-->

Kronik Toggle

Mahalia Purba: Ada Apa dengan Kejaksaan?

Kejaksaan mengawasi barang dan benda yang dianggap bisa mengganggu ketertiban umum sudah biasa. Tapi bagi sebagian orang yang hidup di alam kebebasan, tetap saja tindakan-tindakan yang “berdasarkan hukum” itu mengherankan.

“Saya tercengang mengetahui informasi bahwa ada 5 buku yang telah dan sedang dibahas oleh Bagian Intelijen Kejagung saat ini. Saya bertanya ada apa lagi ini, dan kemana arahnya ini?” kata Mahalia Purba.

Pekerja kemanusiaan yang berdomisili di Jakarta ini menuturkan bahwa di antara dua buku yang sedang di-“clearing house” kejaksaan itu sudah dibacanya, yaitu Dalih Pembunuhan Massal karya John Roosa dan Lekra Tak Membakar Buku karya Rhoma Ria dan Muhidin M Dahlan.

Menurutnya, tidak ada bagian dalam dua buku yang sedang saya baca yang mengandung hal-hal yang membahayakan. Buku-buku itu adalah buku-buku yang penulisannya melalui proses riset yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Bagi saya membaca kedua buku tersebut adalah mengenal kembali bagian sejarah bangsa saya yang selama ini saya rasakan terlalu misterius dan saya yakin ada banyak anak bangsa yang juga berpendapat demikian walaupun belum merupakan mayoritas secara jumlah. Kedua buku tersebut mengajak kita kembali untuk melihat hiruk pikuk sekumpulan anak bangsa dalam usaha mereka menyumbang pada pembentukan pribadi Indonesia. Membahayakankah ini?” jelas lulusan Fakultas Kedokteran UI 2003 yang saat ini bekerja di LSM internasional (Palang Merah Australia) di Aceh ini.

Karena itu, lanjut Mahalia, Bagian Intelijen Kejagung RI diharapkan bisa lebih bijaksana dalam membahas buku kali ini. Sudah tidak jamannya lagi membahas buku yang dianggap membahayakan terutama jika tidak dapat menunjukkan secara ilmiah bagian yang membahayakan tersebut.

Perlu juga diingat bahwa negara menjamin kebebasan berpendapat setiap warga negara dan bagi saya kebebasan berpendapat ini mencakup juga berpendapat melalui buku, apalagi buku yang ditulis melalui proses riset. Sejarah kita tidak sepenuhnya terang benderang. Sejarah kita pun memiliki masa yang kelam. Sejarah kelam itu tidak dapat terus menerus kita abaikan jika kita masih ingin menjadi bangsa yang besar.

Mari bersama membuka fakta sejarah agar terobati luka demi Indonesia Raya! (Gus Muh)

1 Comment

aisha - 19. Jun, 2009 -

karena gak bisa ngurusin koruptor kabur, makanya ngurus yang perlu diurus… capcaaaayy deh!

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan