-->

Perpustakaan Toggle

Capek dan Panas Berada di Perpus ISI

Kampus ISI/Gbr: repro highlight-isi.com

Kampus ISI/Gbr: repro highlight-isi.com

Oleh Gus Muh

Dalam pengantar newsletter Jogja Art Fair #1 dituliskan bahwa Jogjakarta menjadi kiblat senirupa Asia. Dalam bahasa agama, Jogja adalah “Mekkah”-nya.

Dan jika berbicara seni di Jogjakarta maka pastilah berbicara tentang Insititut Seni Indonesia (ISI) yang saat ini gedung-gedungnya yang besar berdiri kukuh di Sewon Bantul.

Biasanya untuk melihat sejarah seni dalam kota–dan juga denyutnya–salah satu tolak ukur adalah bagaimana perkembangan literatur dan kuasa perpustakaan menghimpun dan menaunginya. Selain tentu saja peran museum dan galeri.

Seperti apa sih wajah perpustakaan ISI?

Kurator dan direktur perpustakaan alternatif IVAA Farah Wardani agak enggan dimintai komentarnya tentang perpustakaan ISI. “Apa ya. Jelek sih menurutku. Perpustakaan itu kan mestinya memprovok pada penggunanya untuk melakukan aktivitas. Dengan program-program penulisan misalnya. Nggak ada itu. Jadinya buku debuan aja gitu,” katanya.

Lain lagi dengan penulis buku-buku senirupa Mikke Susanto. Menurutnya, perpustakaan ISI sebenarnya potensial untuk mewadahi kurangnya ilmu yang diberikan dosen. Walaupun itu perpustakaan pemerintah. “Yang penting bisa melayani mahasiswa saja sudah cukup. Koleksi yang terus di up date dan kualitas pelayanan yg prima,” ungkapnya.

Sesekali Mikke menggunakan fasilitas perpustakaan ini untuk menulis. Tapi kebanyakan hanya mencari data.

Dalam soal kenyamanan, segendang sepenarian dengan Farah, Mikke juga mengatakan kurang nyaman dalam perpustakaan itu.

“Aku capek dan panas ketika berada di sana. Juga lambat lambat mengoperasionalkan buku-buku yang baru datang,” kata mantan mahasiswa ISI ini.

Karena itu, seandainya dipercayakan mengelola perpustakaan ISI yang dibenahi Mikke pertama kali adalah sarana seperti penggunaan multimedia dan penataan rak yang nyeni dan menyenangkan. Jadi infrastruktur, barulah pelayanan.

“Katalognya saja masih pakai yang di loker-loker loak kayaknya. E sorri, saya sambi display ya.”

Display? Pastilah ini bukan mendisplay rak buku di perpustakaan ISI.

www.ivaa-online.org/

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan