-->

Lainnya Toggle

Suara-suara dari Seberang

Oleh Dani Wicaksono

Berikut ini adalah kompilasi pandangan dan komentar mereka yang tinggal di seberang Indonesia tentang Pram, sepak terjang politiknya, dan tentu saja karya-karyanya.

M. Bakri Musa
Penulis kelahiran Malaysia ini berprofesi sebagai ahli bedah di Silicon Valley, California: “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (The Mute’s Soliloquy), adalah bukti paling kuat bagi penindasan atas kemanusiaan yang dilakukan oleh pemerintahan Soeharto, jauh lebih kuat ketimbang laporan Amnesty International.”

Tariq Ali
Penulis ini baru saja meluncurkan buku Street Fighting Years dan, bersama dengan David Barsamian, Speaking of Empires & Resistance. Counter Punch, 2 Mei 2006: “Kematian Pramoedya di Jakarta, 30 April 2006, adalah kehilangan besar bagi kesusastraan dunia. Dialah intelektual Indonesia terkemuka, sekaligus penulis fiksi yang jenius.”

Carolyn See
The Washington Post, 2 Agustus 2002: “Mereka yang membaca karya Pramoedya Ananta Toer akan mengenalnya sebagai seorang novelis Indonesia yang tiada tandingan, juga seorang lelaki yang diluapi keberanian luar biasa… dan berkali-kali ia dinominasikan sebagai pemenang Nobel Sastra.”

Sumit Mandal
Vox, 24 September 2000, hal. 8-13. (Vox adalah majalah khusus Minggu dari Harian Malaysia The Sun): “Ia menuturkan masa lalunya dengan keterampilan seorang pencerita. Nada suaranya yang rendah melagukan kesedihan, ketakutan, sekaligus kegembiraan… Ia bicara dari kesunyian, sesuatu keadaan yang dicari oleh banyak penulis untuk mencipta kembali dunia dalam imajinasi mereka.… Hidup dan karya Pramoedya, dalam kesunyian ini, adalah pengungkapan nan kuat dari pedih-perih sejarah bangsanya.”

Ben Abel
Cornell University, abstraksi dari Sesi Asia Tenggara dalam AAS, 1996: “Sebagai seorang penulis, Pramoedya menunjukkan jalan untuk mempergunakan Bahasa Indonesia sebagai sarana pengungkapan gagasan, perhatian, dan aspirasi. Ia pun menolak batasan-batasan dari bahasa baku dan non-baku, formal dan informal, kromo dan ngoko. Ia mengajarkan bahwa setiap frase dan ungkapan dalam Bahasa Indonesia dapat digunakan secara bebas untuk menyampaikan gagasan, menciptakan dinamika hidup baru yang kreatif.”

Mishi Saran
Penulis asal Hongkong. International Herald Tribune, 6 April 1999: “Lebih dari semuanya, Pramoedya adalah seorang humanitarian.”

John McGlynn
Direktur Publikasi Lontar Foundation dan penerjemah sebagian karya Pram: “Fokusnya selalu mengenai lanskap lebar, kekuatan-kekuatan sosial, politik, historis yang jalin-menjalin membentuk Indonesia. Tak ada penulis Indonesia lain yang sesukses Pramoedya dalam melakukan hal ini. Dan tidak ada penulis lain yang sedemikian berkorban untuk mendidik bangsanya.”

Max Lane
Penerjemah sebagian karya Pram. Green Left Weekly, 10 Mei 2006: “Di antara banyak hal yang mempengaruhi Pramoedya, esai Maxim Gorky The People Must Know Their History teramat menuntunnya. Semenjak akhir 1950-an, Pramoedya menjadi sejarawan Indonesia pertama yang otodidak. Tidak ada sumber asing di matanya—dokumen-dokumen pemerintahan, diari, apa yang diketahui oleh seorang tukang cukur mengenai pelanggan setianya (yang salah satunya mungkin merupakan tokoh politik), koran-koran harian, novel-novel detektif. Bahkan, Pramoedya tergolong sebagai salah seorang sejarawan pertama di Indonesia yang memakai tape recorder (pinjaman dari seorang pengusaha kecil) untuk merekam sejarah lisan.”

Alex G Bardsley
OpenDemocracy Ltd, penulis tesis: A Political Subject: Changing Consciousness in Pramoedya Ananta Toer’s Bumi Manusia and Anak Semua Bangsa, Cornell University, Agustus 1996: “Boleh saja Pram itu tuli, tetapi ia mendengar banyak hal. Orang-orang membawakannya dokumen-dokumen dan materi-materi sejarah (termasuk makalah tua keluaran CIA, sewaktu saya bertamu ke sana). Ia mengatakan kepada saya pengaruh Partai Komunis Jepang pada angkatan laut kerajaan, dan peranannya dalam mempersenjatai perjuangan rakyat Indonesia. Kami mendiskusikan sepak-terjang Aung San Suu Kyi dari Burma, terutama membandingkannya dengan Megawati Sukarnoputri atau Cory Aquino dari Filipina; Pram menyampaikan pada saya kalau ia telah menulis sepucuk surat dukungan kepada Suu Kyi, yang ingin betul saya baca suatu saat nanti. Kami berdebat: apakah junta militer Burma yang kleptokratik, irasional, dan pembunuh itu lebih buruk dari Orde Baru-nya Soeharto…. Saya suka lukisan tarung-jago yang diberikan Günter Grass kepadanya.”

Wikipedia
The Free Encyclopedia: “Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925 – 30 April 2006) adalah seorang Indonesia yang menulis novel, cerita pendek, esai, polemik, serta sejarah tanah air dan bangsanya. Tulisan- tulisan Pramoedya yang lugas dan berani, yang sangat dihargai di Barat, diberangus dan dilarang terbit di tanah airnya sendiri, hingga sekarang. Oleh karena menentang kebijakan-kebijakan dari Presiden Sukarno, serta penerusnya, Orde Baru Presiden Soeharto, Pramoedya dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Selama bertahun-tahun menderita dalam penjara, ia telah menjadi a cause célèbre karena membela kebebasan berpendapat dan memperjuangkan HAM.”

Loreen Neville dan James Blackburn
Roving Insight, September-Oktober 1999: “Pramoedya telah menjadi figur paling kontroversial, seorang novelis dan esais dengan reputasi internasional luar biasa yang masih tidak dihargai di negerinya sendiri. Kontroversi rupanya menjadi atmosfer yang melingkupi sang penulis, dan lagi-lagi namanya disebut-sebut sebagai calon penerima Nobel Sastra, sebuah penghargaan yang akan membuatnya tergolong dalam lingkaran orang-orang seperti Sir Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris paling ternama, Nadine Gordimer, penulis kronik Afrika Selatan yang menolak politik apartheid, dan penyair Chili Gabriela Mistral dan Pablo Neruda, serta banyak lagi. Seandainya panitia Nobel berkeputusan untuk memberikan penghargaan itu kepadanya, maka Pramoedya akan seperti peraih Nobel Perdamaian Jose Ramos-Horta, dan Uskup Belo: paria dari pemerintahannya, pahlawan dari para pembela kebenaran dan keadilan.”

Robert Templer
Prospect Magazine, 2001: “Hidupnya adalah kaca benggala dari 74 tahun sejarah Indonesia.”

Wendy Law-Yone
Novelis yang kali terakhir mengunjungi Indonesia dan bertindak sebagai anggota delegasi HAM. The Washington Post, 25 April 1999: “’Jalan setapak ini,’ Pramoedya menulis sebuah epigraf di suatu tempat, ‘sebelumnya telah dilalui berkali-kali, tetapi baru sekarang seseorang menandai jalan ini.’ Sebuah pernyataan yang halus dan berwatak. Dan apakah yang menandai jalan itu selain daripada jejak langkah sang pahlawan?”

Willem Samuels
The New York Review of Books, Volume 37, Nomer 16, 25 Oktober 1990: “Tak ubahnya penulis-penulis lain yang terjun ke bidang politik, baik di persimpangan kiri maupun kanan jalan (dan hampir seluruh penulis Indonesia waktu itu, tanpa terkecuali, terlibat dalam dunia politik), apabila Mr. Toer merasa berseberangan dengan penulis lain, ia tidak akan mengutarakannya secara diam-diam atau rahasia, tetapi menyerukannya dalam sebuah ruang publik yang meniscayakan tanggapan balik. Terlebih lagi, kritiknya tidak ditujukan pada penulis-penulis lain yang menolak paham kaku yang digariskan partai kiri (Pram sendiri bahkan bukan anggota PKI), tetapi mereka yang tidak mendukung ideal-ideal revolusi Indonesia, dan malah menyia-nyiakan bakatnya untuk melayani sebuah masyarakat yang korup.”

Jamie James
The New Yorker, 27 Mei 1996: “Prosa-prosa Pramoedya tidak selalu mengkilap, dan buku-bukunya kadang-kadang tidak terlalu menarik dalam sudut pandang tertentu. Akan tetapi, setiap orang yang hendak memahami Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat sedunia (setelah Cina, India, dan Amerika Serikat), haruslah membaca b
uku-bukunya.”

A. Teeuw
Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer (Pustaka Jaya, 1997, Hal. 381): “Memang, Pramoedya memiliki rasa keadilan yang fanatik dan benci mendalam terhadap segala macam ketakadilan, yang dibawa sejak kelahirannya dan/atau diilhami oleh lingkungan keluarga tempat ia tumbuh.”

Dr. Pamela Allen
Membaca, dan Membaca Lagi: Reinterpretasi Fiksi Indonesia 1980-1995 (Indonesiatera, 2004, Hal. 24): “Tetralogi Pramoedya merupakan suntikan realisme historis serius yang mencakup 1898-1918, satu periode perubahan besar di bidang sosial, ekonomi, dan politik di Hindia Belanda, ke dalam sastra Indonesia. … Novel-novel tersebut tidak berupa historiografi dan bukan sejarah yang tidak ditengahi, namun bersifat historis: mereka mengkonstruksi kembali suatu dunia khusus, menangkap kembali momen sekilas. …pembacaan saya atas novel-novel itu mengedepankan kenyataan sejarah itu maupun sejarah hidup Pramoedya sendiri, yang telah membentuk dan membatasi pengalamannya sebagai seorang penulis.”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan