-->

Lainnya Toggle

Seratus Pemberontakan di Nusantara

Pemberontak Tak (Selalu) SalahPenulis              : Petrik Matanasi
Editor                : Agung dwi Hartanto
Penerbit            : I:BOEKOE
Halaman            : 539 hlm
Ukuran               : 15 x 24 cm (hard cover)
Harga                  : Rp 300.000

Tidak selamanya, pemberontak itu pendurhaka. Pemberontak belum tentu pengkhianat. Pemberontak juga bukan orang gila yang, tanpa sebab, mengamuk semaunya. Pemberontak selalu punya alibi mengapa mereka berontak.

Pemberontakan biasanya muncul sebagai reaksi atas ketidakpuasan. Ada penguasa yang bertindak tidak adil, atau melakukan tindakan yang mengecewakan.

Seperti Pemerintah Kolonial Hindia Belanda misalnya, yang memiskinkan kaum buruh—salah satunya kaum buruh keretapi yang melakukan pemogokan besar-besaran di tahun 1923. Pemberontakan awak kapal Zeven Proviencien juga dikarenakan pemerintah kolonial dirasa tidak peduli dengan kesejahteraan pelautnya.

Pemberontak, umumnya memperjuangkan kepentingannya yang telah diabaikan. Dengan bertaruh nyawa, pemberontakan menjadi jalan suci untuk memperjuangkan kemanusiaan para pemberontak maupun orang tertindas lainnya.

Kaum pergerakan nasional Indonesia di masa pergerakan awal abad XX juga dianggap pemberontak oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Meski tidak disebut pemberontak dalam pelajaran sejarah di sekolah, namun apa yang dilakukan kaum pergerakan nasional itu adalah sebuah pemberontakan lewat wacana-wacana kebangsaannya. Mereka melawan kekuatan besar yang melebihi daya mereka.

Ada banyak pemberontakan yang pernah terjadi di Indonesia. Sejak zaman kerajaan Hindu, zaman feodal, hingga masa-masa sekarang ini. Jumlahnya lebih dari ratusan, namun banyak yang tidak tercatat dalam sejarah.

Seratus Pemberontakan yang ditulis dalam buku ini juga hanya sebagian dari seluruh pemberontakan yang pernah terjadi di Indonesia.

Dimulai dengan pemberontakan Ken Arok pada tahun 1222 yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai kudeta pertama-tama yang terjadi di Indonesia hingga pemberontakan Bupati Pati pada Sutawijaya, raja Mataram Islam.

Pemberontakan-pemberontakan pada masa kolonial, hingga pengibaran bendera RMS yang dilakukan kelompok neo RMS di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

————————————

BUKU INI DICETAK TERBATAS. TERTARIK? BEGINI CARA PEMESANANNYA:

1. Bagi yang tinggal di Jogjakarta bisa datang sendiri ke kios buku Gelaran Ibuku yang beralamat sama dengan Indonesia Buku.
2. Bagi yang memesan via ponsel 0888-6854-721 (MBAK NURUL HIDAYAH) dan/atau surel (iboekoe@gmail.com), mohon menyebutkan judul dan jumlah eksemplar yang diinginkan. Buku langsung dikirim ke alamat pemesan jika pembayaran sudah ditransfer ke rekening Indonesia Buku.
3. Rekening I:BOEKOE: BCA 4450813791 atau BNI 0116544928 atas nama Nurul Hidayah.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan