-->

Lainnya Toggle

Jangan Bikin Malu di Buku Pelajaran

Oleh Muhidin M Dahlan

Kronik perbukuan yang saya himpun mencatat banyak kasus yang memalukan. Di antaranya adalah PT Bintang Ilmu, distributor tunggal yang ditunjuk Depdiknas di Cianjur, Jawa Barat, untuk produk peningkatan mutu, ternyata ketahuan mengirim buku porno di Pekalongan.1

Masih di Cianjur. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Cianjur meminta pendistribusian buku pelajaran ”Seri Pahlawan Nasional” untuk siswa sekolah dasar, yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK), ditarik. Sebab, gambar jilid salah satu buku, yakni Seri Pahlawan Ki Hajar Dewantara, dibuat dalam bentuk karikatur. Oleh Dewan, buku itu dianggap tidak mendidik dan tidak menghargai nilai kepahlawanan. Di sana digambarkan Ki Hajar Dewantara, dengan bentuk bibir dan hidung yang tidak proporsional. Menurut Dewan, itu bukan masalah kebebasan berekspresi, melainkan jelas-jelas tidak mendidik. Buku itu diterbitkan PT Grasindo.2

Investigasi Majalah Tempo3 pada awal alaf ketiga,  membeber data gila-gilaan atas praktik pengadaan buku pelajaran 1995-1998. Jalan haram, pat-gulipat, dan kesalahan elementer dilakukan terang-benderang oleh penerbit-penerbit pemenang tender, seperti Cempaka Putih (Intan Pariwara), Rosda Karya, Multi Trust, Mizan, dan lain-lain.

Ambil saja Penerbit Rosda yang memenangkan tender untuk buku Sejarah (1997-1998), Matematika (1998-1999), Biologi (1999-2000). Untuk buku matematika, Rosda mengantongi uang 26,3 milyar. Dan inilah wajah buku yang diterbitkannya: menjiplak buku karangan Dr Wahyudin dari penerbit Epsilon Group. Mizan yang mengantongi duit 24.3 milyar juga mengambil jalan menyelimpang: menjiplak buku yang dijiplak Rosda hingga titik komanya.

Kalau bukan menjiplak, penerbit itu seenaknya mencatut nama penulis yang sudah terkenal. Lagi-lagi nama Wahyudin dipalak. Kini penerbit kurang ajar itu bernama Multi Trust. Dengan “kreatif”, nama Wahyudin ditambahkan Jumanta. Geleng-gelenglah Wahyudin asli ketika banyak orang yang menelponnya untuk konfirmasi isi buku.

Jika bukan menjiplak, biasanya isinya amburadul. Buku Fisika Jilid I pemenang tender Bank Dunia dan diterbitkan PT Multi Trust oleh tim ahli yang tahu bidang ini ditemukan kesalahan mendasar. Pada halaman 62 di buku itu diberi contoh seorang anak yang melempar bola setinggi 60 meter tatkala menerangkan gaya vertikal. Bagi orang yang tahu, jelas itu contoh ngawur dan tak merangsang logika siswa karena tak mungkin seorang anak bisa melempar setinggi 60 m.

Ironis memang. Padahal buku-buku itulah yang menjadi santapan pikiran jutaan anak-anak sekolah kelas kere di seluruh penjuru tanah air.

Dana yang digelontorkan untuk mendanai racun pikiran 1995-1998 itu tak main-main: US$ 172,8 juta. Rinciannya: pinjaman dari Bank Dunia US$ 132,8 juta dan dari APBN US$ 40 juta.

Semua dana itu statusnya utangan. Bank Dunia sebagai pihak yang meminjamkan sempat menyetop bantuan dan minta penyelidikan. Dan muncullah daftar-daftar penerbit gelap. Hingga 2004, kelelawar-kelelawar buku itu masih gentayangan yang membuat berang Bank Dunia. Si pengucur pinjaman itu meminta Pemerintah RI membayarkan kembali $10 juta dari pinjaman yang telah diberikan untuk pengadaan buku tahun 2004. (Bersambung)

END NOTE:

  1. Diunduh dari milis sastra-pembebasan. 5 Februari 2009. “Distributor Tunggal Depdiknas (PT. Bintang Ilmu) Edarkan Buku Menghina Pahlawan”. Pengirim: Robert Sianturi.
  2. Koran Tempo. 30 Januari 2008. ” DPRD Cianjur Tarik Buku pelajaran ‘Seri Pahlawan Nasional’. Kenapa?”
  3. Tempo. Edisi 5 November 2000. “Skandal Proyek Pengadaan Buku Sekolah: Rajin itu Pangkal Bodoh”.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan