-->

Lainnya Toggle

Gedung Agung dan Sepatu 25 Ribuan

Oleh Zen Rs

Jika kunjungan ke Gedung Agung, satu dari lima Istana Kepresidenan, di ujung Malioboro terjadi 3 tahun silam, mungkin saya menganggapnya sebagai napak-tilas perjalanan Larasati a.k.a Atik dan Setadewa a.k.a Teto, dua tokoh utama roman Burung-burung Manyar.

Tapi ini 2009, dua tahun setelah saya membaca buku Bianglala Sastra yang disusun oleh Robert Nieuwenhuys, juga setahun setelah saya sempat “menengok” uraian Peter Carey tentang Java-Oorlog. Dua tulisan itulah yang pertama kali memperkenalkan sosok Antoine Payen, sang arsitek Gedung Agung, kepada saya.

Jadilah kunjungan ke Gedung Agung [yang tak mungkin terjadi tanpa gerombolan Cah Andong yang entah kenapa semuanya rapi jali nan sopan] sebagai napak-tilas atas sepenggal perjalanan panjang kehidupan seorang Payen, kendati beberapa saat sebelum memasuki Gedung Agung, Muhidin M Dahlan datang membawakan Burung-burung Manyar dengan sampul hijaunya yang lawas.

Pagi itu saya datang ke Gedung Agung dari arah utara, persis seperti Si Teto bersama pasukannya mengendap-ngendap menelusuri Malioboro dalam rangka menyerbu dan mengambil alih Gedung Agung yang kala itu menjadi kantor Presiden Soekarno. Beginilah Romo Mangun mengisahkannya:

“Jalan dan kampung sudah kosong dan Hotel Tugu yang pernah jadi markas tentara Republik juga kosong, hanya tinggal gaung sirinenya saja. Hotel itu pun tidak sulit kita duduki. Dan akulah lagi yang paling terdepan melewati rel-rel kereta api Malioboro. Masih kulihat satu palang kereta api bengkong karena pernah diserudug truk barang kali… Pada petang hari yang sama, 19 Desember 1948, sambil duduk lunglai karena payahnya di atas tangga-tangga istana, dengan bayangan raksasa batu di halaman muka itu, aku ditumbuhi perasaan bimbang lagi. Pasukanku menang, Kapitein Seta jaya. Tetapi kehilangan Larasati. Barangkali… barangkali toh aku salah pilih.”

Tapi saya datang ke Gedung Agung dari arah utara dengan berjalan kaki tanpa senapan-pistol juga tanpa diikuti belasan anak-buah. Saya malah sibuk mencari lapak yang menjual kaos kaki. Sepatu kulit seharga 25 ribu yang mendadak saya beli dari Bringharjo supaya bisa masuk Gedung Agung butuh kaos kaki soalnya. Toh, lagi pula, di sebelah saya ada seorang nona yang namanya nyaris sama persis [cuma selisih satu huruf] dengan Larasati dalam Burung-burung Manyar. Jadi, baiklah, saya berkonsentrasi saja pada Payen.

Saya berharap bisa melihat salah satu lukisan, sketsa atau gambar hasil buah tangan Payen di Gedung Agung. Amat pantas jika salah satu karya Payen ditaruh di salah satu dindingnya, biar bagaimana pun ia adalah arsiteknya, setidaknya punya kontribusi besar. (Bersambung)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan