-->

Lainnya Toggle

Antoine Payen, Arsitek Gedung Agung

Gedung Agung atau dikenal Istana Yogyakarta yang diarsiteki oleh Payen

Gedung Agung atau dikenal Istana Yogyakarta yang diarsiteki oleh Payen

Oleh Zen RS

Gedung Agung mulai dibangun pada 1824, setahun sebelum Java-Oorlog yang dikobarkan Diponegoro meledak, atas inisiatif Residen Jogjakarta ke-18, Anthonie Hendrick Smisaaert. Gedung ini diharapkan bisa menjadi tempat yang layak dan ideal bagi kantor sekaligus kediaman residen. Letaknya berada persis di hadapan Benteng Vredeburg. Kedua bangunan Londo itu dibangun masih dalam jarak tembak dengan Kraton Jogjakarta.

Cukup jelas, letak keduanya membuat “pengawasan” terhadap Kraton bisa dilakukan dengan lebih leluasa. Disertasi Ricklefs tentang Kesultanan Jogjakarta menyebutkan dengan detail betapa Sultan tak bisa leluasa melakukan apa yang dikehendakinya, termasuk keharusan meminta ijin lebih dulu jika hendak keluar dari Kutaraja.

Pembangunan Vrerdeburg dan Gedung Agung itu direspons oleh pihak Kraton dengan membangun banyak pohon asem di sekitar alun-alun utara.

Saat Gedung Agung mulai dibangun, Payen sudah delapan tahun berada di Hindia Belanda. Ia menginjakkan kaki di tanah Jawa pada 1816 dalam usia 23 tahun [ia lahir pada 1792]. Ia datang ke Jawa bersama juru-gambar Bik bersaudara [Jan & Theodoor Bik].

Alasan mengapa Antoine Payen yang dipilih kerajaan Belanda kala itu untuk berangkat ke Hindia masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan hingga sekarang. Marie-Odette Scalliet, penulis Antoine Payen, Peintre des Indes Orientales. Vie et Ecrits d’un Artiste du XIXe Siècle [1792-1853], buku setebal 900 halaman lebih yang hingga kini menjadi literatur terlengkap tentang Payen, juga tak mampu menjelaskannya. Pada masa itu telah banyak pelukis Belanda yang khusus membuat gambar untuk merekam tanaman, serangga, kerang-kerangan, dan spesimen flora-fauna lainnya. Namun orang Perancis ini menjadi yang terpilih untuk melukis lanskap Hindia.

Sebelum pergi ke Hindia, Payen sudah lebih dulu mempelajari teknik dasar seni lukis di Belgia. Ia sempat belajar di Academy of Drawing, Belgia, yang ketika itu dipimpin oleh Piat Jospeh Sauvage, seorang pelukis yang sebelumnya sempat bekerja di Acadèmie Royal de Paris serta sempat pula bergabung dengan gerakan massa dalam Revolusi Prancis.

Salah satu temuan menarik hasil lacakan Marie-Odette Scalliet, para juru-gambar [draughtsmen] di Hindia sebelum kedatangan Payen tak ada yang secara intens dan intim menggeluti lukisan lanskap. Kebanyakan dari mereka adalah juru-gambar spesimen hewan, tumbuhan, kerangka, juru-gambar peta dan yang paling istimewa adalah pelukis potret.

Payen juga punya minat yang sama di bidang itu. Sejak kecil, ia bahkan sudah memiliki koleksi burung dan serangga. Minatnya terhadap seni-lukis tidak lebih besar dari minatnya terhadap dunia botani dan zoologi. Satu species kupu-kupu bahkan dinamai seperti namanya, Papilio payen atau Dabasa payeni. Beberapa koleksi serangga milik Payen masih bisa dijumpai di Musée d’Histoire Naturelle sementara beberapa koleksi burung miliknya sebagian bisa dilihat di Institut Royal des Sciences Naturelles de Belgique, Brussels.

Ini bukan kasus unik. Para juru-gambar pada masa kolonial sedikit banyak punya kesamaan serupa. Raden Saleh, misalnya menjadi contoh paling populer, ia bahkan punya koleksi binatang yang dikumpulkan di Kebun Binatang yang berada di daerah Cikini. Minat para juru-gambar atau pelukis terhadap kandungan alam Hindia Belanda semestinya punya hubungan yang intim dengan kemunculan konsep mooi-Indie dalam diskursus tentang Hindia Belanda dalam kesadaran orang-orang Eropa kala itu. (Bersambung)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan