-->

Tokoh Toggle

Ramya Hayasrestha, Penulis Cilik yang Hasilkan Banyak Buku

Ramya Hayasrestha Sukardi merupakan contoh gadis cilik yang dikaruniai talenta menulis luar biasa. Di usianya yang masih 10 tahun, dia telah menulis lima buku cerita anak. Salah satu bukunya berjudul Dunia Es Krim bahkan telah lima kali naik cetak dan masuk daftar buku terlaris.

Oleh: Raka Mahesa Wardhana, Wartawan Jawa Pos

MARCAPADA Sukardi tak pernah menyangka kalau hadiah ulang tahun yang dia berikan kepada undangan yang hadir dalam pesta ulang tahun anaknya, Ramya Hayasrestha, menjadi awal karir sang buah hati di dunia menulis. “Waktu itu saya cuma kumpulin cerpen yang dia buat lalu saya jadikan buku untuk ulang tahunnya yang kedelapan,” ujar CEO perusahaan trading di Jakarta itu.

Saat perayaan hari bahagia anaknya itu, Marcapada memang sengaja mempersiapkan suvenir yang berbeda untuk undangan yang hadir. Yakni, kumpulan cerpen karya Ramya sendiri.

Entah bagaimana ceritanya, setelah suvenir itu berada di tangan teman-teman Ramya, ada salah satu yang sampai di meja penerbit. Akhirnya, penerbit itu tertarik untuk memperbanyak kumpulan cerpen yang kemudian diberi judul Petualangan Ramya itu. Isinya cerita-cerita dan pengalaman pribadi Ramya sehari-hari.

Kesukaan Ramya menulis memang bukan datang tiba-tiba. Sebab, di keluarga Marcapada, menulis menjadi hal wajib yang dilakukan sejak kecil.

Ada satu kebiasaan yang selalu dilakukan keluarga Marcapada. Yaitu, menyurati semua anggota keluarga setiap minggu. Karena anggota keluarga Marcapada terdiri atas lima orang, tiap satu orang harus menulis empat surat.

Ramya yang merupakan anak tertua, harus menulis surat berisi ucapan terima kasih dan pujian untuk kedua adik dan orang tuanya. Mengetahui kebiasaan tersebut, saudara sepupu Ramya memberikannya setumpuk kertas. “Kasihan kertasnya daripada nggak dipakai,” ujar Ramya.

Melihat kertas menumpuk tersebut, mulailah Ramya menuliskan setiap aktivitas yang dilakukan. Meski hanya cerita aktivitas sehari-hari, Ramya memiliki tokoh yang diberi nama Anabelle yang juga seusia dengannya. Dengan gayanya sendiri, Ramya mencoba bercerita tentang Anabelle dan segala tingkah lakunya. Tokoh fiktif ini murni hasil imajinasi Ramya.

Dalam perkembangannya, Ramya mulai membuat kisah lebih bebas. Dia tak lagi berkutat dengan kejadian yang dialami, tapi jauh mengeksplorasi imajinasinya secara bebas.

Dari imajinasinya itu, terbitlah beberapa buku lagi. Misalnya, buku berjudul Dunia Es Krim yang bercerita tentang seorang gadis kecil yang terjebak ke dalam dunia penuh es krim. Petualangan sang gadis cilik untuk terbebas dari jebakan es krim dia ceritakan dengan menarik, khas anak kecil. Buku lainnya berjudul My Piano, My Best Friend yang bercerita tentang seorang gadis kecil yang memiliki teman baik sebuah piano yang bisa berbicara. Juga bukunya berjudul Magic Crystal yang berisi tentang kisah kristal ajaib.

Semua kisah yang dia tulis itu memang tak lepas dari aktivitas Ramya sehari-hari. Dia gemar makan es krim dan main piano. Dari kegemaran itu, gadis kelas lima SD ini mengembangkannya menjadi sebuah kisah yang penuh dengan warna-warni dunia anak.

Cerita pendeknya memang tak hanya dalam bentuk buku. Beberapa di antaranya sempat dimuat media cetak ibu kota. Kebiasaannya membaca yang diperkenalkan ayahnya sejak kecil membentuk tulisannya sedemikian rupa. Bahkan, ketika kali pertama bukunya diterbitkan, sang penerbit tak bisa langsung percaya.

“Ini tulisan sudah jadi, tidak mungkin anak SD bisa buat ini,” ujar Marcapada menirukan kata-kata sang penerbit ketika itu.

Menurut Marcapada, Ramya berkenalan dengan buku sejak masih bayi. “Saya kasih buku, walaupun digigit-gigit tidak apa-apa,” ujarnya.

Ketika Ramya sudah bisa mendengar dan tertarik dengan cerita, setiap sebelum tidur, Marcapada dan istri berusaha mendongengkan sebuah cerita pengantar tidur. Cerita itu dikarang sendiri oleh Marcapada dan istri. Banyaknya cerita kadang membuat sang ayah lupa ketika ditagih untuk menceritakan kembali apa yang pernah didongengkan. “Saya sering lupa dengan cerita saya sendiri,” ujarnnya.

* Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi Rabu, 22 April 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan