-->

Suplemen Toggle

Joni ‘Wiono’ Ramlan: Berguru Melukis Pada Buku

joni

Joni Ramlan

Joni Ramlan. Nama sejatinya Wiono, karena lidah orang Jawa sering menyisipkan huruf “Y”, kawan-kawan semasa kecilnya memanggilnya ‘Yono’. Lalu lama kelamaan terpeleset lidah Jawa itu menjadi ‘Jono’. Kemudian terpeleset lagilah lidah itu menjadi “Joni” yang lebih ngepop. Ramlan adalah nama ayahnya, Ramlan Sawie Mulya. Joni Ramlan kemudian melekat sebagai trade mark di jagad seni rupa.

Tak ada darah seni menurun dari keluarga Joni. Awalnya, ia lebih tertarik pada seni musik. Joni memilih belajar not balok dan menekuni alat musik bass guitar. Jenis musik dangdut, rock, jazz, etnik, klasik semua dijajalnya. Namun musik dirasanya kurang personal, perlu kerja tim, dan dia tak menemukan komunitas yang cocok. Maka ia pun beralih. Setelah tamat Sekolah Menengah Atas ia pun mulai menekuni dunia seni lukis.

Tak ada guru, tak ada pembimbing. Ia belajar melukis seorang diri, dengan caranya sendiri. Pemandu kompasnya adalah: perjalanan dan buku.

Bagi Joni, membaca adalah mengamati, merasakan, dekat, akrab, dan akhirnya memahami. Maka ia pun melakoni perjalanan panjang dengan menunggang motor trail-nya menyusuri Surabaya, Pasuruan, Malang, Banyuwangi, Solo, Semarang, Jakarta, hingga tanah Parahyangan, Bandung. Dia tertarik sekali untuk membaca kehidupan orang-orang pinggiran di kota-kota tua. Orang desa menganggap kota sebagai tempat yang lebih menjanjikan dan mencoba hidup di kota karena ingin berusaha maju meski dengan bekal seadanya. Karena bekal pas-pasan, akhirnya yang menjadi jujugan adalah kota-kota tua di pinggiran itu.

Dari proses pembacaan Joni tentang kota-kota tua itu, ia kemudian bisa merasakan, dekat, akrab dan faham dengan realitas hidup orang-orang pinggiran. Mereka sebenarnya belum siap untuk jadi orang kota karena modalnya pas-pasan. Seringkali malah dinggap pemerintah kota hanya membuat kotor saja. Realitas-realitas inilah yang coba ia bacai dan tuangkan dalam goresan kuasnya.

Seperti lukisan sepeda yang ia jadikan simbol kehidupan orang-orang pinggiran. Bagi tukang besi tua, tukang sayur, pemulung, dan pedagang keliling, sepeda itu betul-betul menjadi bagian hidupnya. Dengan melihat sepeda yang tua, karatan, dan aus, Joni seperti melihat sepeda itu bercerita tentang keras dan beratnya laku kehidupan penunggangnya. Demikian juga dengan bangunan-bangunan tua. Panjangnya waktu yang dilampaui untuk bertahan, menjadikan bangunan itu menuturkan dengan sendirinya kisah-kisah kehidupan sebuah kota yang tergerus roda jaman. Joni menyukai benda-benda yang dari bentuknya saja ia sudah bisa bercerita. Perjalanan mengajarinya cara ‘membaca’ dengan makna.

Sadar bahwa ia bukan pelukis yang punya pendidikan khusus di bangku sekolahan, Joni memilih buku sebagai gurunya. Ia membaca buku apa saja, sedikit-sedikit, seperlunya. Buku tentang senirupa dan kisah biografi perupa lebih ia minati. Sebut saja misal buku Cornelis Springer, Hendrik Dubbles,dan Charles Bloom yang membantunya membuat lukisan repainting di awal karir melukisnya. Ia juga membaca majalah senirupa seperti Visual Art. Dari sana ia mendapat masukan dari kurator-kurator tentang bagaimana seharusnya agar perupa bisa maju.

Meski merasa perlu belajar sastra, tapi ia gagal menjadi penikmat. Menurutnya, sulit menangkap bahasa sastra. Jadi seperlunya saja. Maka ketika diminta menyebut satu nama penulis sastra, ia tertawa dan mengingat-ingat, lalu menyebut satu nama:Pramoedya.

Joni bukan pembaca buku yang tekun, karena ia lebih suka sedikit teori tapi banyak bekerja. Ia tak pernah mencari buku di perpustakaan. Buku-buku itu ia pinjam saja. Ada beberapa yang sengaja ia beli karena ia memang suka dan butuh isi buku itu. Baginya, membaca cukup menyehatkan bagi pelukis, selama isi buku itu memberi masukan bagi proses berkaryanya. Salah satu buku yang paling diingatnya adalah buku tentang pelukis Affandi yang ditulis Umar Kayam walau ia lupa siapa penerbitnya.

Buku Affandi menyimpan sejarah penting baginya. Ketika itu sekitar tahun 1992. Harga bukunya 115 ribu. Joni sangat mengidolakan Affandi maka ia ingin sekali memiliki buku itu. Baginya, goresan kuas Affandi benar-benar mewakili karakter pelukisnya. Dan ia menyukainya. Maka meskipun dalam keadaan tidak punya uang, ia berusaha mati-matian untuk membeli buku itu. Dengan kemampuan melukis yang pas-pasan, ia buat lukisan-lukisan mungil seharga 10 ribu. Hasil penjulan seratus lebih lukisan itu lah yang mengantarkan buku Affandi ke pangkuannya. Dengan buku itu, ia menyerap kisah perjalanan dan semangat berkarya sang maestro. Affandi, bagi Joni sangat berpengaruh pada awal perjalanan melukisnya. Sekarang, jika butuh menyegarkan semangat berkarya, ia sempatkan menilik Jogja dan menyerap kembali energi idolanya itu di Museum Affandi.

Karena tahu buku itu adalah guru, maka Joni ingin anak-anaknya dekat dengan buku. Meski tidak ada ada dana khusus untuk beli buku, sesekali ia ajak anaknya ke toko buku atau ia suruh meminjam buku di perpustakaan. Joni sudah membuktikan bahwa belajar tak melulu dari sekolah dan guru, karena buku juga bisa menjadi guru. Buku adalah guru lukisnya. Perjalanan adalah membacanya. (Diana AV Sasa)

Pameran Bersama :2001 Kwarta Artistika (Rupa Gallery, Surabaya) 2002 The Colour of Nature (Padi Gallery, Malang), 2003 Borobudur International Festival (Museum Widayat, Magelang), 2004 Membaca Peta Senirupa Jatim (Taman Budaya, Surabaya) 2005 Bienalle Jogja VIII “Disini & Kini” (Taman Budaya, Yogya), 2006 Homage 2 Homesite (Jogja National Museum, Yogya), 2007 Illustrasi Cerpen Kompas Tour Exhibition (Jogja, Bali, Malang, Jakarta) 2008 Finalis Indonesia Art Award (Galeri Nasional, Jakarta), 2009 C-Art Show(Grand Indonesia Hotel, Jakarta, Indonesia) 2009 Indonesia Art Festival (Ritz Carlton, Jakarta, Indonesia) 2009 Celebration (The PEAK Contemporer Art Gallery, Jakarta, Indonesia)

Pameran Tunggal : 2009 Menggantung Masa Lalu (Orasis Gallery, Surabaya, Indonesia)

KUTIPAN :

(1)   “Joni adalah seorang pelukis yang tertarik pada obyek-obyek yang cenderung archaic, yang mengguratkan narasi sejarah dibaliknya. Joni mengubah problematika masa lalu, untuk karya-karya seni lukisnya, dengan perenungan, kedalaman, dan penuh penghayatan”(Suwarno Wisetrotomo, Kurator)

(2) “Membaca adalah mengamati, merasakan, dan memahami. Untuk bisa melukis saya harus sampai pada tahap memahami”.

1 Comment

gatot soemarjono - 02. Sep, 2012 -

joni aku temanmu semasa smp di wirobiting prambon. aku sangat salut dan terimpirasi dengan karya karyamu juga narasimu

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan