-->

Suplemen Toggle

Pengembaraan Anak-anak Ruhani Pram

Oleh Editor

Anak-anak rohaninya
merayap hidup tak bertepi
cerca nista fitnah durhaka
hadir bak menawar harga

— Ben Bela, “Itulah Ia”, 9 Desember 1998

Bagi yang tak mengenalnya secara intens dan dekat, Pramoedya Ananta Toer memang terkesan sebagai pribadi yang dingin. Apalagi jika ditanyakan hal-ihwal perpustakaannya yang dibakar militer, sontak wajahnya yang tadinya sumringah akan memerah. Dan dari pita suara tuanya, keluar getaran yang terpatah-terpata. Serupa amarah yang tertahan sekian lama.

Atau bisa juga diartikan bahwa itu erangan yang tak sampai, tapi tetap ia pelihara dalam ingatan lalu dikeluhkannya kepada mereka yang hadir di depannya. Kapan pun, di mana pun. Itulah strategi Pram mengingatkan pembacanya sebuah episode di mana tempat persemaian anak-anak ruhaninya dijarah oleh tangan-tangan vandal.

Betapa pentingnya perpustakaan itu bagi Pram. Di sana bukan hanya mengendap buku koleksi-koleksinya yang dia bangun bertahun-tahun, tapi juga di sana ada keintiman dan serangkaian memori panjang tentang penciptaan. Pengarang adalah seorang pencipta. Pencipta semesta. Serupa betul dengan Tuhan. Jika Tuhan punya semesta, maka pengarang punya perpustakaan sebagai semesta persalinan.

Bagi Pram, karya-karyanya adalah anak-anak ruhaninya. Dan anak-anak itu dilahirkannya dalam perpustakaannya. Perpustakaan Pram tak hanya di rumah dalam pengertiannya secara harfiah, tapi juga dalam reruntuhan perang maupun comberan penjara (baca: Buku, Perang, dan Penjara). Di suasana perpustakaan yang demikianlah terekam dengan baik bagaimana persalinan itu terjadi. Bagaimana Pram dengan pertaruhan nyawa, erangan, sakit tak terkira, dan was-was melahirkan ratusan anak ruhani, baik yang terbit maupun yang masih berserak. Dan Pram sadar bahwa anak-anak ruhani itu berlain-lainan wataknya. Oleh sebab itu, Pram membagi cintanya.

“Tak ada yang buruk, tak ada yang bagus. Semuanya anak-anak ruhani saya. Saya perlakukan semuanya sama,” kata pram berkali-kali ketika berkali-kali orang-orang menanyakan yang manakah karya yang paling disukainya. Dan sebagai orang tua yang baik bagi anak-anaknya Pram selalu menjawabnya dengan diplomatis. “Semua karya saya punya sejarah hidup masing-masing.”

Pram hendak memastikan bahwa anak-anak ruhaninya ada yang lahir di rumah yang teduh, di medan perang, penjara, maupun kamp kerjapaksa. Maka dari itu wajar wataknya juga beda-beda. Ada yang bengal, keras kepala, sopan, romantik, militan, maupun datar-datar saja. Dan anak-anak ruhani yang berlain-lainan itu telah mengembara memutari hampir seluruh dunia.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan