-->

Kronik Toggle

Anggota Kejaksaan Dilarang Menulis

WAKIL Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho mendesak Jaksa Agung Hendarman Supandji mencabut Surat No B-778/D/L.2/2008 soal pengiriman tulisan artikel pemberitaan untuk dimuat di surat kabar.

Surat yang ditandatangani Jaksa Agung Muda Intelijen Wisnu Subroto itu sebagai reaksi kejaksaan terbitnya tulisan Hendra Apriansyah, jaksa dan Kepala Subseksi  Penuntutan Kejaksaan Negeri Madiun di sebuah harian nasional, 29 Maret 2008. Hendra menulis artikel bertajuk: Tegakan Hukum Sambil Melawan Hukum.

Tulisan itu berisi kritik dan refleksi terkait praktik suap di kejaksaan. Karena tulisan itu, ICW mendapat kabar Hendra telah dimutasi ke Papua. Emerson Yuntho menyatakan, kebijakan itu sangat kontoversial.

“Kebijakan ini juga berpotensi melanggar konstitusi  UUD 45. Dengan alasan itu maka sudah selayaknya surat ini dicabut,” kata Emerson kemarin. Sebelumnya, Hendarman membantah dirinya telah mengeluarkan SK yang isinya melarang jaksa menulis di media massa ataupun membuat buku.

“Saya tidak pernah melarang jaksa menulis. Hanya untuk lebih tertib dikoordinasikan dulu dengan Jaksa Agung,” kata Hendarman di Jakarta, Senin (2/3/). Dia juga menampik adanya SK tersebut. “Nggak ada,” katanya.
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung M Jasman Panjaitan menjelaskan prinsipnya Kejagung tidak melarang jaksa atau pegawai kejaksaan menulis artikel atau opini di media massa. Menghindari kemungkinan tulisan itu bertentangan dengan kebijakan pimpinan dan demi menjaga citra institusi publikasi tulisan harus seizin Jaksa Agung.

Kebijakan itu didasarkan Surat Edaran Jaksa Agung Nomor SE-005/J.A/2/1984 yang ditandatangani Jaksa Agung Ismail Saleh, 21 Februari 1984. “Sebelum surat edaran ini dicabut, masih berlaku,” ujar Jasman. Ia membantah, surat yang dikeluarkan Jaksa Agung Muda Intelijen Wisnu Subroto 30 April 2008 kepada Kepala Kejaksaan Tinggi se-Indonesia sebagai surat edaran baru. Surat itu penegasan terhadap surat edaran yang telah dikeluarkan Jaksa Agung Ismail Saleh.

* Diketik dari Harian Jurnal Nasional Edisi 4 Maret 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan