-->

Lainnya Toggle

Si Pendekar Gunting dari Bojong

Oleh Muhidin M Dahlan

Pada suatu hari kami bertanya kepada Bunda Maemunah, istri terkasih Pram, kenapa gagang gunting di tangan Pram dibebat-bebati dengan isolasi, sontak Bunda menyahut, “Dia itu tuh kayak anak kecil gitu. Ke mana-mana bawa gunting terus. Bentar lagi tuh dilepas (isolasi-red). Trus diganti lagi dengan warna merah.”

Ke mana-mana Pram memang selalu menyertakan gunting dalam tasnya hingga di usianya kini. Tentu saja beserta saudara-saudaranya, seperti pisau, lem, dan penjepit.
Pram mengakrabi gunting, bukan sebagai benda semata. Dalam pengertiannya yang harfiah, gunting memang dibutuhkannya untuk melerai dan mencacah informasi yang diperlukannya dari koran-koran yang saban hari terbit. Tapi bukan sekedar itu. Gunting adalah simbol pemotongan terhadap ruang, terhadap batasan. Gunting adalah kerja. Kerja menghimpun sejarah.

Dan itu sudah dilakukannya sejak tahun 1942 tatkala bekerja di kantor berita Jepang Domei. Tugasnya mula-mula semata mengkliping semua kejadian yang masuk dari seluruh kawat dunia.

“Gaji saya 30 perak sebulan. Itu untuk makan, sekolah. Juga saya belikan kemeja warna biru untuk kuliah di Sekolah Tinggi Islam. Harganya 75 perak. Saya ngutang untuk itu dan bayar dengan tulisan…. Hahahaha. Dari sana pengalaman saya mengkliping. Sampai sekarang. Tak berhenti.”

Mengkliping, bagi Pram, adalah trend zaman dan menjadi tradisi panjang di mana ketekunan menjadi asasnya. Sebab ia kerja penyisiran renik peristiwa. Menggunting. Mengelem. Mengumpulkan. Lalu menyatukan.

Tapi mengkliping tak hanya butuh ketekunan, tapi juga obsesi. Bila ketekunan belaka biasanya menghasilkan tumpukan data mentah dan tak tahu hendak diapakan, sementara obsesi biasanya melahirkan usaha yang gigih untuk mengubah, memola, dan mentransformasikan data itu menjadi makna baru.

Maka di tangan Pram, semua klipingan selalu berkilau. Tetralogi Pulau Buru, sepengakuan Pram, tak lebih adalah tumpukan klipingan mahasiswanya ketika mengajar di Res Publica (sekarang: Universitas Trisakti) yang tugas utama mahasiswanya membuat kliping peristiwa awal abad 20 dan memberikan catatan tentangnya. “Hampir semua karya saya berasal dari klipingan koran,” kata Pram.

Kerja-kerja seperti yang dilakukan Pram ini memang khas kerja kaum Aquarian—pinjam parafrase Marilyn Fergusson dalam The Aquarian Conspiracy (1984). Kaum Aquarian adalah bukan mereka yang lahir pada bulan Aquarius, tetapi orang-orang yang suka pada tendensi lintasan peristiwa sekaligus berada di dalamnya. Bukan ikut arus, tapi berikhtiar sekuatnya menyatukan dan menaklukkan peristiwa itu dalam dunia pribadinya.
Pram dengan usaha mengkliping, memang bukan sekadar merangkum, tapi coba memetakan dan memadatkan serpihan-serpihan kejadian dalam satu kesatuan menyeluruh yang membentuk persepsi baru tentang Indonesia. Bukan Indonesia yang setahun dua tahun, tapi trend Indonesia dalam regangan seabad.

Dengan gunting itu, ia lalu bertemu dengan Indonesia yang senantiasa murung. Indonesia yang besar, luas, dan kaya ragam, tapi manusia-manusianya lemah, dangkal pikir, dan anak-anak remajanya berjatuhan karena lebih memilih bunuh diri, memilih jalan kematian daripada tegar berdiri memperbaiki hidup.

Usaha Pram menggunting adalah usaha seorang asketis yang berjalan sepi dengan obor di malam hari menjaga kesadaran bangsanya dari amnesia masa silamnya. Ia setara dengan apa yang dilakukan muhadis agung Bukhari (Islam) atau Paulus (Kristen) yang menghimpun, mengompilasi, dan merangkum ucapan, gerak, dan peristiwa di sekitar Nabi dan masyarakatnya.

Tahulah kita bahwa mengkliping bukan kerja remeh-temeh, tidak intelek, dan buang-buang waktu. Mengkliping adalah usaha tiap hari menjaga ingatan masyarakat. Maka ketakutan terbesar Pram justru lupa dan pikun. Pikun menyiksanya karena itu berarti membuat dirinya tak awas terhadap peristiwa.

Maka berjumpa dengan pikun Pram kerap bergetar. Apalagi kala ingatannya tertuju pada tradisi mengkliping orang Indonesia yang masih sangat payah. Seakan membayar kekesalan itu, ia dengan sisa kekuatan masih memegang gagang gunting yang berbebat isolasi bercorak warna. Memilah-milah berita koran sekitar dua jam sehari.

“Andaikan anak-anak remaja di SMA itu punya kebiasaan mengkliping, pastilah gurunya takut semua. Sebab mereka nggak bisa dibohongi karena tahu masalah sampai akar-akarnya. Tahu fakta. Sayang sekali. Pendidikan Indonesia tak pernah mendidik muridnya tekun menggali fakta.”

Kekesalan Pram itu diungkapkannya dalam baris-baris kata-kata yang menusuk. “Sejak dulu, orang-orang Indonesia tak memiliki tradisi mendokumentasi. Sejak zaman raja-raja. Kalau mereka mendokumentasi itu semata demi raja-raja. Sejarah kita pun jadi sejarah para raja. Tak heran saya kalau orang asing yang banyak menulis tentang Indonesia. Kita tak punya detail tentang diri kita sendiri. Bayangkan, bangsa besar ini tak kenal dirinya sendiri.”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan