-->

Kronik Toggle

Goenawan Muhammad: Demokrasi Indonesia Masih Bayi

Reformasi yang telah berjalan menuju 11 tahun, menurut budayawan Goenawan Muhammad, masih bayi untuk menjadi Demokrasi dan bukan oligarki. “Dibandingkan Perancis, kita masih bayi,” ungkap Goenawan Mohammad dalam peluncuran Buku Demokrasi dan Kekecewaan di Komunitas Salihara, Jakarta, Rabu Malam(13/5)

Berbicara demokrasi, katanya, tanpa melibatkan minoritas tertindas sama saja tak memeliharanya. “Demokrasi harus sensitif melihat yang lain,” urai Goenawan. Ia memisalkan partai Islam yang mengusung demokrasi tapi melibaskan aliran sempalan, bisa dianggap tak layak menyandang demokrasi sebagai ideologinya. Komitmen dalam demokrasi, Goenawan melanjutkan, adalah perjuangan tanpa merusak yang sudah ada.

Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara A. Setyo Wibowo mengingatkan demokrasi di Indonesia kini tak lebih dari oligarki (beberapa orang yang berkuasa). Reformasi yang berjalan, lanjutnya adalah oligarki semisal dinasti Gus Dur, Dinasti SBY, bahkan sekelompok orang pemilik badan-badan survei.

“Kaum ini selalu “mengajari” kita mengenai demokrasi,” jelas Setyo Wibowo, “dan persis itu yang harus dilawan.”  Perlawanan ini dengan dalih kesetaraan semua orang. Semua orang, wajib mengkritisi kebijakan yang dibuat, ujar Wibowo.

Arianto A. Patunru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyarankan untuk percaya saja demokrasi yang masih bayi ini. “Biarkan demokrasi bergerak,” harapnya. Asalkan pergerakannya tidak terlalu liar.

Tapi sayangnya,kata Arianto, masih jarang masyarakat yang percaya pada demokrasi tanpa menjadi fanatik. Ia mengingatkan, akibat kepercayaan yang berlebihan, maka kalau gagal, akan timbul kekecewaan besar.

DIANING SARI

*) Dikronik dari Tempointeraktif edisi 14 mei 2009 dengan judul asli  Demokrasi Indonesia Masih Bayi

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan