-->

Kronik Toggle

Boediono Luncurkan Buku Ekonomi

Jakarta: Calon wakil presiden pasangan SBY, Boediono meluncurkan buku kumpulan esai ekonomi berjudul Ekonomi Indonesia, Mau ke Mana? “Tulisan ini tulisan lama, ini memang tidak ditujukan untuk kampanye, sebenarnya,” urai Boediono dalam diskusi isi bukunya di perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (15/6)

Buku ini, kata Boediono, untuk mengenalkan pemikirannya dan bagian dari pencerahan terhadap masyarakat. “Barangkali ada gunanya, untuk menentukan nanti Boediono ini bagaimana orangnya,” tuturnya.

Pembahas buku, Faisal Basri, mengelak tudingan Boediono sebagai antek neoliberalisme. Alasannya terlihat pada halaman 30-31 buku ini, yang jelas menunjukkan harus ada campur tangan pemerintah untuk membentuk struktur ekonomi yang kuat. “Jelas ini jauh dari pandangan neolib,” urainya.

Boediono, ujar Faisal, menunjukkan perlu reformasi birokrasi agar pemerintah bisa turun tangan dalam kebijakan ekonomi. Tapi dengan syarat program pemerintah harus detail. “Jangan kayak srimulat, yang hanya diberi script, kemudian improvisasi dalam pelaksanaan,” tambahnya.

Reformasi ini akan menguatkan pemerintah. Sebab, Faisal menambahkan, kegagalan pemerintah jauh lebih merusak tatanan masyarakat daripada kegagalan pasar. Kalau pemerintahan gagal, lima tahun kemudian (Pemilihan Umum) baru bisa dikoreksi. “Tapi kalau pasar yang gagal, kapan saja bisa dikoreksi,” urainya.

Tony Prasentiantono menguraikan konsep neoliberalisme. Menurutnya neoliberal adalah resep generik ekonomi di Washington tahun 1980-an. Resep yang berisi sepuluh poin ini diharapkan dapat mengatasi resesi di Amerika Selatan saat itu. “Indonesia memang menggambil beberapa item, tapi yang diambil bukan yang ekstrem,” jelasnya. Salah satu konsep yang diambil Indonesia adalah  privatisasi.

Privatisasi, Tony melanjutkan, tidak salah, asal sektor yang disasar tepat, seperti nilai ekonominya rendah. Kebijakan privatisasi, justru akan meningkatkan tata kelola. “Lihat ketika Indosat diprivatisasi, akhirnya tarif telpon seluler bisa rendah,” ujar Tony.

*) Dikronik dari Tempointeraktif.com edisi 15 Juni 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan