-->

Lainnya Toggle

Seratus Buku Sastra: Perempuan sebagai Pusat (7 dari 20)

Oleh AN Ismanto

Kalau tak Untung, Karmila, Pada Sebuah Kapal, Raumanen, Gadis Pantai, dan Saman berkisah tentang tokoh-tokoh perempuan sebagai sosok-sosok yang bertempat dalam suatu ruang sosial yang memaksakan hukum-hukum tertentu kepada mereka.

Acapkali mereka kalah di hadapan paksaan hukum-hukum itu, kecuali pada Karmila yang dapat dikatakan berakhir bahagia. Terlepas dari kandungan sastrawinya—kecuali Gadis Pantai—novel-novel ini juga menjadi penanda penting bagi bangkitnya perempuan pengarang Indonesia.

Gadis Pantai—yang ditulis oleh laki-laki—memandang perempuan dengan simpatik dan jauh lebih mau, tidak lagi memandang perempuan semata-mata sebagaimana yang dikodratkan atasnya.

Perempuan dalam novel ini adalah perempuan sebagai suatu kelas sosial. Tokoh Gadis Pantai mungkin memang merupakan eksemplar saja dari suatu jumlah, namun ia eksemplar yang memendarkan detail-detail dari kelasnya itu sedemikian rupa sehingga sosoknya menguarkan kesan maskulin dan unik.

Memang pada akhirnya si tokoh kalah, namun “perlawanan”-nya yang halus membedakannya dari sosok perempuan yang “diidealkan” dalam superstruktur yang dominan. Kisah Gadis Pantai dengan demikian menjadi kisah yang menghentak.

Hentakan besar lain yang terkait dengan perempuan dimunculkan oleh Saman. Novel ini mengajukan pelukisan sosok perempuan langsung pada bagian yang kerap ditautkan dengannya: seksualitas.

Hingga saat novel itu terbit, seksualitas seringkali dipandang oleh masyarakat sebagai hal yang terlalu menjijikkan untuk dimanfaatkan dalam sebuah bangunan literer karena anggapan luas bahwa karya sastra harus menjalankan fungsi pengajaran—yang sering dimaknai sebagai pengajaran norma-norma kesusilaan.

Seksualitas dalam sastra memang sangat menarik untuk diperdebatkan. Apakah yang menyebabkan dua buah karya yang sama-sama mengandung seksualitas dapat dibedakan menjadi karya sastra yang baik dan bacaan yang cabul? Sekitar 50 tahun yang lalu Umar Kayam pernah memberikan batasan-batasan yang cukup kokoh untuk hal ini.

Pak Kayam mengatakan bahwa soal seks adalah satu soal kemanusiaan yang terbesar yang akan selalu “mengganggu” kehidupan manusia, yang karenanya akan selalu kita jumpai dalam kesusastraan kapan saja.

Karena itu, satu hasil sastra yang menyangkut soal seks tidak mungkin kita anggap sebagai hasil sastra yang melanggar nilai-nilai kesusilaan, bila dia didukung oleh satu ide yang baik, dipersiapkan dengan mendalam dan matang dan memberi kita pengertian yang baik tentang kehidupan dan kemanusiaan.

Saman tampaknya memenuhi kriterium Pak Kayam tentang hasil sastra yang didukung oleh satu ide yang baik itu. Dan kita memang tidak akan mendapati kecabulan di dalam novel ini.

Seksualitas diajukan sebagai keniscayaan yang tak terhindarkan, bahkan ketika tampil dalam bentuknya yang menyimpang: itu adalah realitas yang tak tertolak. Jadi, kenapa mengingkari yang tak tertolak itu? Bukankah lebih baik jika mencari kearifan hidup yang mungkin terkandung di situ?

Jika dibanding dengan novel-novel tentang perempuan yang lain, Karmila mungkin dipandang dengan kening agak berkerut. Namun ia membukakan mata kita pada potensi prosa fiksi sebagai komoditi.

Dan ini tidak dapat disangkal dengan laris dan populernya Karmila. Sesudah Sitti Nurbaya, Karmila adalah tokoh fiksi yang menjadi hidup di tengah-tengah masyarakat: ia menyusup dalam ke film dan disebut-sebut dalam lirik lagu populer.

Menurut Profesor Sapardi Djoko Damono, kejutan Karmila pada dekade 70-an itu dapat diterangkan dengan perkembangan ruang urban di Indonesia pada masa itu. Berbagai jenis pekerjaan baru muncul dalam masa itu dan banyak di antaranya yang terbuka bagi perempuan. Di antara perempuan-perempuan itu, ada yang sangat sibuk namun ada juga yang punya sangat banyak waktu luang.

Mereka sama-sama mengalami proses yang sama, yaitu berusaha sebaik-baiknya menjadi anggota dan sekaligus menciptakan masyarakat, atau kebudayaan, yang baru.

Mereka tidak mau menjadi kaum illiterate di dalamnya dan berusaha sebaik-baiknya untuk melek budaya. Mereka inilah yang kemudian mewarisi budaya kota. Agar senantiasa melek budaya, yang semakin global, mereka juga memerlukan informasi dari dunia sekitarnya dan juga dari seberang lautan.

Kebutuhan akan kebudayaan baru inilah yang kemudian memancing timbulnya perempuan-perempuan sastrawan baru. Memang pada masa-masa sebelumnya pernah juga muncul perempuan-perempuan sastrawan, namun mereka kebanyakan sekadar “menulis” dan setelah itu “diam”.

Gambaran mereka tentang perempuan dalam karya sastra yang mereka ciptakan cenderung “selembut bunga”. Namun pada dekade 1970-an ini, perempuan sastrawan tidak sekadar “menulis”, melainkan juga “bicara”, dalam arti ikut berperan aktif dalam pembentukan citra perempuan yang diinginkan dan juga berperan aktif dalam menggiatkan pasar perbukuan.

Maka bisa dimafhumi jika Karmila menggambarkan sosok utamanya sebagai sosok perempuan aktif, dinamis, dan kuat.

Ideal ini adalah ideal yang baru dan dianggap cocok dalam konteks sosial yang baru di mana perempuan telah memperoleh peluang yang lebih lapang dan bergerak di lapangan publik.

Mungkin inilah sebab utama kenapa novel ini diakomodasi dengan manis oleh pasar. (Bersambung)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan