-->

Kronik Toggle

Hari Sastra Nasional Diwacanakan

Perlu atau tidak adanya Hari Sastra Nasional menjadi wacana yang mengemuka pada acara Pesta Puisi yang diadakan di Balai Soedjatmoko Solo, Selasa (28/4). Pesta Puisi itu diselenggarakan untuk menandai peringatan meninggalnya penyair Chairil Anwar 60 tahun silam.

Penyair Raudal Tanjung Banua yang mengantar acara ”Ngobrol Bareng Sapardi Djoko Damono” mengemukakan perlunya kita memiliki Hari Sastra Nasional. Diakui, gagasan menjadikan 28 April sebagai Hari Sastra Nasional (HSN) pernah memunculkan pro-kontra. HSN, kata Raudal, bisa dijadikan momentum bagi berbagai kalangan untuk menggairahkan kehidupan sastra di Tanah Air.

”Hari Sastra Nasional bisa menjadi perayaan bagi para kreator sastra untuk terus berkarya,” ujarnya. Ditambahkan, dengan HSN, pemerintah terdorong untuk lebih memasyarakatkan sastra, antara lain menyebarluaskan buku-buku sastra di sekolah- sekolah. Untuk itu, penerbitan buku-buku sastra perlu disubsidi.

Raudal menilai, pemerintah berstandar ganda terhadap bidang budaya di Tanah Air. Di satu sisi pemerintah ingin agar masyarakat mengapresiasi sastra, tetapi tidak ada kebijakan yang mendukung ke sana, seperti pembebasan pajak kertas, pajak buku, serta keringanan pajak bagi penulis buku.

Dalam pandangan Sapardi Djoko Damono, HSN mungkin diperlukan, tetapi jangan menjadi kegiatan rutin. ”Kalau minta kepada pemerintah untuk menetapkan Hari Sastra Nasional, jangan sampai hanya menjadi kegiatan rutin, apalagi sekadar seremonial. Peringatan Hari Sastra Nasional diadakan kalau memang ada permasalahan yang perlu diangkat,” ujarnya.

Di bagian lain, Sapardi menekankan bahwa pendidikan sastra yang paling efektif adalah dengan menyodorkan sebanyak mungkin karya sastra kepada anak didik, bukan dengan teori sastra. ”Berikan mereka buku-buku sastra untuk dibaca, apa saja,” kata Sapardi, yang mengaku tidak khawatir akan kecenderungan remaja sekarang yang lebih suka membaca komik.

Menurut dia, kesalahan dalam pendidikan sastra, baik di sekolah maupun hingga perguruan tinggi, adalah terlalu banyak memberikan teori. Dalam kesempatan itu, Sapardi (69) meluncurkan buku antologi puisinya yang mutakhir, ”Kolam”.

[digunting dari Harian Kompas Edisi 29 April 2009]

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan