-->

Lainnya Toggle

Pecahnya Kongsi Timah Guru-Murid

Oleh Muhidin M Dahlan

“Saya berduka cita membaca karangan Saudara dalam Bintang Timur. Bagaimana mungkin pengarang yang begitu penuh perkemanusiaan dalam Keluarga Gerilya dan Mereka yang Dilumpuhkan dunianya telah menjadi sempit demikian?” — Surat Jassin kepada Pram, 9 Agustus 1962

“Begitulah, ajaranmu tidak cocok dengan perbuatanmu. Aku masih ingat pada suatu tahun waktu kau terbalik dari sebuah becak. Ingat kau apa kataku? ‘Kau menderita bukan karena terbaliknya becak itu, tetapi kerubuhan dagingmu sendiri.’” — Surat Pram kepada Jassin, 28 Desember 1963

HB Jassin dan Pramoedya Ananta Toer adalah dua pribadi yang memiliki kekhasan dan ciri yang sama. Selain sastrawan, ciri yang menonjol pada keduanya adalah sama-sama dokumentator mumpuni. Kalau Jassin dokumentator hal-ihwal sastra, Pram dokumentator peristiwa-peristiwa yang melanda Indonesia beserta himpunan geografisnya.

Di lain sisi itu, dan hampir tak terekspos sama sekali, Jassin dan Pram pernah terlibat dalam kongsi usaha timah. Tak ada kabar yang meyakinkan bagaimana mula-mula keduanya terlibat dalam dunia yang sangat jauh dari rasa sastra atau tulis-menulis itu. Satu-satunya petunjuk adalah surat Pram kepada Jassin. Surat Pram tertanggal 16 Maret 1952 itu berbunyi: “Saudara Jassin, contoh timah saya ambil, karena ada yang butuh. Afschrift Samenstelling ………dari Bandung sebentar akan saya kirimkan bila sudah datang. Bagaimana kabar penawaran?”

Kurang lebih tiga pekan kemudian, Pram kembali menyurati Jassin ihwal pembagian honor timah. Baca surat Pram tanggal 8 April 1952: “Bersama ini saya kirimkan master timah intertyp. Harap bisa dipakai dan moga-moga sukses. Kalau tidak ada keberatan barangkali boleh juga sekalian ambil honorarium yg semalam saudara perlihatkan dan diserahkan kepada adik saya yang membawa surat ini. Timah ini bisa diambil Rp. 6.75 (minus comisi R0.25 per Kg untuk sdr).”

Kongsi usaha timah ini bisa kita baca dalam konteks bagaimana sehatnya hubungan Pram dan Jassin di awal-awalnya. Pram sendiri mengakui bahwa Jassin adalah seorang dewa adalah juga guru baginya. Pram ingat sekitar 1944 di zaman pendudukan Jepang. Saat itu usia Pram baru 19 tahun. Ia dan beberapa temannya silaturahmi ke rumah Jassin. Saat itu Pram merasa Jassin sudah setinggi dewa dan ia sendiri tak ubahnya seekor precil (kodok kecil) yang menguak-nguak meminta hujan. “Dalam hati aku berharap waktu itu hendaknya sang dewa punya ingatan untuk membaca tulisanku, untuk memuatnya dalam Pandji Pustaka… Bahkan seekor precil ini masih tetap tidak menyebabkan dewa itu menitahkan jatuhnya sang hujan. Sekarang aku menyadari betul betapa mahalnya ilmu dan pengetahuan di dalam masyarakat liberal.”

Satu setengah tahun kemudian, Pram kembali ke rumah Jassin setelah ceritanya, “Kemana”, diterbitkan Jassin dalam Pantja Raja. Sejak saat itu Pram punya utang budi kepada Jassin. Tak hanya itu, Pram juga diterima Jassin dengan ramah, setelah pertemuan sebelumnya Jassin terlihat sangat dingin yang dalam bahasa Pram: “Menanyai nama saja Jassin tak mau.”

Jassin lalu meminjamkan beberapa bukunya untuk Pram. Jassin juga anjurkan Pram untuk mempelajari psikologi dan belajar karyasastra dengan humanitas besar seperti dalam karya de Saint Exupéry.

Tahun-tahun berikutnya Pram memang diselimuti oleh pikiran humanisme yang dikembangkan Jassin. Dalam sebaris kalimat Pram, humanisme Jassin adalah kemanusiaan yang tidak berkelahi, kemanusiaan yang penuh cinta, baik pada pos dan kolega maupun dan terutama pada nabi-nabi. Betapa agungnya kemanusiaan tanpa musuh, betapa besarnya, melingkupi jagat semesta raya. “Betul, Jassin, kau merupakan sekolah menengah tentang kemanusiaan bila rumah asalku dapat kukatakan sekolah dasar.”

Dan Pram betul-betul mempraktikkan humanisme Jassin itu dalam kehidupan sehari-hari. Sepenuturan Pram, pada 1951 ia ulurkan bagian-bagian yang gemuk dari honorariumnya pada kawan-kawan yang melahirkan, kesulitan, kematian, meneruskan pelajaran. Beberapa kawan yang praktis hidup di kolong jembatan pun ia angkat dan dibawanya ke rumah, ia pelihara, ia modali, sampai akhirnya ia bangkrut sendiri.

Namun Pram begitu kaget ketika dalam kesulitan yang amat sangat ia hendak pinjam uang Jassin. Saat itu Jassin hanya tersenyum dari balik kacamatanya sambil menunduk. Sejak itu Pram pun disadarkan, bahwa kemanusiaan yang Jassin ajarkan kepadanya adalah kemanusiaan yang tak mampu memberi, karena memang tidak mempunyai sesuatu pun untuk diberikan terkecuali teori yang membuat muluk kemanusiaan itu, tapi tidak membuatnya jadi wajar dalam kehidupan yang wajar.

Tapi itu tak mengurangi rasa hormat Pram kepada Jassin. Jassin tetap guru dan sahabatnya. Maka pada halaman judul buku-bukunya, Pram selalu menulis: “Untuk Guru dan Sahabatku H.B. Jassin”. Pram saat itu masih kukuh membedakan antara “ajaran” dan “siapa yang mengajarkannya”. Bahkan dengan ajaran “humanisme universal” Jassin, Pram turut membenci kekasaran, dan melewati pers dan buku-buku yang mengabarkan “kebiadaban” komunis, Pram pun menjadi seorang anti-komunis.

Namun, dari perjalanan Pram yang keluar masuk penjara dan merasakan langsung bagaimana hidup sakit yang sesungguhnya, ia kemudian mengoreksi hubungan guru-murid itu. Pram menganggap bahwa Jassin adalah seorang yang hanya suka berteori dan kukuh mendirikan benteng baja bagi dirinya sendiri.

“Selama jam-jam bicara denganmu tak pernah aku dengar dari kau, sesuatu yang mencerminkan kesadaran akan ‘social-concience of man’ dalam kata-kata, dalam kalimat-kalimatmu. Aku mendapat kesan, baik sejak semula maupun sampai dewasa ini, kau adalah seorang yang dengan kehidupan bathin terkurung oleh perbentengan baja,” tulis Pram kepada Jassin.

Bagi Pram, “humanisme universal” yang diusung Jassin hanya bisa diresapi oleh segelintir orang, yang pada hakikatnya anti-rakyat. “Mengapa harus anti-rakyat? Ya, karena, karena bukankah mereka takkan mau memahami teorimu tentang manusia dan kemanusiaan, hanya karena mereka tidak mendapat keberuntungan mengenyam ajaranmu, hanya karena kemiskinan berabad? Kelak, tahun 1960, baru aku tahu dari suratmu bila terbaca olehmu aku menggunakan kata ‘Rakyat’ terkesan kembung olehmu. Orang Belanda bilang sudah ‘pluis’ dengan apa yang kusimpulkan dari ajaranmu di dalam penjara Bukitduri selama hampir 3 tahun itu. Apa boleh buat, intelektulitas dalam masyarakat liberal juga harus dibeli, dan barangsiapa tidak mampu membelinya adalah golongan Rakyat. Betapa kacau balaunya dunia bila tanggapan kita terhadap hidup dan dunia memang sudah kacau balau,” tulis Pram.

Hingga Pram pun menuliskan surat “perpisahan” seorang hamba kepada dewanya, dari seorang murid kepada gurunya. Surat itu ditulis Pram pada akhir 1963. Setelah membaca surat panjang itu, Jassin mengirim surat balasan bertanggal 14 Januari 1964: “Surat Saudara tanggal 28 Desember 1963 yang panjangnya 12 halaman telah saya baca dengan sabar dan tenang. saya berdoa semoga Saudara kembali waras dan penyakit Saudara tidak berlarut-larut hingga jiwa Saudara tidak tertolong lagi… selamat Tahun Baru buat seluruh keluarga.”

Dan sejarah memang menuliskan keduanya berada di dua kutub yang berlawanan, tegang, panas, dan saling mencakar, bersamaan dengan berkobar-kobarnya hubungan aktivis Lekra dan penandatangan Manifesto Kebudayaan.

Sejarah hubungan Pram dan Jassin pun lalu turut menjadi sejarah jelaga sastra Indonesia kala berbaur dengan politik.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan