-->

Suplemen Toggle

Benny Wicaksono : Membaca New Media

benny wicaksono

benny wicaksono

Kamis malam (11/6/09) pelataran Balai Pemuda Surabaya mendadak jadi ajang rave party. Empat orang laki-laki muda, asyik memainkan House music di belakang audio mixer. Di sisi kanan-kiri mereka berdiri 2 televisi layar datar. Layar itu menampilkan gambar dan permainan cahaya yang senada seirama dengan alunan musik. Pengunjung terbius untuk menari bersama. Hingar bingar, spektakuler, penuh asap, tawa, dan kegilaan. Siapa menyangka jika itu adalah sebuah acara pembukaan pameran seni? Tak ada tamu kehormatan, tak ada gong dipukul, apa lagi pita digunting. Tapi itu benar-benar pembukaan pameran seni. Surabaya International Video Festival 2009.

Dan seseorang dibalik ide gila itu tersebutlah satu nama: Benny Wicaksono. Ia seorang video jockey dan penggerak pameran video art.

Ben, kamu sejak kapan tertarik video art?

Kalau aku sih dari SMA sudah tertarik banget dengan dunia seni visual. Aku banyak tahu dari majalah-majalah. Makanya aku ngebet banget pengin kuliah di akademi seni. Waktu itu aku pilih ISI Jogja. Tapi 2 kali test masuk, tetep nggak masuk. Akhirnya, karena pilihannya harus tetap di dunia seni, ya udah, aku masuk desain grafis UK Petra. Sayang, aku gak bisa lulus juga dari kampus itu. Dunia seni lebih menarik bagiku ketimbang kampus. Dan pilihanku jatuh pada seni video.

Sejak 1999 aku sudah kepengin banget bikin pameran tunggal. Jadi aku buat aja pameran kecil-kecilan. Disitu sebenarnya, jejak-jejak karyaku yang sampai sekarang tuh muncul. Sistem Saluran Televisi Terbuka, Close Circuits Television, itu sampai sekarang masih jadi idiom dalam karya-karyaku. Keinginan pameran tungal yang benar-benar kupersembahkan untuk publik seni rupa baru bisa terwujud 4 tahun kemudian. Sejak itu aku banyak diundang mengisi pelatihan, mengajar, dan menjadi pembicara forum-forum diskusi seputar seni video gitu. Aku juga kadang jadi kurator  beberapa karya video teman-teman.

Kamu bilang, mengenal seni visual dari majalah. Emang kamu suka baca?

Wah, suka sekali. Aku adalah tipe orang, yang jika kehabisan bacaan di ruanganku, di studioku gitu, aku akan sangat gelisah. Aku cenderung gak peduli  mengeluarkan biaya berapapun buat buku dari pada untuk hal-hal yang nggak berguna. Koleksi bukuku termasuk koleksi yang lumayan banyak juga sih.

Berapa buku kamu punya?

Emm, sekitar 200-an lah. 200 teks book dan 50-an buku-buku tentang design gitu.

Sukanya baca buku apaan?

Cultural studies, filsafat

5 buku yang kamu suka?

Lima buku yang aku suka, sebentar..sebentar.. aku mikir ya…

Satu, Dunia yang Dilipat, Yasraf Amir Piliang. Terus kedua itu, Subculture, The Meaning of Style, Dick Hebdige. Kemudian, The Language of New Media, Lev Manovich. Kurang dua ya? Ehmm, karena aku pengagum berat Yasraf Amir Piliang, bukunya semua aku koleksi, Hipersemiotika! Suka banget aku Hipersemiotika. Satu lagi, sebentar-sebentar aku ambilkan dari buku-buku ini,eh..apa ya…emm….ada satu buku yang aku suka banget, eh… The War of the Worlds, dari Mark Slouka, tentang pandangan pesimistisnya terhadap dunia internet. Aku suka banget buku itu.

Diantara buku-buku itu, yang paling mempengaruhi karyamu?

Aku mungkin Yasraf Amir Piliang. Tulisan-tulisannya sangat relevan dengan pemikiran-pemikiran progresif di Indonesia. Aku berkenalan pertama dengan tulisannya itu di Dunia Yang Dilipat. Tulisan-tulisan dia mencakup banyak hal yang harus aku baca. Dari persoalan internet, media, sampai politik. Aku suka banget buku dia.

Bagaimana mentransfer buku-buku itu ke dalam karyamu?

Ada bab-bab tertentu di buku Yasraf, tentang masyarakat yang belum melek media. Satu-satunya jalan untuk membuat masyarakat melek media, ya memang harus menggunakan aktivitas budaya yang menggunakan media. Jadi ada semacam counter culture disitu. Jadi bukan hanya merayakan datangnya media dengan televisi, sinetron, bla bla bla… tapi kita harus ada satu agenda, satu kegiatan, satu diskusi dimana disitu kita bukan hanya merayakan datangnya media tapi kita mengkritisi. Ada kesadaran untuk tidak hanya sebagai penikmat tapi juga sebagai pelaku aktif. Itu kuat banget dalam buku itu. Akhirnya, ketika aku ngomongin karya-karyaku yang notabene new media, aku juga ngomongin itu, aku juga mengkritik apa yang ada di medium video. Seperti contoh, ketika aku harus membelokkan makna tentang CCTV yang notabene jadi alat pengawasan, bersifat interfensi, surveillance, tapi ditanganku, itu, jadi alat untuk bersenang-senang saja. CCTV itu bisa aku sorot ke karya drawing-ku, lalu aku mixing jadi satu bentukan yang baru sehingga jadi karya video yang artistik. Ada pemutar balikan makna disitu.

Menurut kamu, perlu gak sih seniman membaca?

Sangat perlu. Seniman sangat perlu membaca. Seniman, dia juga sebagai sebuah representasi dari  masyarakat disekitarnya. Dia harus peka, kepekaan itu didapat dari cara mengamati, dan bagaimana dia  membaca situasi. Jadi membaca buku menurutku sangat sangat perlu. Karena ya itu tadi, pengetahuan mungkin hanya bisa di dapat dengan membaca ya. Sekarang bukan eranya, ketika seorang seniman ditanya ‘apa sih sebenernya basic lahirnya karya-karyamu?’ ‘Oh, tiba-tiba datang dari inspirasi-inspirasi  ketika saya menyepi’ Wah, sudah bukan jamannya itu. Seniman harusnya sudah bicara tentang strategi perubahan-perubahan di masyarakat, strategi budaya, di sekitarnya, itu.

Kamu suka nulis?

Oh aku nulis, aku seneng banget nulis. Aku tuh pengin menulis dan mengungkapkan gagasan lewat tulisan.

Sudah nulis apa saja?

Menulis satu tema yang utuh sih belum, paling hanya sekedar menulis komentar, mengkritisi, memberi masukan-masukan pada karya teman-teman dan dimuat di katalog-katalog mereka.

Apa sih asyiknya nulis?

Tantangan menulis adalah tantangan bagaimana aku harus mendapatkan informasi lebih banyak lagi. Seperti contoh, ketika aku diminta menulis pengantar untuk sebuah fashion illustration, maka aku harus membuka banyak buku yang berkaitan dengan dunia pop. Aku harus mencari informasi tentang itu.

Pesan kamu untuk seniman tentang buku?

Koleksi buku… sebanyak mungkin…. di lemarimu…..

Aku melihat teman-teman muda punya kecenderungan untuk punya koleksi buku yang cukup bagus ya. Buku ini tidak hanya yang dibeli di toko-toko buku ya. Coba datang ketempat-tempat art community, seperti Ruang Rupa, Selasar Sunaryo, Common Room, Cemeti, mereka menerbitkan buku-buku yang menurutku bagus banget dan sayangnya, mereka memang nggak menjualnya di toko buku umum. Jadi untuk mendapatkannya memang harus datang ke tempat-tempat itu. Dan kalo menjadi seniman, mengoleksi buku-buku seperti itu, menurutku harus, harus punya.

Jika kamu nanti bisa bikin buku, mau diterbitkan terbatas atau di publish luas?

Kalau aku sih ‘tak publish.  Siapapun yang minat dengan buku itu dan merasa dengan membaca buku itu bisa memberi makna penting dalam kehidupannya, ya aku pikir itu keberhasilan sebuah buku sih. (Diana AV Sasa)

Nama                                      : Benny Wicaksono

Tempat Tanggal Lahir      : Probolinggo, 25 Maret 1973

Alamat                                    : Jl. Siwalankerto Timur Raya 213 A

Telepon                                   : 031. 91517773

E-mail                                      : benny_illustration@yahoo.com

“Benny adalah perupa seni alternatif  yang tidak melihat apakah karyanya masuk market atau tidak. Tapi ia punya semangat bagaimana membangun Surabaya dengan Media Art. Dia inisiator dan penggerak seniman seni video yang masih di bawah tanah untuk muncul ke permukaan dan melakukan pameran” (Agus Koecink, Kurator-Penulis)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan