknya, juga disadari oleh saudara Joko. Karena itu, dia menyatakan bahwa perilaku gemar membaca sebaiknya dibangun sebagai bagian dari perkembangan gaya hidup metropolitan. Bukan semata sebagai proses pencerdasan bangsa. Ada atau tidak perda perpustakaan, partisipasi berbagai lapisan masyarakat sangat diperlukan.

Meski tidak 100 persen, saya sepakat dengan Saudara Joko, terutama soal perilaku gemar membaca sebagai bagian dari perkembangan gaya hidup metropolis. Menurut saya, jika membaca dikaitkan dengan perkembangan gaya hidup, saat ini membaca justru sudah menjadi bagian dari gaya hidup metropolis.

Tak percaya? Coba ke pelbagai mal (sebagai salah satu unsur gaya hidup metropolis). Kita akan temukan seorang atau beberapa orang asyik mengutak-atik black bery atau laptop untuk meng-up date status di Facebook, mengomentari status rekannya, atau membuat catatan. Aktivitas tersebut, tentu, tidak mungkin dilakukan tanpa membaca.

Diakui atau tidak, gadget black berry yang memungkinkan seseorang mengakses dunia maya 24 jam sehari dan situs pertemanan facebook telah menjadikan aktivitas membaca sebagai salah satu gaya hidup metropolis. Membaca dan mengomentari status rekan di facebook bahkan telah menjadi candu. “Sehari tidak up date status atau baca status teman, hidup ini rasanya tidak lengkap,” kata beberapa teman.

Tapi, tentu bukan sekadar membaca seperti itu yang kita harapkan menjadi gaya hidup. Saya dan Saudara Joko, juga pemerhati lain, pasti sepakat bahwa harus ada nilai lebih dari aktivitas membaca.

Sesuai esensinya, ada dua tujuan membaca, rekreatif dan informatif. Aktivitas ber-facebook umumnya dikategorikan membaca yang bersifat rekreatif. Namun, bisa juga aktivitas itu informatif. Sebab, begitu banyak informasi yang disajikan para facebooker (pemilik account face book), yang memang berasal dari beragam profesi. Dari siswa SD hingga profesor seperti Soetandyo Wignyosubroto. Dari pekerja biasa hingga Wakil Wali Kota Arif affandy. Dari orang biasa seperti saya hingga artis seperti Luna Maya.

Membaca status atau catatan teman bisa membuat saya tersenyum, sedih, terharu, atau tertawa. Tapi, saat membaca catatan Prof Sutandyo, saya merasa tercerahkan. Simak saja statusnya yang ditulis pada 15 Juni. “Pagi-pagi ditanya teman, apa yang dinamakan profesional itu? Profesional itu tak hanya bermakna ahli, tapi juga beretika, etika yang ditegakkan demi kehormatan diri. Di negeri ini, yang ahli hukum sering tak beretika kemanusiaan, sedangkan yang beretika banyak yang tak terlalu mengenali liku-liku hukum undang-undang yang tengah berlaku”. Sungguh informatif dan mencerahkan.

Atau, simak status yang ditulis Wawali Arif Affandy (dalam profilnya tertulis Wakgus Arif Affandy). Pada 16 Juni, Arif menulis, “Besok ke Pekan Baru mewakili wali kota berdiskusi tentang otonomi daerah dengan Depdagri. Masihkah gubernur perlu dipilih langsung? Apakah tidak menghemat kalau ditunjuk presiden? Kan gubernur adalah wakil pemerintah pusat di daerah?” Tidakkah itu relevan, mengingat pengalaman pilkada Jatim yang berlangsung hingga tiga putaran dan menghabiskan dana hampir Rp 1 triliun?

Penggiat minat baca, seharusnya, tertantang untuk memanfaatkan demam facebook menjadi sesuatu yang positif, inspiratif, dan konstruktif sebagaimana yang dilakukan dua tokoh tersebut. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah membentuk grup minat baca, sebagaimana grup LPFDT library, grup badan perpustakaan dan kearsipan provinsi Jawa Timur, atau grup dunia buku.

Belakangan muncul pula beberapa account seperti Buku Kita, Komunitas Buku, Dunia Buku Kita, dan Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI). Mereka memanfaatkan facebook untuk memproklamasikan eksistensi sekaligus menyebarkan virus minat baca.

Melalui grup atau account tersebut, kita bisa berbagi pengalaman dan tip meningkatkan minat baca. Yang penting, di era teknologi digital ini, kita jangan terpaku pada aktivitas membaca text book. Saya percaya, dampak kelompok-kelompok itu akan lebih besar daripada menunggu perda yang tak kunjung tiba.

Terakhir, jika Saudara Joko membayangkan di Jatim ada tokoh sekaliber Gola Gong, yang membuat taman bacaan bernama Rumah Dunia di Serang, di Surabaya juga ada kok. Mungkin malah lebih hebat. Gola Gong memang mengawali karir sebagai penulis. Wajar jika dia mendirikan taman bacaan. Di Surabaya ada Kartono, mantan mucikari yang mampu mendirikan taman bacaan Kawan Kami di Jalan Putat Jaya. Bersama Diah Litasari, penemu metode belajar membaca cepat Kubaca, Kartono termasuk sosok langka di Metropolis.

Jangan lupakan pula Oei Hiem Hwie, Pembina Perpustakaan Medayu Agung Surabaya yang mengkhususkan diri mengkoleksi berbagai buku langka dan benda bersejarah tentang Indonesia. Mereka merupakan bukti bahwa menumbuhkan minat dan budaya baca tak perlu bergantung pada perda.

Dwi Prihastuti, Pustakawati SD Al Falah Darussalam Tropodo

* Dinukil dari Harian Jawa Pos Edisi Minggu 28 Juni 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan