-->

Lainnya Toggle

Astuti Ananta Toer: “Mainan yang Diberi Pram Hanya Buku”

Oleh Muhidin M Dahlan

Astuti Ananta Toer adalah putri ketiga Pramoedya Ananta Toer. Pendiri Lentera Dipantara. Saat ini menjadi pengelola perpustakaan Pram di Bojong Gede, Bogor. Berikut kesaksiannya:

Pram pernah menulis dalam memoarnya bahwa Anda memang disiapkan Pram untuk menjadi penulis seperti dirinya. Bagaimana?

Saya rasa setiap anaknya sudah dipersiapkan untuk menjadi penulis. Cara Pram adalah dengan menyuruh membuat buku harian. Dan saya selalu melakukan. Dan selalu ia baca. Saya juga beberapa kali menulis cerita dan puisi yang saya kirim ke majalah anak-anak seperti Si Kuncung atau ke majalah di Malaysia dengan nama samaran. Saya pun pernah buat novel yang pada akhirnya saya robek-robek. Karena Ibu baca. Dan ia tak ingin anaknya seperti bapaknya. Mungkin trauma. Ibu bilang bahwa kalau saya menulis akan lebih parah akibatnya dari bapaknya. Di situlah saya beku menulis.

Selain disuruh menulis catatan harian, bagaimana lagi cara Pram mengajar menulis?

Sewaktu saya berumur 8 tahun saya sudah diajar mengetik. Mengetik koran-koran yang akan dikliping. Dari situ saya diajar bagaimana menyambung kalimat. Saya juga disuruh membaca buku-bukunya. Dan ya itu tadi membuat buku harian. Biasanya menulis buku harian itu begini: ‘saya makan, terus saya minum, terus saya jalan’. Kata Pram bagaimana “terus-terus”nya ini agak dikurangi dan diubah. Lalu Pram menunjukkan caranya. Jadi dia mengajar menulis dengan praktik.

Pram sering ngajak jalan-jalan sewaktu kecil?

Selalu. Selalu. Begini, saya itu kan tak boleh keluar rumah. Kalau saya ingin main dan berteman, PAT itu mengajak ke rumah-rumah kedutaan. Ia memberi tahu bahwa ini bisa diajak main ini tidak. Dan waktu itu cuma saya yang diajak karena sudah bisa bermain dan berteman, sementara yang lainnya masih kecil-kecil.

Pakai apa jalan-jalannya?

Vespa. Skuter.

Warna?

Biru. Eh, biru muda. Zaman dulu skuter kan warnanya biru. Cuma satu warna waktu itu.

Pada saat kapan saja Pram biasanya menulis?

Kalau pagi jam 9 dia selalu ada di depan mesin tik. Dan kalau hari minggu, dan melihat saya, saya selalu dicolekin dengan jarinya yang belepotan lem. Lem kliping. Saya ingat sekali, dari jaman dulu ia tak pernah lepas dari kliping. Kalau dulu itu kita bikin lemnya dari sagu. Kalau kita ngeliatin PAT belepotan dengan lem, pipi kita selalu dicolekin dengan lem.

Pernah tidak Pram menulis sampai terus-terusan, bahkan lupa waktu?

Mungkin. Saya nggak tahu persis. Tapi itu jarang tidur. Ia selalu menulis. Istirahatnya itu waktu tidur siang. Kalau malam, Pram tidur jam 9-10. Kemudian ia bangun jam 12 hanya untuk minum dan makan buah dan merokok lalu tidur lagi. Jam 2 ia pasti bangun. Menulis. Tapi karena nggak bisa menulis akhir-akhir ini maka jam segitu ia mengkliping. Kemudian ia tidur lagi dan bangun subuh untuk olahraga atau ke ladang. Begitu kebiasaannya. Kalau ia masih sehat dulu jam 4 pagi kita sudah mendengar suaranya.

Bagaimana kalau Pram mengetik. Cepat?

Cepat sekali. Sangat cepat. Dan biasanya sambil bersenandung dan berlagu. Dan kalau mengetik ia tak menunduk tapi dengan kepala tegak, dada membusung, dan pasti duduknya akan miring. Bisa dibayangkan seperti orang yang sedang menyalin teks dengan mata tak melihat ke tuts, melainkan mata semata membaca teks yang ditik. Selalu miring badannya kalau mengetik.

Pram pernah mengetik pakai komputer?

Pernah. Pernah diajarin. Begini, kalau di mesin ketik kan tangan itu kan selalu nempel di keyboard, sementara komputer kalau tangan terus di tuts kan bisa terketik panjang. Akhirnya sama Pram keyboard itu digebrak keras. Rusak itu keyboard. Tangannya udah keras soalnya. Kalau mesin tik itu kan disayang dan dipegang terus. Kalau komputer kan enggak, dilepas.

Pernah diajak ke Istana?

Waktu kecil iya. Bolak-balik ketemu Soekarno.

Bicara apa saja mereka kalau ketemu?

Banyak bercanda. Banyak ketawa.

Mencandai apa?
Karena masih kecil, jadi saya tak tahu. Yang saya tahu mereka ketawa-ketawa.

Dalam rangka apa Pram bolak-balik ke Soekarno?

Waktu itu Pram ingin buat biografi Soekarno. Saya kemudian paham bagaimana Pram itu lantang sekali bicara dan membela Soekarno karena ia memang tahu banyak dan dalam tentang siapa itu Soekarno dan posisinya. Dan setelah itu Pram tak melanjutkan lagi proyek penulisan biografi oleh sebab yang sebetulnya sepele. Tak perlu kamu tulis itu ya. (Astuti lalu menceritakan kisah ‘sepele’ itu yang memang membuat Pram tersinggung berat akibat ulah Soekarno yang jahil itu).

Sering juga diajak ke kantor Bintang Timoer sewaktu PAT bekerja sebagai redaktur di rubrik Lentera?

Saya beberapa kali memang diajak ke Bintang Timoer yang sekarang di seputar Jalan Djuanda itu. Batu Ceper. Sekarang ditempati Hongkong Shanghai Bakery. Kalau ke sana, saya pasti dibelikan buku cerita dulu dan juga diserahkan kertas. Dengan begitu ketika saya sibuk membaca dan mencoret-coret, Pram pun leluasa mengetik.

Kabarnya Anda sering didandani Pram seperti laki-laki.

Iya. Pram itu kan pingin punya anak laki-laki. Tapi nggak ada. Maka saya pun didandaninya seperti lelaki. Waktu tahun 60-an itu punya rambut pendek itu malu dan tak lazim. Tapi Pram berkeras memotong rambut saya jadi pendek seperti lelaki. Dan juga dipakaikan celana laki-laki. Celana yang saya pakai itu jahitan Pram sendiri yang diambil dengan cara memotong celananya sendiri. Hanya karena kepingin punya anak laki-laki, sampai saya digituin.

Apa yang paling Pram tak suka?

Membelikan anaknya mainan. Seumur-umur saya bersama Pram tak pernah dibelikan mainan. Saya juga kadang tak enak dan kadang pingin seperti anak-anak yang lain punya mainan. Saya juga dikasih mainan. Tapi mainan itu adalah buku. Pram bilang: “Ini mainan kamu.” Jadi selama hidup saya dengan Pram cuma baca buku saja karena tak punya mainan. Sekali waktu pernah saya minta mainan, tapi dibelikan mesin ketik. Akhirnya dengan ‘mainan’ itu saya bisa ngetik pada usia 9 tahun. Dan itu membantu dia untuk ke percetakan.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan