-->

Kronik Toggle

Agung Dwi Hartanto: Hak Kejaksaan Melarang dan Hak Penulis Menulis

“Tugas kejaksaan itu ya ‘menyaring’ buku. Tugas penulis, menulis,” tegas Agung Dwi Hartanto kepada Iboekoe ketika dimintai tanggapannya atas pengumuman Kejaksaan Agung yang sedang meng-clearing house-kan lima buku yang dianggap memiliki kecenderungan berbahaya.

Bagi wartawan portal online di Jakarta ini dua entitas dan sudut pandang itu terkadang tak sejalan, lebih sering beradu. Kejaksaan memang punya hak dan tanggungjawab untuk menyaring buku. Dan itu tidak masalah.

“Bagi penulis, saya rasa, jika bukunya dilarang terbit atau bahkan dibakar, tak masalah. Inilah kesempatan untuk menaikkan pamor secara gratis. Namanya akan dikutip pelbagai media. Apa yang dilakukan penulis ‘buku-buku yang membakar’ tidak seburuk, bahkan jauh lebih mulia, daripada koruptor,” kata Agung.

Semakin banyak buku-buku yang dianggap subversif, lanjut penulis buku Karya-Karya Lengkap Marcokartodikromo ini, semakin banyak buku yang dilarang dan semakin banyak pula orang yang penasaran ingin membaca buku tersebut.

Yang tidak bisa diterima adalah jika orang dilarang menulis. Ini yang berbahaya. Dan barangkali Tuhan pun tidak terima. (Gus Muh)

1 Comment

Eko Susanto - 19. Jun, 2009 -

Gak beda sama zaman orde baru, ya…aku juga baca di kompas halaman 2 hari ini. Kacau juga catatan sejarah kalau sudah mulai di ungkap kebenarannya lantas dituduh akan berbuat macam2. Kejaksaan harusnya belajar dari masalalu dong…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan