-->

Suplemen Toggle

Dipo Andy, Bukan Buku tapi Televisi

Dipo Andy

Dipo Andy

Jika kau bertanya apa arti membaca bagiku, maka jawabku adalah membaca tanda-tanda. Pembacaan atas tanda-tanda itu melahirkan pengertian atas situasi psikologis masyarakat. Tentu tanda yang kubaca bukanlah tanda yang sudah sangat jauh di belakang, tanda tradisional, melainkan perkembangan masyarakat kini dan di sini. Aku berada dalam kereta yang masih beroperasi dan bukan kereta yang sudah disimpan di museum sebagai barang antik dan sesekali dioperasikan untuk memuaskan hasrat para turis atau antikes (pencinta barang antik).

Dan yang paling progresif dari tanda-tanda itu adalah apa yang diproduksi alat-alat elektronik. Mungkin kau menyanggahku. Kenapa bukan buku. Mungkin kau akan bilang, bukankah barang-barang elektronik itu sampah yang memproduksi kedangkalan, kebanalan, dan tak ada sama sekali refleksi di dalamnya. Penuh spekulasi. Gosip murahan.

Barangkali kau benar. Tapi tunggu dulu. Kuberitahu bahwa gerak produksi alat elektronik sangat progresif. Ia selalu memperbarui dirinya. Terus-menerus. Sedikit saja lengah, ia akan disalip produk elektronik lainnya. Kubayangkan orang yang bekerja di pabrik elektronik itu adalah orang-orang yang tak pernah bisa tidur karena harus mengawal masa depan setiap detik. Mereka setiap saat mesti terjaga, seperti masyarakat yang tak pernah tidur untuk menyongsong masa depannya. Seperti ucapan gembel-gembel itu: besok mau makan apa. Ucapan gembel itu menurutku sangat kontemporer.

Nah, begitulah. Justru tempat yang kau anggap murahan itu kuletakkan pembacaanku. Dari barang-barang banal itu kucecap inspirasi. Gosip itu menggetarkan kalau kau tahu. Selalu mengejutkan. Walau banyak juga yang membosankan. Penuh repetisi.

Membaca buku itu susah. Sekarang saja aku tak bisa lagi baca buku (tebal) secara tuntas dan total. Karena ternyata setelah kucoba-coba lagi membaca, aku temukan diriku susah sekali berkonsentrasi, karena waktu yang aku pakai adalah waktu sisa-sisa dari kegiatan untuk berkarya. Kau perlu tahu berkarya itu membutuhkan energi dan konsentrasi yang tinggi. Bukan sekedar fisik yang bekerja, tapi pikiran pun diperas untuk menyelesaikan karya. Apalagi beberapa tahun terakhir, aku sangat giat berkarya. Kondisi yang berbeda ketika masih mahasiswa dan beberapa tahun setelahnya.

Selain itu aku sebetulnya muak melihat gaya-gaya orang-orang pembaca buku; mereka itu sombong sekali. Seolah-olah mereka itu lebih hebat dan lebih tahu dari siapa pun. Padahal mereka hanya kutap sana kutip sini. Malu juga aku melihat kesombongan manusia pembaca buku seperti itu.

Tapi kau terus juga memaksaku untuk terus memegang buku. Bahkan meminta menyebutkan 5 buku yang mempengaruhiku. Dengan terpaksa kusebutkan bahwa yang mempengaruhiku adalah Tetralogi Pramoedya Ananta Toer di mana untuk cetakan keduanya setelah lama dibreidel, yakni pada 2002, akulah yang membuat sampulnya. Buku itu mengisahkan perjuangan yang tulus yang terkadang tak terbayar dengan apa yang didapatkan kemudian. Yang penting jalani proses dan yakni akan jalan yang dipilih ditempuh.

Tapi kau menagih satu lagi untuk sampai cukup lima. Jawabku sudah lupa semua. Buku terakhir yang kubaca adalah karya Gabriel Garcia Marquez, Seratus Tahun Kesunyian. Tapi tak selesai. Berat. Adapun buku-buku seni itu soal perkuliahan di ISI Jogja (Institut Seni Indonesia). Tak usahlah disebutkan.

Tapi bukan berarti aku anti bacaan. Toh anak-anakku tetap kuantar ke toko buku. Aku juga masih menyempatkan waktu untuk baca koran dan majalah-majalah seni langgananku, seperti Visual Art, C-Art, dan Arti. Saban bulan aku masih menyempatkan membeli majalah-majalah impor ihwal desain grafis. Semua itu kulakukan agar aku tak ketinggalan isu dunia pop terbaru. Jadi kau sudah tahu bukan, bahwa konsep-konsepku dalam berkarya juga dipengaruhi potongan-potongan artikel isu spekulatif dari bacaan-bacaan pop itu. Dan menurutku, justru dari spekulasi-spekulasi itu memunculkan banyak pertanyaan untuk memulai ide dalam berkarya.

Mesti aku membaca, tapi di sini kuberitahu kepadamu bahwa bukan buku yang mempengaruhi lukisanku, walau kukatakan bahwa sejak 1998 hingga 2003 aku menjadi pembuat sampul buku di banyak penerbitan Jogjakarta. Bahkan aku menjadi salah satu pengelola penerbitan arti.line. Jadi biar begini-begini, aku pernah menjadi orang buku.

Yang mempengaruhiku adalah seleraku yang berhubungan dengan dunia pop, film, dan kecenderungan hidup sehari-hari. Buku sudah tak kubaca. Yang dari luar negeri paling kulihat-lihat saja gambarnya, selain bahasanya tak kumengerti. Bagi seniman seperti aku ini, cukuplah melihat gambar tanpa kata-kata. Dengan menangkap pesan visual aku sudah membangun teori sendiri di mana terkadang konsep yang kupahami berbeda sama sekali dengan konsep yang dibangun oleh gambar itu.

Dari seluruh perjalananku atas pembacaan terhadap masyarakat lewat barang-barang elektronik dan kehidupan pop dan vulgar-vulgar yang tampil di halaman majalah-majalah life style itu, aku kemudian berkesimpulan bahwa lukisan itu mestilah memiliki akar langsung dari kehidupan sehari-hari; sebagai sebuah cara hidup. Aku bukanlah seniman yang beraneh-aneh dalam masyarakat. Aku adalah bagian dari arus besar masyarakat dengan satu semangat: terus menjalani hidup di sini dan kini. Jenis masyarakat yang begitu itu yang kurekam secara terus-menerus di atas kanvas. (Muhidin M Dahlan)

Dipo Andy, Sumbawa, 21 Agustus 1975
1999 Voice of Nation (Intaran Gallery Bandung, Indonesia) 2000 Feminografi (Gelaran Budaya Yogyakarta, Indonesia) 2001 Muka-Kamu-Amuk-Muak: Serigraphy of 500 Face of Indonesia Parliament Member 1999-2004 (Museum Nasional Jakarta, Indonesia) 2002 Bolart: Choreography of Soccer, Serigraphy of 750 Face-World Cup Player 2002 (Museum Olahraga, TMII Jakarta, Indonesia) 2006 Mirror: Masters Revisited (Vanessa Art Link, Jakarta, Indonesia 2008 Passion Fashion (Semarang Gallery, Semarang, Indonesia)

2 Comments

rain rose - 01. Des, 2009 -

mantapppp

ronilantang - 10. Mar, 2011 -

statment-statment mas-mas artis ini seakan-akan jauh dari buku,hidup dimasyarakat,tapi pendapatnya seragam “buku banget”
apakah ini salah satu efek dari membacabuku?

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan